Unas 2016 = Ujian Integritas

Unas 2016 = Ujian Integritas

  Senin, 11 April 2016 16:15   1

KEJUJURAN adalah hal yang sangat mendasar (substantif) dalam pendidikan. Kejujuran (integritas) adalah roh pendidikan. Tanpa kejujuran, pendidikan hanyalah formalitas belaka. Dan itu sia-sia. Untuk itu, penguatan dimensi kejujuran menjadi sangat penting dalam jagat pendidikan kita.

Terkait ujian nasional (UN), Mendikbud menegaskan, UN mesti dimaknai sebagai proses latihan dan ujian integritas, bukan hanya sekadar penilaian terhadap kompetensi lulusan pada mata pelajaran tertentu. UN harus menjadi proses pembelajaran, bukan sebaliknya, belajar untuk UN. Semangat yang perlu dikembangkan dalam UN adalah untuk kejujuran. Oleh karena itu, semua pihak mesti mendorong dan terlibat dalam mengawal UN untuk jujur itu.

Kita sungguh berharap,  pelaksanaan UN 2016 ini berjalan lancar, jujur, tuntas, dan akuntabel sehingga mampu memetakan kompetensi siswa tiap daerah di Indonesia dan pemetaan dari hasil UN itu sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan di tiap wilayah dan sekolah.

Sebagaimana yang disampaikan Kepala Puspendik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam, pemetaan kompetensi kemampuan siswa dilakukan melalui soal-soal dalam UN. “Kita harus punya ukuran sehingga UN itu sebagai diagnosis. Nantinya kita akan mengetahui bidang-bidang tertentu yang unggul dikuasai oleh siswa. UN untuk melihat mana yang perlu peningkatan, mana yang sudah bagus, termasuk sampai ke tingkat kompetensi per mata pelajaran.”

Pemetaan per siswa semacam itu, nantinya akan dilanjutkan dengan pemetaan per sekolah hingga per wilayah. Hasil akhirnya akan diketahui wilayah mana yang memerlukan pembinaan mutu pendidikan, baik dari sisi tenaga pengajar maupun sarana dan prasarana sekolah. Agar pemetaan ini sangkil dan mangkus, maka UN yang jujur adalah kuncinya.

Agar UN dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan, penguatan dimensi kejujuran menjadi sangat penting. Tanpa kejujuran, pendidikan hanyalah formalitas belaka. Artinya, dimensi intelektualitas meskipun penting, bukanlah satu-satunya yang menjadi perhatian dan prioritas utama, tapi juga penguatan nilai-nilai kepribadian, diantaranya dimensi kejujuran.

Dengan diserahkannya kewenangan penentuan kelulusan kepada satuan pendidikan, ini berarti sekolah memegang amanat yang sangat besar. Pihak sekolah sungguh harus menyadari bahwa substansi pendidikan adalah bicara soal kejujuran (integritas).  Jangan sampai sekolah menyalahgunakan amanat yang besar dan mulia itu.

Mengingat potensi ketidakjujuran sangat tinggi di satu pihak, dan keinginan yang kuat dari kita semua agar UN berlangsung lancar, jujur, tuntas, dan akuntabel di pihak lain sehingga data pemetaan dari hasil UN itu dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh wilayah tanah air, kerja sama dan komitmen semua pihak sangat penting.

Untuk itu, pertama, semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan UN sungguh harus menyadari bahwa UN merupakan bentuk pelatihan tatakelola yang baik dan ujian integritas. Dengan demikian, integritas dalam pelaksanaan UN sungguh sangat penting.

Kedua, karena kejujuran (integritas) merupakan roh pendidikan, setiap sekolah, penyelenggara pendidikan, panitia pelaksana UN, para siswa peserta UN, dan pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan UN harus menjunjung tinggi asas kejujuran dan menjaga/mempertahankan integritas sekolah/lembaga/perusahaan/pribadinya.

Ketiga, pihak Kemendikbud perlu (bahkan mutlak) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait memperketat pengawasan penyelenggaraan UN. Aparat kepolisian, perguruan tinggi, dan pihak-pihak yang berkompeten di bidang pendidikan mesti dilibatkan dalam penyelenggaraan UN, pengamanan dan pengawasan soal-soal UN mulai dari pencetakan, pendistribusian, sampai keberadaan soal-soal tersebut di subrayon-subrayon, bahkan sampai di sekolah-sekolah.

Keempat, sanksi tegas, pemecatan secara tidak hormat, dan sanksi kurungan (penjara) bagi pelaku pembocoran soal UN harus dilakukan tanpa pandang bulu. Dengan demikian, masalah krusial berupa kebocoran naskah ujian nasional yang sempat mewarnai pelaksanaan UN tingkat SMA/SMK sederajat tidak terulang lagi.

Kalau hal-hal ini bisa diwujudkan, selain kejujuran UN 2016 dapat teruji dan integritas siswa/sekolah/pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan UN dapat dipertahankan, lebih dari itu yang jauh lebih penting, data pemetaan dari hasil UN itu dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan  di seluruh wilayah NKRI. Semoga!

* Penulis Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta Humas SMP St. F. Asisi  Tinggal di Kota Pontianak                                                                                                    

 

 

 

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.