UJIAN NASIONAL SATU UKURAN UNTUK SEMUA

UJIAN NASIONAL SATU UKURAN UNTUK SEMUA

  Jumat, 22 April 2016 09:10   805

Pendidikan pada hakikatnya adalah perubahan.  Secara filosofis, makna perubahan  disini adalah dari ketidaktahuan menjadi tahu (to know), dari ketidakmengertian menjadi mengerti (to understand), dan sebagai dampak pengiringnya adalah perubahan sikap ataupun karakter yang terbentuk dengan menjadi insan berakhlak mulia.  Tiga komponen ini jika terintegrasi dalam dunia pendidikan, akhirnya goal yang diraih adalah tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur.

Kurikulum Nasional (Kurikulum 2013) yang terus diperbarui dan disempurnakan hingga sampai saat ini, adalah ibarat “landasan pacu pendidikan” yang sebenarnya cukup ideal dalam melahirkan produk pendidikan, berupa lulusan yang kompeten di bidang keilmuan dan memiliki akhlak yang mulia (sikap spiritual dan sosial).  Tiga aspek pendidikan yakni pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotrik), dan sikap (afektif) yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran adalah konsep yang begitu “indah” dalam dunia pendidikan.  Konsep ini semestinya tidak hanya indah diatas lembaran kertas, namun di-implementasikan dengan baik sehingga pendidikan lebih bermakna.

Pembaruan Kurikulum Nasional tak terlepas dari hasil penelitian-penelitian  pendidikan dalam negeri sendiri dan internasional.  Jika mengamati dan membaca jurnal-jurnal internasional tentang dunia pendidikan,  arah dunia pendidikan saat ini sedang menuju ke-sebuah pendekatan partisipatoris – kontekstual.  Partisipatoris menggambarkan sebuah relasi dan keterlibatan penuh, antara peserta didik, orang tua, pendidik, lembaga pendidikan dan masyarakat secara umum, untuk membangun kepedulian bersama arti pentingnya pendidikan.  Kontekstual sendiri lebih terkait pada standar profesionalitas tenaga pendidik, meliputi pedagogical skill dan content knowledge dalam pembelajaran.  Pendekatan kontekstual yang lahir di Amerika Serikat oleh SCANS (Secretary of Labor’s Commission on Achieving Necessary Skills), adalah pandangan pendidikan modern saat ini.  Pengembangan kontekstual terus dilakukan dan akhirnya banyak diterima dan dilaksanakan oleh praktisi pendidikan didunia termasuk di-Indonesia.  Kurikulum Nasional yang menggunakan pendekatan saintifik (scientific approach) sebenarnya juga tercakup dalam embrio besar pendidikan kontekstual.

Kurikulum Nasional pada akhirnya identik dengan pendekatan modern dalam dunia pendidikan, semisal pendidikan kontekstual.  Kesamaan yang jelas terlihat bagaimana Kurikulum Nasional mementingkan sebuah proses dalam kegiatan pembelajaran, mengarahkan agar pembelajaran lebih bermakna sesuai ide besar pendidikan kontekstual.  Demikian halnya dengan penilaian, penilaian pada Kurikulum Nasional adalah penilaian autentik, penilaian menyeluruh, berkelanjutan serta berbasis ciri khas perserta didik.  Pandangan pendidikan modern seperti pada pendidikan kontekstual, dibangun dan dikembangkan dengan dasar yang kuat, melibatkan kebaruan dalam dunia psikologi, neuroscience, dan disiplin ilmu yang lain.   Hal yang cukup penting dalam pandangan pendidikan modern adalah tidak mengenal istilah penilaian “satu ukuran untuk semua”.  Kurikulum “satu ukuran untuk semua” pada akhirnya tidak cocok dengan siapapun dan dimanapun (Susan Ohanian, 1999.  Praktisi pendidikan Amerika Serikat).

Bagaimana dengan Ujian Nasional (UN)?.  Bukankah UN adalah “satu ukuran untuk semua?”.  Dengan dalih sebagai ikhtiar untuk melakukan pemetaan pendidikan nasional, atau sebagai barometer pendidikan,  pada akhirnya UN terlihat aneh pada zaman sekarang ini.  Dari sudut pandang konsepsi, UN sudah keluar jalur jika pemerintah konsisten terhadap implementasi Kurikulum Nasional, ditambah lagi dengan operasional dengan beaya yang sangat tinggi.  Pelaksaan UN dari waktu ke-waktu menyita kesibukan semua pihak, kementerian pendidikan, dari pusat hingga daerah, yang semestinya energinya lebih fokus kepada standarisasi proses dan tenaga pendidik, daripada mengurus lembaran-lembaran berupa instrumen tes.

Pemetaan pemerataan kualitas pendidikan nasional memang perlu dan penting,  sebagai tanggungjawab negara dalam memajukan pendidikan.  Sayangnya, alat untuk memetakan kualitas pendidikan ini terbilang mahal, tidak efektif dan justru berdampak tidak baik  pada pendidikan itu sendiri.  Sudah menjadi tradisi di-akhir tahun pembelajaran,  lembaga pendidikan dimanapun seperti punya hajat besar.  Kesibukan luar biasa terlihat bagaimana lembaga pendidikan (sekolah) memberikan “shock treatment” kepada kelas-kelas ujian,  praktis pada semester akhir peserta didik mendapatkan hadiah try-out bertubi-tubi, membahas dan menyelesaikan soal-soal  tanpa disertai pemahaman konsep pokok bahasan.  Dan celakanya kelas-kelas “primordial”  (kelas X dan kelas XI) sering diabaikan dan sering libur  karena  pelaksanaan try-out,  sungguh jauh dari ke-bermakna-an  situasi pendidikan seperti ini.   

Pemetaan kualitas pendidikan nasional, sebenarnya akan lebih efektif dan efisien  jika dilakukan dengan metode lain, misalnya metode survey yang jelas tujuan dan maksudnya.  Survey dapat dilakukan dengan melibatkan Perguruan Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sehingga didapatkan hasil yang valid dan menggambarkan yang sebenarnya kondisi pendidikan di-suatu wilayah/daerah. 

Pada tahun 2018 mendatang, semoga target pemerintah untuk memberlakukan Kurikulum Nasional terbaru dapat tercapai secara nasional dan menimbang lagi perlu tidaknya UN  dimasa mendatang. “Guru yang hebat bukanlah guru yang menjadikan muridnya pintar seperti dirinya, namun berhasil membantu muridnya menemukan dirinya sendiri”.

*).  Penulis adalah Praktisi Pendidikan tinggal di Semarang Jawa Tengah.  Mahasiswa  S3 UNS Surakarta.

Mahbub Alwathoni

Praktisi Pendidikan Tinggal Semarang Jawa Tengah. Mahasiswa Program Doktor (S3) UNS Surakarta. Alumnus S1 Kimia UNNES Semarang dan S2 Inorganic Chemistry ITS Surabaya.