Upaya Handoko Gani Populerkan Ilmu Pendeteksi Kebohongan

Upaya Handoko Gani Populerkan Ilmu Pendeteksi Kebohongan

  Sabtu, 21 May 2016 10:05

Berita Terkait

Pasangan Anda kerap berbohong? Mungkin ada baiknya Anda belajar ilmu pendeteksi kebohongan. Ilmu itulah yang tengah dipopulerkan Handoko Gani. Dia belajar hingga ke Manchester, Inggris.

Gunawan Sutanto, Jakarta

SEORANG ibu menemui Handoko Gani sekitar awal 2016. Dia mengaku tahu Handoko dari pemberitaan media ketika menganalisis kebohongan kasus-kasus yang mencuat di publik. ”Ibu itu minta saya mendeteksi kebohongan suaminya secara diam-diam,” kelakar Handoko.

Tawaran tersebut tentu tak bisa diterima begitu saja. Dia menjelaskan bahwa dirinya bukan seorang detektif swasta. Handoko berusaha memberikan pemahaman tentang profesinya. ”Sebab, tak mungkin kan saya undang suaminya dan saya deteksi kebohongannya,” ujar Handoko saat berbincang dengan koran ini di sebuah kedai kopi di Jakarta Sabtu (7/5).

Menurut Handoko, banyak yang belum paham mengenai ilmu lie detector. Hal itulah yang mendorongnya mengenalkan ilmu yang memang tergolong baru di tanah air itu. Salah satu yang pernah dilakukan adalah menggelar Festival Bohong Indonesia (FBI) pada 7–21 November 2015.

Dalam festival itu, Handoko dan istrinya, Deborah Dewi, mengemas berbagai acara yang edukatif. Mereka mengenalkan pendeteksi kebohongan untuk berbagai keperluan. Mulai perekrutan karyawan untuk para start-up, kesetiaan pasangan, kerja sama tim, hingga cara mendeteksi kejujuran anak atau asisten rumah tangga. Ketika itu masyarakat yang ikut hanya dipungut biaya Rp 350 ribu.

”Sekarang ini kami coba kenalkan lie detector melalui seminar online via aplikasi Telegram,” kata ayah satu anak itu. Dalam seminar tersebut, para peserta hanya dipungut biaya Rp 150 ribu. Dalam kelas itu, diajarkan beberapa teknik pendeteksi kebohongan.

”Saya ingin banyak orang di Indonesia bisa menguasai lie detector. Jadi, soal biaya nomor dua,” imbuhnya. Handoko belajar ilmu pendeteksi kebohongan melalui studi post graduate forensic emotion, credibility, and deception di Paul Ekman International Group (Emotional Intelligence Academy). Dia mengikuti kelas online maupun tatap muka di Manchester.

Pria yang sepuluh tahun menekuni bidang brand management itu tertarik dengan lie detector karena, antara lain, serial televisi asal Amerika Serikat, Lie to Me. Film seri yang diputar lewat jaringan Fox tersebut sangat membekas dalam pikiran Handoko.

Setiap episode tayangan bergenre drama kriminal tersebut nyaris tak terlewatkan oleh pria kelahiran Jakarta, 40 tahun lalu, itu. ”Mungkin salah satunya saya terpengaruh film tersebut,” ujarnya.

Drama seri yang dibintangi Tim Roth (Dr Cal Lightman) itu kerap mengilhami Handoko ketika tengah menangani sebuah brand. Termasuk ketika dia menggarap personal branding istrinya, Deborah Dewi, yang dikenal sebagai ahli grafologi.

Menurut Handoko, menggarap branding seorang ahli grafologi dituntut sebuah kejujuran. Sebab, yang ”dijual” memang hal tersebut. Berbeda dengan merek di bidang lain yang kadang justru harus ”berbohong” untuk menarik perhatian target pasarnya.

Handoko memutuskan untuk belajar lie detector pada akhir 2014 juga karena ingin bisnis jasa analisis yang dirintis Dewi bisa lebih berkembang. ”Kalau grafolog kan analisisnya masih bergantung medium tulisan tangan. Kami berdua ingin bisa melakukan analisis tanpa bergantung medium,” terangnya.

Selama ini kepakaran Handoko telah sering disalurkan untuk membantu sejumlah instansi. Di kepolisian, misalnya, dia menjadi ahli untuk beberapa kasus. Termasuk yang banyak menyita perhatian, yakni kasus pembunuhan Mirna Salihin yang dikenal dengan ”kopi sianida”.

Sayang, Handoko tak mau membeberkan analisis lie detector dalam penyidikan kasus Mirna. Namun, dia menulis hipotesis awal perkara itu di blog pribadinya di www.handokogani.com.

Analisis terhadap perkara Mirna tersebut ditulis terperinci oleh Handoko. Dia menganalisis kebohongan Jessica Wongso (tersangka pembunuhan) dari beberapa video tayangan wawancara media.

Analisis dengan berbagai teknik lie detector itu dibuat Handoko ketika Jessica belum ditetapkan sebagai tersangka. ”Analisis saya itu sekaligus juga untuk meluruskan kekeliruan penggunaan teknik analisis verbal facial micro expression yang sering dikutip teman-teman media,” jelasnya.

 Dalam analisisnya, Handoko membuat hipotesis awal dengan memosisikan Jessica sebagai pelakunya. ”Tapi, hipotesis saya itu bukan kesimpulan. Karena kesimpulan ada di tangan kepolisian,” ujarnya.

Ketika diminta membantu polisi menjadi ahli, Handoko berkesempatan memperdalam analisisnya. Sebab, dia sempat diperlihatkan CCTV dan berkomunikasi langsung dengan Jessica. Dia menunjukkan foto-foto di handphone-nya saat bersama Jessica. Namun, lagi-lagi dia tak mau membeberkan hipotesis akhir atas perkara itu.

Selain di kepolisian, Handoko melatih sejumlah orang di KPK. Namun, dia tak mau menyebutkan nama-nama yang dilatihnya. Dia hanya menunjukkan grup chatting yang berisi orang-orang di lembaga antirasuah tersebut.

Selama ini yang belajar lie detector ke Handoko bukan hanya penegak hukum. Ada berbagai latar belakang profesi. Ada ibu-ibu yang memang mencurigai suami atau anaknya. Tapi, yang terbanyak tetap profesional dari berbagai bidang. ”Ada tim (pendeteksi, Red) fraud dari bank dan HRD,” ungkapnya.

Dia berharap ilmunya itu bisa diaplikasikan para HRD. Sebab, berdasar penelitian di Inggris, 60 persen pelamar kerja melakukan kebohongan. Entah dari curriculum vitae yang dibuat atau apa yang disampaikan saat wawancara.

Celakanya, sebagian HRD justru kerap melakukan kesalahan dalam mendeteksi kebohongan. Mereka hanya menilai berdasar tanda-tanda yang telah sering dipelajari si pelamar kerja.

Handoko mengungkapkan, kebanyakan HRD menilai kebohongan hanya dari gestur. Misalnya, kalau jabat tangannya tidak erat, pelamar dinilai ragu. Juga, mereka yang duduknya tidak tegap dinilai tak bisa tegas.

Padahal, hal tersebut belum tentu benar. Sebab, ilmu-ilmu seperti itu sudah sering diajarkan dalam buku-buku di pasaran. ”Saya dulu juga begitu. Sempat gagal wawancara karena penilaian gestur. Saya dinilai tidak interest dengan bidang yang saya lamar. Padahal, saya sedang kecapekan,” terangnya.

Nah, dalam ilmu lie detector, tolok ukur untuk menilai seseorang bohong atau tidak harus dilakukan berjenjang. Seorang jujur atau tidak, menurut Handoko, bisa terpancar dari penilaian di 5+1 kanal kebohongan.

Lima kanal yang utama itu adalah penilaian pada wajah, gestur, suara, kata-kata, dan gaya bicara. Lalu, satu kanal tambahan ialah reaksi kimia. ”Reaksi kimia itu bisa dicek dengan poligraf. Misalnya, denyut jantung, pernapasan, atau perubahan pigmen kulit,” jelasnya.

Handoko mengatakan, orang yang bohong sering bocor pada satu di antara lima kanal kebohongan. ”Yang sering tak bisa dimainkan itu ekspresi wajah. Kalau yang lain masih bisa dimainkan,” ujar peraih gelar master manajemen dari Asian Institute of Management, Filipina, itu.

Menilai ekspresi wajah sendiri terdiri atas dua cara, yakni mikro dan makro. Ekspresi wajah mikro biasanya terjadi sangat cepat (1/25 detik) dan sulit ditutupi. Untuk menilai ekspresi mikro, diperlukan konsentrasi dan ketenangan tinggi. Hal tersebut sering dilakukan melalui pengamatan video rekaman.

Sebaliknya, perubahan wajah makro tidak begitu cepat dan gampang ditutupi. Misalnya, orang sebenarnya marah, tapi disembunyikan dengan cara tersenyum.

Analisis kebohongan memiliki beberapa teknik. Yakni, statement validity analysis (SVA), scientific content analysis (SCA), dan reality monitoring (RM).

SVA merupakan teknik menganalisis sebuah cerita atau kejadian secara utuh. Berikutnya, RM menganalisis potongan kalimat dalam sebuah kejadian atau cerita. Yang paling rumit SCA. Sebab, teknik itu menggabungkan analisis percakapan dan tulisan tangan.

Handoko menampik bahwa mereka yang belajar lie detector malah mahir berbohong karena tahu teknik-teknik pendeteksiannya. ”Justru alam bawah sadar mereka sebaliknya. Takut ketahuan kalau berbohong. Memori otak mereka sudah dijejali teori-teori kebohongan,” ujarnya.

Semakin banyak yang belajar ilmu kebohongan, Handoko yakin bakal semakin banyak pula orang yang berupaya jujur. Sebab, lawan bicara orang yang belajar lie detector bakal takut berbohong. Handoko banyak cerita soal hal tersebut. Misalnya, temannya yang ketahuan berbohong kepada istrinya.

”Saat itu teman saya bohong saat mencoba masakan istrinya. Saya cuma bilang ke dia, ada yang tidak sreg ya, eh dia meralat ucapannya ke sang istri,” cerita pria yang tengah menunggu buku pertamanya diluncurkan ke publik itu.

Handoko berharap, ketika sudah banyak yang menguasai ilmu lie detector, mereka bisa mendeteksi sendiri calon pemimpinnya. Apakah dia memang pemimpin yang jujur atau sekadar pencitraan. (*/c10/sof)

Berita Terkait