Usung 27 Oktober Hari Kebangkitan Sambas

Usung 27 Oktober Hari Kebangkitan Sambas

  Rabu, 28 Oktober 2015 13:32
TEATRIKAL: Teatrikal mengusung sejarah hari kebangkitan Sambas, dengan ‎mengusung sejarah lokal Gerakan 27 Oktober 1945 sebagai Hari Kebangkitan Sambas di Auditorium IAIS, Selasa (27/10). HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

SAMBAS – Sejumlah elemen pemuda di Kabupaten Sambas menggelar seminar kajian mengusung tanggal 27 Oktober 1945 sebagai hari sejarah bagi kebangkitan Sambas. Seminar tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun ini. Adalah mahasiswa dari Institut Agama Islam SM Tsafioeddin (IAIS) Sambas, tepatnya dari Fakultas Adab dan Ushuludin, menggelar Silaturahmi Mengusung Sejarah Lokal Gerakan 27 Oktober 1945 sebagai Hari Kebangkitan Sambas di Auditorium IAIS, Selasa (27/10). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Sambas Pabali Musa, Ketua MABM Kabupaten Sambas Burhanuddin A Rasyid, Ketua DPRD Kabupaten Sambas Arifidiar, para veteran RI di Kabupaten Sambas, pejuang Safani, serta beberapa tokoh budaya Sambas seperti Darwis dan Abdul Muin. 

Wakil Bupati (Wabup) Sambas Pabali Musa menyambut baik pertemuan tersebut. Bahkan dia berharap agar momentum tersebut jangan hanya menjadi seremonial belaka. “Ada hal yang penting yang harus kita lakukan bersama-sama, yakni lanjutkan kajian sejarahnya, agar ke depan terjadi elaborasi yang lebih dalam lagi,” ujar Wabup.  Diungkapkan dia bahwa Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Sambas sudah membuka langkah awal agar peristiwa sejarah, terutama yang erat kaitannya dengan sejarah perjuangan dan pembangunan Bumi Terpikat Terigas, terakomodir menjadi catatan sejarah resmi. “Masih banyak yang harus kita kerjakan bersama-sama, minimal bagaimana agar para pejuang-pejuang dan ahli waris yang belum tercatat dalam dokumen resmi, bisa terakomodir dan terdata dengan baik. "Dengan kegiatan seperti ini, bisa menjadi titik awal kita mewujudkan hal itu," sebut dia. 

Para pelaku sejarah dan perjuangan dari Kabupaten Sambas menurut Wabup sebenarnya lebih banyak lagi dari yang sudah terdata tersebut. Namun untuk merangkum semua, dia tak memungkiri, memerlukan pengkajian yang mendalam oleh sebuah lembaga yang memiliki legalitas. Diakui dia juga jika para pejuang dan pelaku sejarah tersebut banyak berperan dalam mewujudkan kemerdekaan dan pembangunan rakyat Sambas. “Itu yang harus kita jangkau, para mahasiswa maupun para dosennya. Tentunya ini adalah peluang meningkatkan ilmu pengetahuan sejarah kita. Pemerintah daerah juga berperan nantinya pada pemberian gelar daerah, tetapi itu harus melalui kajian penelitian secara ilmiah, jadi tidak hanya sekadar mengkaji sejarah, tetapi sangat membantu dalam mengkaji pelaku sejarah,” gugah dia. 

Harapan Wabup, kajian sejarah perjuangan dan pembangunan Sambas, terutama yang digelorakan pada 27 Oktober 1945, dapat diakui secara nasional. Dijelaskan Wabup, mengkaji atau mempelajari sejarah, dalam ajaran Islam pun telah diperintahkan dalam Alquran.. "Banyak manfaat dari mempelajari sejarah, yakni orang yang mempelajari punya karakteristik kreatif, terdidik, dan inspiratif," tutur akademisi tersebut. 

Rustam Effendi, salah satu ahli waris pejuang Sambas, dalam sambutannya yang cukup provokatif, mengajak generasi muda bangga atas perjuangan para pahlawan atau pejuang, baik yang ada di daerah maupun pejuang nasional. Pertemuan yang digelar mahasiswa IAIS tersebut, bagi dia, sebagai nuansa untuk generasi penerus bahwa perjuangan tidak bisa dinilai atau dihargai dengan bentuk apapun. Tetapi, dia menambahkan, adalah semangat patriotisme, serta rela berkorban tanpa pamrih yang harus melekat pada generasi muda sekarang ini. “Masih banyak veteran perang yang berkontribusi dalam peristiwa gelora perjuangan kemerdekaan di Sambas ini. Saya sangat mengharapkan momentum pertemuan ini nanti menjadi titik awal agar ke depan dilakukan kajian yang lebih serius lagi, yang bisa memiliki data valid terkait para pejuang yang telah berkontribusi nyata," ungkap dia. 

Pria yang akrab disapa Pak Usu itu juga mengajak generasi muda agar bangga menjadi ahli waris pejuang. Mereka juga diajak bangga untuk menjadi generasi penerus yang memiliki pejuang lokal yang tidak kalah heroiknya dengan daerah lain.Hal senada juga dituturkan ketua DPRD Kabupaten Sambas, Arifidiar. Dalam pernyataannya, dia meminta agar semangat mengkaji peristiwa 27 Oktober 1945, bisa menjadi semangat membangun daerah ini. "Saya juga sependapat, momentum ini bisa kita jadikan semangat untuk kita sebagai generasi muda terus membangun Sambas, daerah yang punya sejarah tinggi," tegasnya. 

Bupati Sambas periode 2001 – 2011, Burhanuddin A Rasyid, mengapresiasi masih adanya lembaga yang memberi perhatian pada peristiwa sejarah di Kabupaten Sambas. Ditegaskan dia, harus ada lembaga atau perorangan yang memiliki legalitas dalam penulisan sejarah, agar sejarah tidak hanya sebatas omongan.  “Saya memberi apresiasi terhadap pertemuan ini, dan harus dilanjutkan dengan langkah dan upaya nyata. Jadi nantinya sejarah itu tidak hanya katanya-katanya,” pesan sosok yang karib disapa Bang De tersebut. 

Ketua MABM Kabupaten Sambas ini juga mencontohkan bagaimana kronologis pendirian IAIS yang berpatokan pada sejarah peradaban Islam pada masa Kesultanan Sambas dulu. Diungkapkan dia, semangat pendirian perguruan tinggi yang awalnya bernama STIT Sambas ini lebih dikarenakan keinginan mengembalikan kejayaan Islam di masa dulu, sehingga bisa terwujud dimasa sekarang ini. Dia berharap, dengan digelorakannya semangat mengusung 27 Oktober 1945 sebagai Hari Kebangkitan Sambas, bisa memotivasi generasi muda perduli dengan sejarah bangsanya, dan memiliki semangat membangun negeri ini.‎ (har)