Unas dan Integritas Sekolah

Unas dan Integritas Sekolah

  Senin, 4 April 2016 13:00   597

SEBAGAIMANA tertuang dalam Prosedur Operasional Standar (POS) Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016, hasil UN digunakan untuk (1) pemetaan mutu program dan atau Satuan Pendidikan, (2) pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan (3) pertimbangan dalam pembinaan dan pemberian bantuan kepada Satuan Pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Itu berarti bahwa Unas adalah kebijakan dalam rangka  standarisasi mutu untuk mencapai akuntabilitas publik, meningkatkan daya saing, sharing pendidikan, pertanggungjawaban sekolah bahwa semua proses telah mencapai standar, juga bagian dari sistem yang mendorong siswa dan guru agar makin giat belajar dan mengajar dengan baik untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Terkait unas ini, mulai tahun 2015 yang lalu, hasil UN bukan sebagai penentu kelulusan, tetapi sebagai alat pemetaan kondisi pendidikan. Ini mengubah kebijakan sebelumnya yang menempatkan unas sebagai syarat kelulusan siswa. Jika selama ini, nasib siswa ditentukan oleh nilai ujian (angka) satu pekan ketika UN, kini, ketentuan kelulusan siswa ditentukan dari sikap, penilaian akademis, dan psikomotorik atau keterampilan siswa dalam menerapkan hal-hal yang telah dipelajari. Penilaian dilakukan secara utuh melalui proses saksama yang melibatkan wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru bimbingan konseling.

Keputusan progresif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa UN bukan syarat kelulusan, melainkan untuk pemetaan guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan ini patut kita dukung. Alasannya, melalui kebijakan tersebut pemerintah berkomitmen menggunakan data pemetaan dari hasil UN itu sebagai sarana untuk menyesuaikan kebijakan pendidikan dengan kebutuhan di tiap wilayah dan sekolah.

Sebagai praktisi pendidikan, penulis sangat mendukung kebijakan Mendikbud, Anies Baswedan tersebut. Penulis berpendapat, selain kebijakan tersebut untuk memetakan kualitas sekolah untuk kepentingan intervensi perbaikan kualitas pendidikan, lebih dari itu dalam konteks siswa, kebijakan tersebut sungguh menghargai kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa yang selama ini dirampas oleh UN. Kebijakan tersebut sungguh menghargai keunikan yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Kebijakan Kemendikbud yang pro peserta didik ini menempatkan pendidikan bukan sebagai medan laga pertandingan para gladiator, petarung yang unggul sekaligus penyingkiran yang lemah, penyiapan para calon juara, tetapi tempat penyemaian benih-benih toleransi, tempat satu sama lain saling tergantung dan melengkapi. Lahan bagi siapa saja dengan segala keunikannya masing-masing boleh berperan dan memberikan kontribusi.

Pendidikan ditempatkan sebagai potret kehidupan itu sendiri, tempat satu sama lain saling tergantung dan melengkapi. Tak ada lagi yang kuat dan yang lemah. Yang ada adalah setiap pribadi yang bebas mengembangkan diri sesuai dengan keunikannya. Semangat untuk “memenangkan diri dengan mengalahkan orang lain” diganti dengan “kemenangan diri karena kontribusi orang lain”. Sesamaku bukan lawan yang harus kukalahkan, melainkan mitra yang sangat kuperlukan untuk meraih kemuliaan bersama.  

Pendidikan didorong bermuara pada kehidupan manusia bukan pada logika pasar dan angka-angka kuantitatif yang menyesatkan itu. Pendidikan haruslah berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. Idealisme ini penting mengingat bahwa manusia merupakan sentrum segala-galanya. Di sini, pendidikan yang inklusif-berintegritas adalah keniscayaan.

Kini, ketentuan kelulusan siswa ditentukan dari sikap, penilaian akademis, dan psikomotorik atau keterampilan siswa dalam menerapkan hal-hal yang telah dipelajari. Penilaian dilakukan secara utuh melalui proses saksama yang melibatkan wali kelas, guru mata pelajaran, dan guru bimbingan konseling.

Siswa didorong belajar keras agar bisa lulus sesuai dengan standar kompetensi setiap mata pelajaran yang telah ditentukan. Guru dipacu untuk terus berupaya meningkatkan mutu pengajaran. UN diharapkan dapat menjadi faktor pendorong (daya gugah) bagi siswa, guru, sekolah, orangtua, dan pihak-pihak terkait lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan tak hanya sekadar mencapai hasil akhir berupa nilai-nilai angka itu.

Konsekuensi logis pengembalian penentuan kelulusan siswa ke guru dan sekolah ini, penguatan aspek kejujuran menjadi sangat penting. Kejujuran (integritas) adalah roh pendidikan. Tanpa kejujuran (integritas), pendidikan hanyalah formalitas belaka. Dan itu sia-sia.

Dari pihak siswa, siswa didorong untuk mengerjakan soal-soal UN dengan jujur. Siswa hendaknya mempunyai rasa optimis dalam menghadapi UN. Hindari cara-cara yang kotor dan tercela dalam mengerjakan UN. Misalnya, dengan cara menyontek. Menyontek menunjukkan ketergantungan pada orang lain. Siswa yang suka menyontek sama sekali tidak mempunyai rasa percaya diri. Itu tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga sekolahnya.

Sementara di pihak guru, guru dituntut lebih cermat dalam memberikan penilaian terhadap siswa. Guru harus berani memberikan nilai kepada siswa apa adanya, jujur, dan penuh tanggung jawab. Para guru tidak boleh melakukan katrol nilai demi meluluskan peserta didiknya. Sebaliknya, guru harus menjaga amanah dalam menilai kelulusan siswanya. Di sini, integritas guru dan sekolah menjadi taruhannya.

 Mampukah kita menjaga integritas sekolah kita? Pasti Mampu! Mari kita kembangkan Semangat Integritas, Pantang Menyerah, dan Terus Tingkatkan Prestasi!

*) Penulis Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta Humas SMP santo F. Asis Tinggal di Kota Pontianak

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.