Uranium

Uranium

Sabtu, 12 December 2015 10:43   2,362

KEBERADAAN uranium juga membuat Kalimantan Barat berbeda dari provinsi lain.  Agus Sumaryanto dari BATAN (2013) dalam pertamuan Tenaga Nuklir Internasional di  Santiago, Cili, melaporkan bahwa pada tahun 2013 ada eksplorasi uranium di Sektor Lemajung dan Lembah Hitam Sector, Kalan, Kabupaten Melawi. Darmawan dari BATAN dalam pertemuan teknis tentang uranium kadar rendah di Vienna (2010) menjelaskan eksplorasi uranium kadar rendah, 0.08-0.23%,  di sektor Eko-Remaja, Desa Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawai  (Lihat juga Soedyartomo Soentono  dari BATAN, 2007).

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, 2010, menyatakan bahwa keberadaan tambang uranium di Kalimantan Barat dapat dipergunakan sebagai bahan bahun Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Diharapkan dengan pemabungan PLTN di Kalimantan Barat dapat membantu mengatasi krisis energi listrik di Pulau Kalimantan. Disebutkan juga bahwa biaya pembangunan PLTN Kalimantan mungkin lebih murah dibandingkan jika dibangun di daerah lain karena wilayah Kalimantan bebas gempa.

Salah seorang anggota Komisi VII DPR, Tjatur Sapto Edy, dalam kunjungan kerjanya ke Desa Kalan, 2006, menyatakan ia yakin bahwa pada tahun 2016 akan ‘go nuclear’. Ia juga menyebutkan bahwa kita memerlukan data uranium di Melawi yang akurat dan berharap BATAN yang melakukannya. Pernyataan itu diamini oleh Karyono H.S. yang mengatakan bahwa BATAN telah siap melakukannya, tetapi yang diperlukan sekarang ini adalah biaya. BATAN hanya eksekutor, rencana anggaran ada di pemerintah dan atas persetujuan DPR. 

Carolyn Taylor, Yana Feldman, Charles Mahaffey, Brett Marvin, dan Jack Boureston, 2004, memperkirakan Indonesia dapat memprodukdi sekitar 700 ton uranium per tahun. Pada waktu itu sudah ada dua penambangan uranium di Kalimantan Barat, yaitu: sektor Remaja-hitam dengan kadar 0.10-0.30 dan Edo-remaja, Desa Kalan, Kecamatan Ella. Ia menyarakankan agar ditelaah nilai ekonominya jika akan dibangun PLTN di Kalimantan Barat.

“2007 Survey of Energy Resources: Uranium – Indonesia” yang diterbitkan oleh  World Energy Council,  2007, menyajikan sejarah singkat eksplorasi uranium di Indonesia. Penelitian uranium pertama kali dikembangkan oleh BATAN pada tahun 1960-an. Mulai tahun 1996 penelitian difokuskan ke sekitar desa Kalan, Kecamatan Ella, Kabupaten Melawi. Diperkirakan deposit uranium di wilayah ini sekitar 12. 481 ton.

Dorothy Kosich di Mineweb, 2010, berdasarkan sumber resmi dari BATAN kandungan uranium di Indonesia sekitar 53.000 ton. Cadangan sebesar ini dapat digunakan sebagai bahan baku PLTN  1.000 MW selama 145 tahun. Diperkirakan 29.000 ton di antaranya terdapat di Kalimantan Barat dan sisanya di Bangka Belitung.

Kepala Bidang Eksplorasi Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, BATAN,  Dr Ngadenin Hadisuwito, Jumat 15 Agustus 2014, di Pontianak menyatakan, "Hingga Mei 2014, terdapat 25.436 ton U3O8 di Kalan saja, belum di Melawi dan Kapuas Hulu," (http://www.sinarharapan.co/).

Gambaran selayang pandang yang dibuat oleh ‘World Nuclear Association’, Juni 2015, menyebutkan bahwa dalam kurun 60 tahun terakhir ini, uranium menjadi bahan baku energi yang utama. Bukan hanya digunakan dalam skala besar, PLTN, tetapi juga pada skala kecil untuk menghasilkan isotop dalam dunia kedonteran. Sejumlah kapal selam juga menggunakan uranium sebagai sumber energi.

Dewasa ini penambangan uranium dilaksanakan oleh 20 negara, walaupun hingga tahun 2014 54%-nya diproduksi hanya oleh enam negara, yaitu berturut-turut dari yang terbesar: Kanada, Kazakhstan, Australia, Nigeria, Rusia, dan Namibia.

WISE Uranium Project, 6 Dec 2015, menuliskan, “Enormous amount of uranium found in Kalimantan”. Namun, disajikan juga kutipan  pendapat  Dr Djarot S Wisnubroto dari BATAN "But it does not mean we will be producing uranium ourselves for a PLTN, because under the existing conditions, the price of uranium is quite low. It would be more efficient for us to buy it from other countries. The uranium reserve could be used for the future." (http://www.wise-uranium.org/upasi.html).

Selain itu, WISE juga mengingatkan pada pendapat Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yoboisembut bahwa ‘Uranium exploration in Papua could harm indigenous population’. Karena itu, ivestor, pemerintah dan masyarakat adat setempat perlu berembug bersama secara transparan apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara ‘bagi hasil’-nya. Tentu saja faktor keselamatan manusia menjadi perhatian yang utama.

Bagaimana dengan Kalimantan Barat? Sebuah tantangan bagi para akhli nuklir Kalbar, terutama dari Universitas Tanjungpura. Semoga!**

Leo Sutrisno