Ujian Nasional yang Jujur

Ujian Nasional yang Jujur

  Senin, 4 April 2016 13:00   1

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, mengatakan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang curang bukan saja tindak pidana tetapi juga pengkhianatan pada moral (ANTARA Nwes, 7/5/15).

Penulis merespons penyataan Mendikbud di atas dengan memaknai dua hal yaitu Curang UN adalah tindak pidana dan Curang UN adalah pengkhianatan Moral. Curang dilarang karena merusak diri sendiri, meninggikan budaya instans, jalan pintas dianggap pantas, tetapi tidak bermakna baik terhadap aklak dan bertentangan dengan pembangunan budi pekerti bangsa ini. Pada POS UN telah dinyatakan bahwa peserta UN dilarang melakukan tindakan melawan tata tertib Ujian semisal mencotek oleh diri sendiri maupun bersama dalam satu kelas atau lainnya, sehingga kejujuran itu sangat perlu.

Kejujuran adalah hal utama dalam pendidikan baik di rumah, masyarakat, maupun di sekolah. Nilai (value) harusnya lebih ditinggikan dari pada Nilai (rate), karena nilai (value) adalah nilai-nilai kehidupan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap insan anak negeri ini. Nilai angka tidak akan dibawa dalam kehidupan di masyarakat hingga akhir hayat, tetapi nilai (value) dibawa hingga raga ditinggal jiwa dan setelah itu menjadi cerita oleh kerabat pengenal dalam diskusi-diskusi membicarakan sianu itu. Jika tidak, maka negeri ini akan terus dihantui oleh mental anti-kejujuran, semisal pembohongan, korup dan lainnya.

“Berani jujur hebat” (ditulis merah dengan huruf miring), demikian slogan yang disampaikan setiap kali akan UN baik setingkat sekolah lanjutan atas maupun pendidikan dasar. Orang jujur memang adalah orang pemberani. Tak perlu rasa takut untuk mengungkapkan kejujuran. Slogan ini untuk pribadi peserta didik sebagai motivasi untuk mengerjakan soal dengan jujur. Karena dengan dirinya jujur berarti dia hebat dan bermakna sebagai manusia.

Demikian juga untuk sekolah. Sekolah yang berani jujur untuk tidak memfasilitasi peserta UN dalam menjawab soal, malah menyediakan jawaban palsu maupun mengubah jawaban peserta UN sehingga menjadi sekolah yang hebat. Ini berarti sekolah tersebut memiliki integritas yang baik dalam pengajaran nilai (value). Secara konsisten dan setia dalam menanamkan nilai-nilai (value) kehidupan kepada siswa/i, karena mereka manusia homonis dengan diajarkan nilai (value) diharapkan mereka menjadi manusia sesungguhnya yang humanis.

Bagi siswa/i sebagai peserta UN, dengan tegas diingatkan untuk mengerjakan UN dengan jujur. Tetapi tidaklah baik bila diplesetkan dengan meme, misalnya terima bapak atau kawan yang bernama JUJUR. Atau diada-adakan orang yang bernama si Jujur. Lembar jawaban UN (utamanya paper based test) dilengkapi dengan peserta UN diminta menuliskan, “saya mengerjakan UN dengan jujur”. Pemerintah melalui badan standar nasional pendidikan telah mengingatkan agar mengerjakan UN dengan jujur. Tugas peserta UN adalah lakukan itu, maksudnya kerjakan UN dengan jujur (bukan disamarkan menjadi nama orang). 

Makna Kejujuran

Utamanya guru adalah panutan, ingat pepatah, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Jika guru adalah contoh sudah memfasilitasi siswa/i sebagai peserta UN maka yang akan dilakukan oleh siswa/inya akan jauh lebih jelek. Siswa/i sebagai penerus bangsa ini akan lebih jelek lagi tabiatnya. Guru harus mengajarkan teladan, karena mengajarkan teladan berarti anda sudah mengajarkan 1000 buku kepada siswa sebagai agen pembaharu (agent of change). Lebih mudah mengajarkan nilai melalui yang teladani (sung tulodo) dari pada mengajarkan nilai dengan kata atau slogan.

Ketika memberikan sambutan kepada 503 kepala sekolah dalam anugerah integritas (21/12/2015), Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyampaikan bahwa nilai kejujuran lebih penting dari pada nilai ujian nasional.  Presiden menegaskan bahwa sekolah harus kembali kepada fungsi mengajarkan nilai-nilai etika atau budi pekerti, kejujuran, kepatutan, kepantasan dan moralitas yang baik (solopos.com) kepada siswa/inya.

Dalam UU No. 20 tahun 2003 disebutkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sekolah sebagai wadah pendidikan formal (juga keluarga dan masyarakat sebagai wadah pendidikan non-formal) wajib menanamkan kejujuran. Tapi, penulis berkeyakinan bahwa sekolah kita masih setia dalam mengajarkan nilai dan budi pekerti yang baik pada siswa/i-nya. Karena, sekolah juga bagian yang tak terpisahkan – untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan – dari keluarga.

 

Siapkan diri dengan jujur

Pasca bergantinya pimpinan Kementerian Pendidikan (dan Kebudayaan), UN tahun 2015 dan dilanjutkan dengan UN tahun 2016, terjadi perubahan paradigma kelulusan UN. Di antaranya, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, meski standar ganda masih ada. Senyatanya dulu juga begitu, karena sebelum tahun 2015 yang menentukan kelulusan adalah sekolah, memang pada hasil UN secara implisit tertulis lulus dan tidak lulus. Artinya, UN memang menentukan kelulusan, karena sekolah tidak berhak lagi mengubah yang tidak lulus menjadi lulus atau sebaliknya.

Dengan adanya perubahan paradigma kelulusan tersebut, sekolah dan siswa/i tak perlu takut karena seiring perubahan dasar hukum (permendikbud) bahwa UN tidak lagi penenentu kelulusan. Tidak perlu berlomba-lomba menjadi nilai UN tertinggi tetapi menghalalkan segala cara termasuk menafikan kejujuran. Sudah saatnya sekolah dan siswa/i sebagai peserta UN menempatkan kejujuran di atas segala-galanya.

Pastinya, waktu UN tinggal menunggu hitungan jari, detik-detik UN makin dekat, hari Jumat, berarti H min 3 dari UN pertama Senin, 4 April. Persiapan materi tentunya telah dilakukan oleh siswa/i entah secara mandiri maupun berkelompok, di sekolah maupun pendidikan informal serta nonformal. Persiapan kelengkapan telah disiapkan baik oleh dinas pendidikan kota/kabupaten, terima kasih penulis ucapkan. Pada hari H-nya peserta UN menyiapkan diri sebaik-baiknya, datang lebih awal biar mentalnya siap bertempur. Miliki sikap enjoy dalam mengerjakan UN, jawablah soal yang mudah terlebih dahulu, baru yang sukar. 

Persiapan mental perlu, agar mental bertarung anda makin jitu. Beberapa sugesti, yaitu anda itu lebih cerdas dari pada yang anda duga, maka percayai itu. Nyalakanlah lilin (percaya diri) anda, utamanya menerangi diri anda. Yang paling utama, niatkanlah pada diri anda berlaku jujur, jangan membeli kunci jawaban, meski itu ada. Jangan meminta jawaban dari kawan saat ujian berlangsung. Buatlah yang terbaik yang anda bisa, gunakan kekuatan diri anda untuk meraih sukses. Abaikan kunci jawaban palsu, meski murah sekalipun. Semoga sukses dan semoga jawaban anda banyak yang benar, sehingga anda tidak curang karena curang adalah kejahatan moral, seperti kata mendikbud di atas. Mudah-mudahan!.   

*) Penulis, Kepala SMP dan Guru SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak

Adrianus

Kegiatan Harian sebagai Guru Biologi SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Kepala SMP Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Menulis merupakan bagian positif untuk memotivasi saya untuk belajar dan membaca.