Usaha Sedap Angkringan Nasi Kucing

Usaha Sedap Angkringan Nasi Kucing

  Sabtu, 12 December 2015 09:01

Berita Terkait

Kuliner tampaknya masih menjadi bisnis yang menjanjikan untuk dikembangkan di Kota Pontianak. Salah satunya adalah usaha warung angkringan yang jumlahnya masih sedikit. Banyaknya perantau dari Jawa di Kalbar, mendukung berkembangnya usaha ini.  Oleh : Marsita Riandini

Angkringan merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti alat atau tempat jualan makanan keliling yang dipikul berbentuk melengkung. Namun banyak pula yang menjualnya menetap di satu ruko atau warung. Kalau Anda pernah berliburan ke Jogjakarta, atau malah pernah menetap di sana, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya angkringan.  Angkringan hampir selalu ada di setiap sudut kota. Makanan yang terkenal murah meriah ini pun cocok dikembangkan di kota pelajar itu. Lalu bagaimana di Kota Pontianak?

Di beberapa titik, Anda sudah bisa menemui tempat-tempat menyajikan makanan ala angkringan. Ada berbagai makanan yang bisa dicicipi. Menu khasnya adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Ada pula yang  menambahkan bungkusan koran setelah daun pisang itu. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau.

Bila berjalan di jalan Uray Bawadi, Anda bisa menjumpai salah satu tempat yang menyajikan menu-menu yang satu ini. Meskipun belum begitu familiar di Pontianak, tetapi respon masyarakat untuk usaha kuliner ini cukup menjanjikan. Terbukti Angkringan Mas Pri ini sudah berjalan hampir satu tahun. “Angkringan ini sebenarnya cabang kedua. Kami ada tiga cabang, ada di Ampera dan di Sepakat,” papar Agus Triono (30 th), pengelola Angkringan Mas Pri.

Dalam sehari, makanan yang terjual tidak menentu. Tetapi kata dia, untuk nasinya bisa membutuhkan 15 kilogram beras. “Kadang ramai, ya ramai. Kadang kalau musim hujan, ya sepi. Tapi sesepi sepinya tetap ada yang beli. Paling ramai itu malam, terutama malam minggu,” jelasnya. Ada berbagai menu yang dijual, seperti sate, telor puyuh, usus, hati ayam, kepala ayam, tongkeng ayam, kaki ayam, tempe dan tahu bacem, hingga gorengan. Kisaran harga dari  2000 hingga  4000 rupiah. “Sate itu 2000 rupiah, telur puyuh 4000 rupiah, usus 2000 rupiah. Nasinya 3000 rupiah perbungkus,” katanya.

Tersedia pula air jahe, dan ini sangat pas jika dinikmati di suasana malam yang dingin. Apalagi rata-rata pengunjung yang datang memilih duduk di luar beratapkan langit saja. “Paling suka sih duduk diluar, tapi kami juga menyediakan tempat di dalam,” papar dia.

Tak sulit bagi dirinya mengenalkan makanan khas jawa ini. Apalagi lokasi tempatnya berjualan dikenal pula dengan nama jalan Jawa. Penduduk Jawa ramai yang mendiami wilayah itu. “Tapi tidak melulu orang Jawa yang beli. Malah ada Tionghoa, Melayu dan ragam etnis lainnya suka beli disini.  Karena harganya murah meriah, mahasiswa juga suka singgah,” ulasnya.

Tak ada kendala berarti dalam usaha ini. Hanya saja kata dia, membutuhkan ketahanan mata saja saat melayani pelanggan.  Sebab warung angkringan ini dibuka dari pukul empat sore hingga tengah malam. Bahkan di malam minggu bisa sampai subuh. “Kalau malam minggu biasanya kami sampai jam 4 subuh,” tambahnya.

Proses penyajiannya,  seperti angkringan pada umumnya, yakni makanan diletakkan di gerobak. Pengunjung bisa datang memilih langsung sajian makanan yang disukainya. Piring yang digunakan juga menggunakan rotan. Tempat duduknya dibuat dari kursi dan meja kayu dengan model sederhana, sehingga suasana tradisionalnya tetap terjaga. **

 

Berita Terkait