Unjuk Rasa Aksi untuk TKI

Unjuk Rasa Aksi untuk TKI

  Rabu, 11 November 2015 08:29
AKSI: Aktivis Solmadapar menggelar aksi di Bundaran Degulis. Mereka menuntut penyelamatan nasib pekerja migran dan anak perbatasan. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PERINGATAN Hari Pahlawan diwarnai dengan aksi demonstrasi yang dilakukan Solidaritas Mahasiswa Pengemban Amanah Rakyat (Solmadapar) di Bundaran Digulis, Selasa (10/11).Para mahasiswa melayangkan empat tuntutan kepada pemerintah, yakni peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendukung pendidikan, pembangunan infrastruktur yang memadai di daerah perbatasan, ciptakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi warga negara dan berikan perlindunga yang layak kepada tenaga kerja Indonesia.

Sekjen Solmadapar Dayat mengatakan, pekerja migran selalu dianggap sebagai pahlawan devisa karena kontribusi yang mereka berikan kepada negara. Namun, kenyataannya, para pekerja migran diperlakukan bukan seperti pahlawan.Dayat menilai, gelar pahlawan yang diberikan negara kepada pekerja migran merupakan pembohongan. Sebagai strategi dari pemerintah untuk menutupi kegagalannya dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi warganya. “Mari lihat secara cermat, sebenarnya pemerintah sedang menggadaikan warganya ke negara lain,” kata Dayat.

Dia menuturkan bahwa pengiriman warga ke luar negeri sebagai pekerja lebih dikarenakan ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan tidak mampu mengelola kekayaan alam.Jika memang benar gelar pahlawan devisa itu diberikan, lanjut dia, seharusnya pemerintah memperlakukan TKI layaknya seorang pahlawan. Tetapi yang terjadi adalah, pemerintah hanya diam, bahkan terlihat tidak peduli kepada nasib TKI yang terlantar, disiksa, dibunuh di negara tempatnya bekerja.

Menurut Dayat, melihat apa yang dialami para pekerja tersebut, maka sudah saatnya pemerintah berhenti membohongi warganya. Jangan lagi katakan mereka sebagai pahlawan jika tidak diberikan hak yang lauak seorang pahlawan. “Pemerintah harus jujur, sehingga dengan kejujuran itu tidak ada lagi warga berbondong-bondong menjadi pekerja di luar negeri karena bangga dianggap sebagai pahlawan,” tuturnya.

Dayat menegaskan, sudah saatnya warga menuntut pemerintah agar dapat membuka lapangan pekerjaan, sehingga dapat menurunkan angka keberangkatan warga Indonesia ke luar negeri untuk bekerja. “Kami menuntut empat tuntuan iti dipenuhi oleh pemerintah agar tidak ada lagi masyarakat yang memilih bekerja ke luar negeri dengan alas an tak adanya lapangan pekerjaan di negeri sendiri,” tegasnya. (adg)

 

Berita Terkait