Upaya PT SMART Tbk Berdayakan Masyarakat untuk Kurangi Risiko Kebakaran

Upaya PT SMART Tbk Berdayakan Masyarakat untuk Kurangi Risiko Kebakaran

  Kamis, 10 November 2016 09:30

Berita Terkait

Pola Tani Ramah Lingkungan Bangun Ketahanan Pangan

PT SMART Tbk terus melakukan berbagai upaya dalam membantu pemerintah untuk mengurangi risiko kebakaran. Salah satu upaya yang telah dijalankan perusahaan perkebunan sawit ini, dengan mengajarkan masyarakat pola bertani ramah lingkungan. Upaya tersebut turut bertujuan membangun ketahanan pangan di masyarakat.

Upaya dilatarbelakangi musibah kebakaran dan kabut asap yang masif pada 2015. Pada tahun ini, musibah dengan skala yang sama tidak terulang kembali, meski musim kemarau hampir usai. Tetapi kenangan buruk peristiwa tersebut masih membekas di-ingatan. Terlebih ditambah bayang-bayang persoalan global terkait perubahan iklim.

“perhatian kami atas hal ini, adalah bagaimana menemukan cara membantu masyarakat kita, khususnya petani ladang untuk tidak mengelola ladang pertanian dengan cara bakar,” ujar Susanto, CEO Perkebunan PT SMART Tbk wilayah Kalimantan Barat, belum lama ini.

PT SMART Tbk sebagai bagian dari Golden Agri Resources (GAR) telah lama menerapkan kebijakan tanpa bakar secara ketat. Dalam menerapkannya, perusahaan terkadang menghadapi persoalan mendasar, terkait metode tradisional berladang. “Bagaimana kami yakinkan para petani ladang dan masyarakat setempat untuk berhenti gunakan metode tradisional. Kami tawarkan solusi alternatif bagi petani, dengan metode bertani yang lebih berkelanjutan yaitu buka lahan tanpa bakar. Pada saat yang sama membangun ketahanan pangan keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Pemberdayaan masyarakat di Kalbar dilakukan GAR melalui anak usahanya PT Paramitra Internusa Pratama (PIP) yang secara aktif melibatkan peran serta masyarakat di Dusun Nanga Bian, Kabupaten Kapuas Hulu. Dusun Bian dikeliling kawasan berair, diapit Sungai Bian dan Kenepai, serta hamparan rawa gambut. Ini membuat warga desa sulit memperoleh sayur-sayuran dari lokasi terdekat.

Saat musim penghujan datang dan banjir melanda, akses jalan terputus, sehingga dusun ini terpencil dari lingkungan sekitarnya selama beberapa bulan. Pada musim kemarau, air sungai surut jauh dan kawasan rawa menampilkan tanah kering sangat berdebu yang sulit dijangkau kendaraan bermotor.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga Bian berbelanja ke warung-warung yang ada di dusun. Tak jarang mereka harus berbelanja di Kecamatan Semitau dengan mengunakan sepeda motor atau perahu tempel. Ladang masyarakat hanya bisa ditanami beberapa jenis bahan pangan, bumbu dapur, dan sayuran lokal; seperti padi, jahe merah, dan cabe rawit. Selebihnya, warga terpaksa harus membeli kebutuhan sayur mereka dari para pedagang keliling dengan harga relatif mahal.

Tahun ini, lebih dari 20 titik api (hotspot) dari ladang pertanian di dekat perkebunan PT PIP dapat segera dipadamkam. Namun, pemberdayaan masyarakat berupa program Kebun Sayur Pekarangan (KSP) telah berhasil dikembangkan secara berkelanjutan. “Ini untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara bakar. Tetapi memanfaatkan lahan-lahan di perkarangan rumah mereka dengan metode ramah lingkungan,” jelas Susanto.

Program tersebut tidak hanya membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi juga mendorong warga untuk menjual sayur-sayuran yang mereka tanam sendiri pada warga di dusun lain. Sehingga menghasilkan mata pencarian baru berkelanjutan.

“Program ini sejalan dengan kebijakan tanpa bakar GAR. Pendekatan yang inovatif ini telah menawarkan program konservasi berbasis masyarakat yang akan terus dikembangkan di perkebunan GAR lainnya se-Kalbar. Minggu depan, kami akan bahas bagaimana program KSP ini bisa dilaksanakan dengan cara berkelanjutan. Serta dengan metode yang tidak memerlukan biaya besar dan teknologi tinggi,” pungkasnya. (de)

Berita Terkait