Urgensi Keteladanan Seorang Guru kepada Muridnya

Urgensi Keteladanan Seorang Guru kepada Muridnya

  Senin, 8 February 2016 09:54   4,518

Oleh: Sahniar, S.Pd. *)

SOSOK seorang guru dalam dunia pendidikan bukanlah sekedar unsur pelengkap, melainkan salah satu unsur utama. Oleh karenanya, eksistensi guru masih selalu diperlukan bahkan sangat diperlukan. Namun, seiring berjalannya waktu, seolah-olah ada sebuah pergeseran nilai mengenai eksistensi guru di dunia pendidikan. Hal ini ditandai dengan menipisnya makna guru sebagai pekerjaan profesi yang dikenal dengan istilah digugu dan ditiru. Ucapan seorang guru, baik dalam menyampaikan materi ataupun ketika memberikan nasehat, adalah suatu hal yang selalu dinanti oleh para siswa yang haus akan nasehat yang bermakna nan mengandung nilai edukatif, bukan masuk dari telinga kanan keluar di telinga kiri.

Guru dalam persepsi siswa tidak dipandang sebagai sosok yang harus diikuti atau dalam istilah Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 21, uswatun hasanah (teladan yang baik). Kendatipun ayat tersebut ditujukan kepada diri Rasulullah Saw., namun keteladanan juga bisa tercermin dari sosok seorang guru, paling tidak di lingkungan sekolah bagi para siswa. Seiring perkembangan zaman dan pergeseran waktu, timbul sebuah kekhawatiran akan terjadinya pergeseran nilai dan hilangnya identitas guru di hadapan peserta didik akibat dari oknum guru itu sendiri, seperti guru yang sering tidak masuk, tidak disiplin, sering terlambat, pak guru yang berambut gondrong atau bu guru dengan make-up yang berlebihan (baca: menor) dan seterusnya. Tentu saja perilaku seperti itu tidak mencerminkan keteladanan seorang guru.

Menyikapi hal tersebut, kalau kita membicarakan keberadaan dan kredibilitas seorang guru dalam dunia pendidikan, berarti guru memiliki nilai strategis dan urgen dalam hidup ini. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wina Sanjaya (2006) bahwa guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ‘ideal’. Betapa tidak, dari ujung rambut sampai ujung kaki sang guru menjadi sorotan para siswanya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Tentu saja sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal kompetensi).

Berkenaan dengan hal di atas, tutur kata melalui metode ceramah dalam proses pendidikan merupakan metode yang cukup dominan digunakan oleh guru saat ini. Sehingga, ada kesan jika tidak ada ceramah atau nasihat, maka dapat dikatakan proses belajar mengajar tidak ada. Sebenarnya, jika berbicara metode dalam mendidik siswa sangat banyak, namun ada hal yang paling penting untuk kita kaji saat ini yaitu mendidik siswa dengan keteladanan. Keteladanan (uswatun hasanah) adalah metode mendidik dengan memberikan contoh yang baik kepada peserta didik.

Pertanyaannya adalah mengapa keteladanan dewasa ini begitu penting? Jawabannya cukup sederhana, bahwa mendidik bukan sekedar transfer of knowledge, melainkan lebih jauh dari itu, mendidik adalah proses pembentukan manusia seutuhnya melalui transfer of knowledge dan transformasi moral, yang dalam bahasa agama Islam pembentukan akhlakul karimah sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

 

Keteladanan dan Transformasi Moral

Jika kita menilik perjalanan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw., baik pada periode Makkah maupun periode Madinah, maka kita akan menemukan metode dakwah beliau dalam mendidik ummat melalui keteladanan. Menurut Ahmad Tafsir (2007) dalam buku “Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam”, pribadi Rasul itu adalah interpretasi Al-Quran secara nyata. Tidak hanya caranya beribadah, tetapi cara beliau menjalani kehidupan sehari-haripun kebanyakan merupakan contoh berkehidupan yang Islami.

Keteladanan Rasulullah Saw. dalam mendidik ummat pada saat itu mengisyaratkan kepada ummat Islam (dalam hal ini guru) agar mendidik tidak hanya pandai dalam berbicara dan memberikan nasihat kepada anak didik, tetapi juga harus tampil di depan mereka memberikan contoh (teladan) yang baik secara langsung. Jika tidak, Allah SWT. sangat membenci hamba-Nya yang hanya pandai berbicara tanpa ada aksi nyata, sebagaimana firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Allah sangat membenci kalian yang hanya mengatakan sesuatu yang tidak pernah kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).

Keteladanan dalam mendidik ini sangat penting sebagaimana gambaran di atas bahwa saat ini ada gejala menipisnya kredibilitas pendidik di mata siswa. Secara gradual (berangsur-angsur), sosok guru bukan lagi sosok yang harus digugu dan ditiru, bahkan para siswa lebih bangga mengidolakan artis sinetron daripada orang yang selama ini berupaya mencerdaskan dirinya. Buktinya, tidak sedikit siswa yang berpenampilan seperti artis idolanya, bahkan cara bicaranyapun ikut-ikutan latah sebagaimana yang terucap dari bibir sang artis, dan yang lebih parah lagi adalah gaya hidup seorang siswa berlagak seperti artis yang penuh dengan kemewahan dan glamour.

Nah, dalam proses mendidik, guru harus menjadi sosok yang dapat menjadi panutan bagi siswanya. Uswatun hasanah (teladan yang baik) secara sederhana dapat dilakukan dengan bertutur kata yang baik kepada siswa, datang ke sekolah tepat waktu dan disiplin, penampilan yang rapi dan menarik, sikap yang ramah, memberikan pujian dan kritik kepada siswa yang konstruktif, peka dan respek serta berupaya membantu permasalahan yang dihadapi anak didik dan sebagainya. Untuk itu, dalam mengemban ‘misi suci’ sebagai guru, keteladan melalui ucapan, sikap, dan perbuatan merupakan sebuah keniscayaan. Keberhasilan dalam mendidik siswa tidak hanya diukur oleh nilai berupa angka tetapi keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai moral kepada siswa-siswanya.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita renungkan beberapa baris sajak yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte dalam Jalaluddin Rakhmat (1996) dalam buku “Psikologi Komunikasi”: ”Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.”

Dengan demikian, keteladanan seorang guru bagi para siswanya merupakan suatu keniscayaan. Sehingga guru sebagai sosok digugu dan ditiru akan selalu menjadi semboyan yang melekat pada setiap guru di negeri ini. Semoga! Hidup … Guru …!

*) Penulis adalah Guru SMP Negeri 7 Tebas, Kabupaten Sambas.