Urgensi Menumbuhkan Semangat Nasionalisme Kepada Anak Remaja Dalam Presfektif Islam

Urgensi Menumbuhkan Semangat Nasionalisme Kepada Anak Remaja Dalam Presfektif Islam

  Minggu, 14 Agustus 2016 10:21   1

Penulis: Mahrozi

MASA depan bangsa Indonesia terancam suram akibat rendahnya rasa nasionalisme di kalangan anak remaja. Kian tahun, momentum peringatan hari kemerdekaan Indonesia yakni 17 agustus yang menjadi awal lahirnya nasionalisme dikalangan remaja  semakin diabaikan. Hanya sedikit kaum muda yang peduli , bahkan itu pun lebih bersifat ceremonial saja. Rasa kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme telah tergusur oleh budaya hura-hura yang menyesatkan.. Pemuda maupun remaja seharusnya menjadi pelopor dalam membangun semangat perjuangan, tetapi justru kenyataannya kini justru jatuh ke jurang materialisme yang tak terkontrol.

Pada peringatan hari-hari besar nasional, seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak dirayakan seperti sebelum-sebelumnya. Padahal jika kita masih mencintai bangsa ini, kita harus merayakan Hari Kemerdekaan sebagaimana kita merayakan Ulang Tahun kita sendiri. Kenapa Perayaan ulang tahun sendiri dapat kita laksanakan dengan sangat meriah dan kenapa Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa dirayakan secara demikian?

Lebih tertariknya generasi muda Indonesia terhadap produk dan kebudayaan luar Indonesia dibandingkan dengan produk dan kebudayaannya sendiri. Rasa nasionalisme di kalangan anak remaja sebagai generasi muda pada saat ini hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong, seperti kasus pengklaiman beberapa kebudayan Indonesia oleh Malaysia beberapa waktu yang lalu. Namun seiring dengan hilangnya berita tersebut, rasa nasionalisme para generasi muda pun kembali memudar.

Padahal, sudah jelas tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat tentang tujuan dan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang berbunyi, “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan keteriban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social…”. Tapi bagaimana cara kita untuk dapat mencapai tujuan tersebut apabila rasa nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia semakin memudar?

Kondisi seperti ini sangat memprihatikan. Karena itulah, penulis termotivasi untuk menyusun opini ini, sebagai upaya menumbuhkan kembali rasa nasionalisme khususnya pada anak remaja sebagai generasi muda.

Nasionalisme dalam Prespektif Islam

Berdasarkan data yang tersedia, harus selalu ditegaslkan sejak dini bahwa islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya, tidak pula dalam ruang sunyi yang jauh dari keramaian suasana kota. Islam lahir dan berkembang dalam iklim komersial Quraisy yang ganas, panas dan urban sifatnya. Islam lahir bukan dalam suasana pedesaan yang sunyi yang serba statis di lingkungan suku Baduwi. Setelah Nabi Saw. Menerima wahyu pertama di Gua Hira pada tahun 610, beliau tidak lagi berkunjung kesana untuk selamanya, tetapi langsung terjun ke tengah masyarakat yang sudah sekian lama didera dan diimpit oleh ketidakadilan dan diskrimanasi. Pertama, Nabi bergerak di lingkungan terdekat, kemudian secara berangsur ke tengah public. Sebagai agama sejarah, Islam telah, sedang dan akan terus berinteraksi dan bergumul dengan lingkungan yang berubah sebagai buah dari perubahan sosial yang tidak mengenal henti, dengan tujuan untuk mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan.

Dalam Islam, dikenal beberapa terminologi yang mendekati konsep kebangsaan. Yaitu: Ummah, sya’b, qawm

Ummah

Ummah yang di Indonesiakan menjadi ummat, dalam kamus besar bahasa Indonesia, diartikan sebagai para penganut atau pengikut suatu agama dan makhluk manusia. Kata Ummat diambil dari kata “amma yaummu” Ibn Khaldun (1332-1406 M) menganalisis terma tersebut dengan pendekatan sosiologis. Dia mengartikulasikan bahwa ummah memiliki kandungan makna yang berhubungan erat dengan konsep group, people (rakyat) atau ras.

Sya’b

Sya’b dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang besar, yang memiliki tradisi atau, berinteraksi satu dengan yang lain untuk saling mengenal, dan menggunakan  bahasa  tertentu  yang  membedakan  dari  kelompok  sosial lainnya. Menurut Ali Nurdin, dalam kajian sosiologis sya’b dapat disamakan dengan kelompok sosial khususnya yang diikat oleh kebudayaan yang sama. 

Qawm

Qawm yang akar katanya terdiri dari qaf, wau, dan mim memiliki makna dasar, yaitu “kelompok manusia” dan “berdiri tegak atau tekad”. Al-Ragib Al- Asfihani  menjelaskan  bahwa  kata  qawm  seakar  kata  dengan  kata  qama- yaqumu-qiaman yang berarti berdiri. Kata itu juga bisa berarti memelihara sesuatu agar tetap ada, misalnya qiam al-shalat 

Selaras  dengan  pengertian di  atas,  Ali  Syariati  mengartikan bahwa  qawn merupakan tipe masyarakat yang kehidupannya dibangun atas dasar penyelenggaraan fungsi-fungsi secara bersama-sama antara individu-individu. Artinya individu-individu yang menjadi anggota qawm itu adalah sekelompok orang  yang  menghuni  suatu  wilayah  tertentu  dan  secara  bersama-sama melaksanakan tugas-tugas mereka. 

Betapa pentingnya menumbuhkan semangat nasionalisme terhadap anak remaja sehingga dalam agama Islam pun sangat memperhatikan hal tersebut, meilhat masalah-masalah yang muncul saat ini dari kalangan anak remaja sampai masyarakat umum mengenai kecintaan terhadap bangsa Indonesia, sehingga keurgensian penanaman semangat nasionalisme sangat bernilai penting karena berdampak terhadap masa depan bangsa itu sendiri. **

penulis: pemerhati masalah kemasyarakatan