Uji Hipotesis: Uji-t

Uji Hipotesis: Uji-t

Minggu, 9 Oktober 2016 14:04   771

 

SEORANG mahasiswa S-1 mengaku kebingungan ketika akan melakukan uji hipotesis. Ia bercerita, bahwa ia melakukan percobaan cara mengajar pada dua kelas yang berbeda tetapi masih dalam satu sekolah yang sama. Kedua kelas itu diberi label Kelas Percobaan dan Kelas Pembanding. Di Kelas Percobaan, ia mengajar dengan cara diskusi kelompok. Di Kelas Pembanding, ia mengajar seperti biasanya, dengan cara menjelaskan di depan kelas. Ia berharap, mengajar dengan cara berdiskusi dalam kelompok akan lebih baik. Karena, para siswa lebih bebas dan tentu saja lebih santai (katanya) mengutarakan pendapatnya selama diskusi ketimbang ‘duduk manis’ mendengarkan penjelasan gurunya.

Untuk menguji kebenaran dari harapannya itu, ia memberi tes (disebut tes awal – karena diberikan sebelum mengajar dengan cara diskusi dilakukan) baik pada Kelas Percobaan maupun pada Kelas Pembanding. Nilai rata-rata tes awal Kelas Percobaan adalah O1 dan Kelas Pembanding O2. Setelah mengajar dengan dua cara itu dilalukan, kedua kelas ini juga diberi tes lagi, tes akhir. Nilai rata-rata Kelas Percobaan adalah O3 dan Kelas Pembanding O4.

Kemudian, ia membandingkan hasil tes awal (O1 vs O2)  dan hasil tes akhir (O3 vs O4) dari kedua kelas ini dengan menggunakan Uji-t. Ia berharap hasil Uji-t tes awal (O1 vs O2)  menemukan bahwa kedua kelas ini, Kelas Percobaan dan Kelas Pembanding, tidak berbeda secara signifikan. Jika itu terjadi, maka ia dapat melanjutkan analisisnya,  membandingkan hasil tes akhir (O3 vs O4).  Seandainya, hasil analisis 03 vs 04 (dengan Uji-t) berbeda secara signifikan, maka ia akan menyimpulkan bahwa ada pengaruh dari cara mengajar pada hasil belajar siswa.

Tetapi, ia menjadi binggung karena hasil Uji-t pada tes awal menunjukkan bahwa Kelas Percobaan dan Kelas Pembanding berbeda. Sehingga, perbedaan dari kedua kelas ini yang ditemukan pada tes akhir bukan hanya disebabkan oleh cara mengajar saja. Ia bertanya: Apa yang dapat dilakukan?

Jika masih cukup waktu, percobaan sebaiknya diulangi. Sebelum percobaan dilakukan ia harus menganalisis hasil tes awal lebih dahulu sehingga ditemukan dua kelas yang tidak berbeda kondisinya (01 dan 02 tidak berbeda secara signifikan). Namun, karena dibatasi waktu penyelesaian skripsinya, mengulangi percobaan itu tidak mungkin dilakukan. Padahal, ia harus mendapat kepastian apakah ada atau tidak ada perbedaan antara Kelas Percobaan dan Kelas Pembanding.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membandingkan perubahan yang terjadi di kedua kelas itu. Karena yang dibandingkan ‘hanya’ dua kelompok data (perubahan di Kelas Percobaan dan perubahan di Kelas Pembanding) uji-t dapat digunakan. Pertama-tama, ia harus menghitung selisih nilai tes akhir dan tes awal setiap siswa lebih dahulu. Kemudian, dihitung nilai rata-rata dan deviasi standar dari selisih nilai masing-masing kelas. Dan, selanjutnya Uji-t dapat dilakukan.

Karena yang dibandingkan selisih antara keadaan sebelum dan setelah percobaan antara Kelas Percobaan dan Kelas Pembanding maka hasilnya dapat dipakai untuk menjelaskan apakah cara mengajar itu berpengaruh atau tidak, walaupun kondisi awalnya sudah berbeda. Inilah yang dapat disarankan kepada mahasiswa ini, dan mungkin juga kepada para pembaca kolom ini jika mengalami kasus yang mirip, kondisi sebelum percobaan sudah berbeda dan tidak mungkin dibuat sama.

Sebagai tambahan informasi, ‘uji statistik-t’ dikenalkan oleh William Sealy Gosset (1908). Gosset adalah seorang ahli kimia yang bekerja pada pabrik bir ‘Guiness’, di Dublin, Irlandia. Uji statistik-t adalah cara statistik untuk menguji hipotesis nul (Ho) dari data yang berdistribusi “student’s t”. Kata ‘student’ merupakan nama samaran William Sealy Gosset. Kala itu Gosset diberi tugas untuk menjaring lulusan terbaik dari universitas Oxford dan Universitas Cambridge untuk menempati bidang biokimia dan statistik di perusahaan Guiness. Ia menyusun uji-t sebagai cara yang ekonomis untuk memonitor kualitas calon. ‘Student’s t-test’ diterbitkan dalam jurnal Biometrika pada tahun 1908. Karena, perusahaan melarang karyawannya menerbitkan temuan-temuannya, Gosset memilih menggunakan nama samaran ‘student’.

Penjelasan tambahan ini kiranya baik dilakukan karena kata ‘student’ dalam istilah “student’s t-distribution” sering dimaknai sebagai padanan kata ‘mahasiswa’. Sehingga, timbul anggapan bahwa “student’s t-distribution” ditemukan oleh seorang mahasiswa. Bukan!, penemunya adalah seorang ahli statistika Irlandia - William Sealy Gosset. Semoga!

Leo Sutrisno