Upaya Warga Teluk Aur Melindungi Sumber Daya Ikan , Terapkan Sanksi Adat, Tak Segan Hukum Pelanggar Aturan

Upaya Warga Teluk Aur Melindungi Sumber Daya Ikan , Terapkan Sanksi Adat, Tak Segan Hukum Pelanggar Aturan

  Jumat, 26 February 2016 09:31
PANEN: Warga Teluk Aur, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu memanen ikan secara bersama-sama di zona bebas danau. Hasilnya akan dibagi merata. Tidak hanya untuk makan tetapi untuk pembangunan kampung. AGUS PUJIANTO

Berita Terkait

Bukan ikan Arwana saja yang dilindungi di kawasan danau lindung di Desa Teluk Aur, namun semua jenis ikan. Apabila ada yang melanggar, sanksi adat diterapkan. Tidak hanya menyita alat tangkap, pemiliknya juga didenda.AGUS PUJIANTO, Teluk Aur

Hari baru beranjak siang. Di perairan danau, ramai lalu lalang nelayan mencari ikan di wilayah zona bebas. Hasilnya, diperuntukan untuk konsumsi sehari-hari. Ada juga yang dimanfaatkan agar bernilai ekonomis, seperti diolah menjadi kerupuk basah.Husin dan Sulaiman tampak sibuk berendam, timbul tenggelam di permukaan air. Cukup lama keduanya bergulat di dalam air. Sepertinya, jala yang tersangkut tonggak kayu sulit dilepaskan. Keduanya adalah anggota ‘polda’ yang bertugas secara sukarela menjaga kawasan Danau Lindung Pangelang.  

Semula, saya mengira apa yang disebut Polda ini punya seragam, atau bahkan punya fasilitas seperti Speedbout untuk mempermudah pengawasannya. Akan tetapi, perkiraan saya salah total. Rupanya, polisi danau yang dibentuk kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) ini ternyata nelayan. Juga warga setempat. Seperti halnya Husin dan Sulaiman.“Dalam sehari, 10 orang yang melakukan pengawasan. Dari jam enam, sampai jam 6,” sebut Husni.

Apabila ada yang melanggar aturan, mengambil ikan di zona lindung. Sesuai sanksi adat, pukat akan disita dan dikenakan denda sebesar Rp. 500 ribu.Ibrahim, Ketua Danau Lindung Pangelang I mengatakan, pihaknya pernah menangkap pukat lewat batas sebanyak 1 ball. “Diselesaikan secara adat. Bayar 500 ribu dan pukat disita. Aturan ini dibuat oleh masyarakat. Jangankan jala, pukat dan pancing saja dilarang, itu aturannya,” jelasnya.

Selama ini idak ada kesulitan atau bahkan hambatan dalam menjaga danau. Sebab, aturan dibuat sendiri oleh masyarakat. Begitu juga Pokmaswas yang mengontrol danau dan mengawasi. Ini, kata Ibrahim, sejalan dengan kemauan masyarakat.“Pernah kami catat, katakanlah yang mau mencuri, itu langsung sanksi adat, sesuai peraturan. Barang siapa mengambil ikan disengaja maupun tidak, dihukum. Kalau mencuri ikan silok arwana, berapa harga ikan itu. Kalau 15 juta, harga itu yang harus dibayar,” ungkapnya.

Waktu panen ikan, tidak sembarangan ditentukan. Perlu diadakan musyarawah dengan masyarakat. “Misalnya dari tiga dusun memerlukan biaya untuk pembangunan jalan dan lain sebagainya. Berapa uang yang diperlukan. Baru kami akan panen, sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.Selain harus melindunginya dengan adat, cara penangkapannya juga sudah menggunakan dengan sistem jermal. Yakni, penangkapan ikan yang dilakukan secara bersama-sama. Untuk prosesnya sendiri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama dengan menentukan lokasi ikan itu berada, hal ini dilakukan oleh orang yang dianggap mampu atau ketua yang punya keahlian khusus.

Selanjutnya kelompok ikan tersebut, digiring menu mulut jermal dengan cara memukul-mukul permukaan air, ke setiap perahu penggiring. “Permukaan air dipukul, diburu dengan pengayuh. Kita giring biar masuk ke jermal,” sebut Ibrahim menceritakan proses panen ikan. “Tidak ada upacara khusus, hanya berdoa, meminta hasil panen melimpah.”Setelah ikan dipastikan masuk ke dalam jermal, kemudian keempat sudutnya ditarik menggunakan sampan, sehingga keempatnya mengerucut. Hal ini bisa dipastikan ikan sudah berkumpul dalam jermal dan siap untuk di panen. Untuk mengambil ikannya, dengan cara mengeroyok dan dituangkan ke dalam sampan warga pemanen.

Saat panen, tidak ada batasan berapa banyak ikan yang harus diambil. Tergantung berapa keperluan. “Misal butuh dana untuk pembangunan jalan, atau jembatan, butuh uang 30 juta, maka kita akan panen seperti keperluan itu,” tuturnya.Sejak ada aturan untuk melindungi kawasan danau, kini masyarakat merasakan jerih payahnya. Berupa limpahan hasil panen. Selama menjadi kawasan lindung, jumlah yang sudah dipanen sebanyak 35.542 kilo. Dengan  jumlah uang Rp191.621.500. “Kegunaan uang itu tergantung dusun masing-masing. Misalnya untuk listrik, dan lain sebagainya. Tidak hanya dimakan, tapi juga untuk pembangunan,” ungkap Ibrahim.

Berkat kerjasama semua lapisan masyarakat, Danau Lindung menyabet juara pertama dalam ajang Lomba Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) tingkat Kabupaten Kapuas Hulu. “Kami mendapat juara 1 secara pemeliharann maupun banyaknya ikan. Harapan ke depan, tetap dilestarikan terus, biar itu ikan entukan dan ikan lainnya,” harapnya.Harapan yang sama juga diutarakan Ketua Danau Lindung II, Petrus Jamal. menurutnya, pembentukan danau lindung ini, sangat bermanfaat untuk masyarakat.

“Tidak hanya Polda yang jaga, tapi seluruh lapisan masyarkat turut menjaga dan melindungi danau itu,” kata Petrus.Disebutkan pula, keterbukaan kunci utama dalam menjaga danau lindung ini. Melayu dan Dayak, bisa bersatu melestarikan potensi alam. “Intinya, keterbukaan. Kami memang selalu bekerjasama antara dua suku ini, dalam bentuk apapun,” tukasnya. (*)

Berita Terkait