Untung Berbukit Warung Kelontong

Untung Berbukit Warung Kelontong

  Rabu, 2 December 2015 09:10
DAGANG SEMBAKO : Warung kelontong tak hanya berada di pemukiman penduduk, tak sedikit pedagang yang membuka usaha toko kelontongannya didalam pasar tradisional, dengan menjual beraneka ragam produk. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Menjadi penjual bahan kebutuhan pokok dan rumah tangga merupakan bisnis yang tak pernah ada matinya. Saban hari akan ada orang yang membeli barang-barang di warung ini. Selain menjanjikan untung, usaha ini memiliki tingkat risiko kecil. Oleh : Aristono, Pontianak

Warung milik Rohsya (32) di Jalan Ampera, Kecamatan Sui Ambawang, Kabupaten Kubu Raya kecil saja. Hanya sekira dua meter kali lima meter luasnya. Namun di dalamnya berbagai macam kebutuhan rumah tangga tersedia, seperti; beras, minyak goreng, mie instan, sabun mandi, pasta gigi, minuman sachet, rokok dan lain-lain. Setiap hari dia menjagai warung tersebut, sembari mengasuh anaknya yang masih balita. Sementara sang suami bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta. Namun dia membantu sang  istri melayani konsumen sehabis bekerja atau pada hari libur.

Toko kelontong atau biasa disebut orang warung sembako memang sudah menjamur dimana-mana, tetapi ada beberapa dari mereka yang semakin maju, semakin mundur atau biasa-biasa saja. Rohsya sendiri baru beberapa tahun terakhir ini membuka warung. Kebetulan tanah di rumahnya masih memiliki ruang kosong. Tanah tersebut kemudian dibangunkan warung kecil.  “Sebelumnya saya ibu rumah tangga biasa saja, tetapi di rumah agak bosan. Suami lalu membikinkan warung agar ada sedikit kegiatan. Adalah tabungan sedikit dan pinjam sana-sini untuk bikin bangunan dan modal stok di warung ini. Hasilnya lumayan juga, walaupun belum balik modal,” ujarnya,” sebut dia.

Dia mengaku mendapatkan untung dari bisnis ini, tetapi tidak besar. “Kalau jualan kelontong seperti ini barang yang dijual itu untungnya kecil-kecil. “Seperti minuman botol, kalau laku satu untungnya hanya Rp 200. Ada barang lain paling seribu dua ribu (rupiah) untungnya. Jadi orang ambil banyak, kita baru bisa dapat besar untungnya,” ujarnya.

Lima Juta Sebulan
Beda halnya dengan Danu Juliansyah, pemilik warung kelontong di Jalan Padat Karya, Pontianak Timur. Kata dia, dirinya berusaha agar warung miliknya menjadi sangat lengkap. Sehingga tingkat transaksi di warungnya menjadi semakin sering. “Saya di sini juga jual pulsa telepon, isi token listrik, juga jual gas elpiji 3 kilogram dan air galon. Biar untungnya kecil, kalau dijumlahkan juga lumayan,” sebutnya.

Konsumennya adalah para tetangganya dan orang-orang sekitar komplek. Mereka biasanya ke warung untuk membeli barang dalam jumlah kecil. Apabila membeli untuk stok dalam waktu lama, biasanya masyarakat lebih memilih berbelanja ke supermarket atau pasar tradisional, dimana harga lebih murah dan lebih lengkap. Keuntungan dari berbisnis warung kelontong bisa terbilang lumayan. Dia mengaku dalam sebulan meraup keuntungan bersih sekira Rp 5 juta. “Itu karena saya banyak jual barang yang dibutuhkan. Tetapi saya tidak mau jual barang yang cepat busuk atau kedaluwarsa, karena kalau tidak terjual bisa rugi juga,” cetusnya. Selain itu, jangan sampai memberikan utang kepada konsumen. “Untung kita kecil sekali. Kalau tak terbayar akan membuat keuangan terganggu,” tambah Danu.

Meskipun begitu, kompetitor di bisnis warung kelontong ini juga terus bertambah. “Ada banyak toko dan warung yang bersaing dalam mencari konsumen dan saling berdekatan. Artinya, walaupun permintaan secara keseluruhan tinggi, tetapi pasarnya terbagi banyak. “Apalagi sekarang dimana-mana tumbuh mini market. Saingan kita semakin banyak, walaupun harga kita lebih murah,” pungkasnya. (ars)
 

Berita Terkait