Urgensi Menasehati Siswa

Urgensi Menasehati Siswa

  Rabu, 13 September 2017 09:03   245

Oleh: Nurhayati, S.Pd.

GURU merupakan sosok manusia yang sangat berpengaruh terhadap masa depan dan karir peserta didik. Guru yang dengan penuh keikhlasan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, akan menghasilkan para generasi penerus yang hebat dan berkualitas. Selain dari aspek keilmuan yang diberikan, hal yang tidak kalah penting adalah pemberian nasehat-nasehat sang guru ketika berhadapan dengan siswa pada saat di sekolah. Dalam interaksinya dengan siswa, guru akan selalu memberikan nasehat-nasehat yang sangat bermanfaat bagi masa depan mereka.

Namun demikian, tidak sedikit dari para siswa yang kurang menyadari akan pentingnya nasehat-nasehat dari guru-gurunya. Jangankan nasehat yang sangat berbobot, nasehat yang menurut kita biasa saja dan semua orang dapat menerimanya, siswa masih mengabaikannya. Padahal sesuatu yang simpel dan sederhana pun harus tetap didengarkan, karena bisa jadi ada sesuatu yang luar biasa di balik itu semua.

Berikut ini penulis mencoba menginventarisir beberapa nasehat guru bijak yang barangkali juga pernah diucapkan oleh para guru di negeri ini. Mungkin sekilas nampak sederhana, namun akan sangat bermakna bagi masa depan anak didik kita, insya Allah:

Pertama, “Kamu Jangan Telat Masuk Kelas Lagi!”

Ucapan tersebut adalah sesuatu yang selalu terlontar dari mulut seorang guru, intensitasnya pun bukan 1 atau 2 kali, tapi bisa jadi setiap hari. Keseringan mendengarkan ucapan-ucapan seperti ini, menjadikan siswa terbiasa dan terkadang mengaggap remeh nasehat guru tersebut. Tidak sedikit siswa yang pada akhirnya menganggap ucapan gurunya tersebut seperti angin yang lewat dan tidak penting untuk didengar. Tapi di balik itu semua, ungkapan seperti ini memiliki sesuatu yang sangat urgen dan bermanfaat bagi siswa di masa depan. Apa itu? Kedisiplinan.

Guru menyuruh siswa untuk tidak telat masuk kelas terkandung suatu nasehat kedisiplinan bagi anak didiknya. Jika mereka sadar akan pentingnya hal ini, mereka akan berusaha melakukan apa yang dinasehatkan gurunya tersebut. Coba bayangkan, jika sekiranya seorang siswa yang telah lulus dan kebetulan sudah mendapat pekerjaan telat masuk kantor? Ini adalah sesuatu yang lucu. Kebiasaan saat sekolah dibawa-bawa ke pekerjaan. Syukur kalau di sekolah, misalkan telat pun pasti dinasehati tapi kalau di dunia kerja bisa jadi langsung dimarahi atau mungkin dikeluarkan dari pekerjaan alias DIPECAT.

Kedua, “Jangan menyerah, kalian pasti bisa mengerjakan soal seperti ini!”

Ungkapan seperti ini sering dilontarkan dari mulut sang guru saat berada di kelas. Biasanya ungkapan seperti ini keluar ketika seorang guru melihat anak didiknya yang merasa frustasi ketika dihadapkan dengan soal yang tergolong rumit. Guru merupakan orang terdidik dan memiliki keprofesionalan dalam pembelajaran, mereka akan tahu bahwa soal yang diberikannya masih bisa dicerna oleh para siswanya. Namun demikian, siswa terkadang beranggapan gurunya telah salah. Sang guru dianggap telah memberikan sesuatu di luar batas kemampuannya, yang pada akhirnya siswa hanya terdiam dan senyum-senyum ketika disuruh mengerjakan soal.

Perilaku yang ditunjukkan oleh siswa seperti ini adalah sesuatu yang keliru dan akan sangat fatal terhadap kepribadiannya kelak. Mereka akan cenderung menjadi manusia bertipikal mudah menyerah dan lemah. Mereka akan jatuh seketika dalam keterpurukan jika dihadapkan dengan sesuatu yang dianggapnya sulit. Dengan kata lain ia tidak berani menerima tantangan.

Mari kita berandai-andai, jika siswa bertipe seperti ini menjadi seorang pebisnis di masa depannya. Apa yang akan terjadi jika dia mengalami kemerosotan dalam bisnisnya? Apa yang terjadi jika dia gagal dalam merintis bisnis “pertamanya”? Anda bisa jawab sendiri.

Ketiga, “Kerjakan secara berkelompok, jangan hanya si A!”

Secara tidak langsung pada saat seorang guru menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas secara berkelompok, itu mengindikasikan bahwa guru sedang mengajari siswanya untuk bekerja sama dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan. Namun pada kenyataannya, nasehat dan instruksi dari sang guru sering diabaikan. Para siswa pun lantas tidak melakukan seperti apa yang gurunya katakan. Siswa masih terbiasa mengandalkan satu anak yang dianggapnya paling pintar untuk mengerjakan suatu tugas yang pada dasarnya harus dikerjakan secara berkelompok. 

Permasalahan ini menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Siswa yang membiasakan sifat seperti ini akan berimbas pada perilakunya di masa yang akan datang, khususnya lagi di lingkungan sosial dan lingkungan kerja. Pada saat mereka sudah dewasa, dan memasuki suatu instansi tertentu yang di dalamnya menuntut para stafnya untuk bekerja sama antara satu dengan lainnya. Maka mereka akan merasa canggung dan tidak bisa melakukan kerja dengan maksimal. Hanya dengan mengandalkan satu orang saja, sedangkan dia sendiri menjadi penonton dan berpangku tangan.

Keempat, “Jangan Mencontek pada Saat Ulangan!”

Nasehat ini jelas bukan hal yang asing di kalangan para siswa. Guru akan selalu mengingatkan siswanya untuk tidak mencontek pada saat ulangan. Namun demikian, siswa masih saja mencontek meskipun sudah dinasehati beberapa kali. Sungguh sangat miris jika kita melihat realita yang ada. Padahal guru menasehati siswanya untuk tidak mencontek adalah agar siswanya bisa terbiasa menanamkan sikap jujur.

Di dunia kerja orang yang jujur akan menjadi sosok manusia yang dipercaya, tidak hanya sebagai seorang rekan kerja akan tetapi sebagai sosok yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin bagi mereka. Tapi sebaliknya, orang yang sudah terbiasa untuk tidak jujur dalam kehidupan sehari-harinya maka hanya akan menghasilkan sebuah penderitaan yang menyakitkan. Dia akan dijauhi dan tidak dipercaya oleh rekan-rekannya.

Itulah empat nasehat guru bijak yang terdengar biasa saja namun memiliki makna yang sangat bermanfaat bagi masa depan para siswa. Barangkali semua guru pernah mengucapkannya kepada siswa-siswanya. Bagi para guru, Anda pasti memiliki nasehat tersendiri yang biasa disampaikan kepada siswanya. Jangan berhenti memberikan nasehat kepada mereka, sebab satu hari nanti ia akan selalu ingat nasehat dari gurunya. Mari kita menjadi guru yang baik dan berkualitas, sehingga bisa bermanfaat bagi siswa-siswa kita. Guru yang selalu memberikan nasehat kepada para siswanya akan selalu menggunakan hatinya, bukan emosinya. “The best teachers teach from the heart.” Semoga …!

*) Guru SMP Negeri 3 Tekarang, Kabupaten Sambas