Ubah Strategi, Naik Bukit Lewat Jalur yang Tak Digunakan Orang

Ubah Strategi, Naik Bukit Lewat Jalur yang Tak Digunakan Orang

  Rabu, 3 Agustus 2016 10:44
KERJA KERAS: Barang bukti yang berhasil disita Satgas Operasi Tinombala dari Santoso cs di Poso. RAKA DENNY/JAWA POS

Berita Terkait

 
Strategi perburuan berkali-kali diubah, disesuaikan dengan keunggulan dan kelemahan lawan. Kehilangan GPS membuat kian banyak anak buah Santoso yang tertangkap.

ILHAM WANCOKO, Poso

RONNY Suseno masih mengingat betul masa-masa perburuan yang sangat berat itu. Medan terjal, jalanan bercabang-cabang bekas penebang kayu, dan alat komunikasi yang sama sekali tidak berfungsi. ”Kami sering kehilangan arah,” ujarnya.

Ketika itu, awal 2015, Ronny sudah bertugas sebagai Kapolres Poso, Sulawesi Tengah. Setelah buron teroris Santoso terdeteksi berada di wilayah yang dipimpinnya, pria berpangkat AKBP tersebut mendapat tugas memimpin operasi perburuan pertama Santoso dengan sandi Camar Maleo.  

Ronny dan 200 anggotanya harus memburu Santoso cs yang berjumlah 50-an orang di kawasan hutan Bukit Biru seluas 2.400 kilometer persegi. Dan berada 1.200 meter di atas permukaan laut.

Soal jumlah dan persenjataan, tim Polri memang lebih banyak. Tapi, soal pengenalan medan, Santoso cs lebih paham. ”Santoso dan beberapa kawannya itu sudah sejak kecil mengenal Bukit Biru. Mereka paham betul jalur-jalur tersembunyi itu,” ungkap arek Suroboyo tersebut.

Yang dialami Ronny itu setidaknya menggambarkan mengapa dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk bisa melumpuhkan Santoso. Medan yang dihadapi memang sangat berat.

Santoso akhirnya bisa ditewaskan tim Alfa 29 Raider Kostrad pada Senin dua pekan lalu (18/7). Tapi, keberhasilan itu jelas bukan hanya hasil kerja sebuah tim. Melainkan buah kerja sama yang apik antara TNI dan Polri yang bersatu dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala tersebut.

Keduanya berhasil melepaskan ego kesatuan dan menyatukan tujuan. Operasi Tinombala merupakan operasi gabungan pertama Polri dan TNI pascareformasi. ”Kami sebenarnya ingin cara yang lebih damai. Apa mau dikata, berbagai upaya agar mereka menyerah tidak terwujud,” ucap Wakil Komandan Satgas Operasi Tinombala Brigjen TNI Ilyas Alamsyah.

Dalam Operasi Camar Maleo yang pertama, kenang Ronny, pengejaran dilakukan hanya berdasar informasi mentah soal posisi Santoso. Ke-200 anggota Polri naik ke Bukit Biru dengan melewati jalur utama.

Mereka bersamaan berjalan kaki selama empat hari untuk bisa mendeteksi posisi Santoso. Ketika itu Ronny masih dibantu mantan anggota TNI Daeng Koro alias Sabar Subagyo.

Ada kalanya tim Polri mendeteksi keberadaan anggota Santoso cs. Tim lantas bergerak mengejar. Kontak tembak pun beberapa kali terjadi. Tapi, sering kali gerombolan teroris itu menghilang di lebatnya hutan Bukit Biru. ”Bukitnya itu keriting naik turun,” ujarnya.

Saking susah dan terbatasnya logistik, akhirnya Ronny terpaksa memutuskan pengejaran dilakukan empat hari dalam seminggu. Empat hari mengejar dan dua hari mengisi logistik. ”Semua itu dilakukan beberapa bulan,” katanya.

Kondisi kian runyam saat ternyata sering kali upaya tim tersebut naik ke Bukit Biru disergap Santoso cs. ”Saat itu kami sadar mengejar Santoso perlu persiapan lebih,” imbuhnya.

Pada Maret 2015 Operasi Camar Maleo selesai. Polri memutuskan untuk melanjutkan operasi itu dengan sandi Operasi Camar Maleo II hingga 7 Juni. Kondisi yang sama terjadi, Santoso belum tertangkap. Namun, satu per satu anggotanya mulai tertangkap. ”Kalau tidak salah, pertengahan 2015 itu ada 34 orang yang bisa ditangkap,” jelasnya.

Pertengahan 2015 tersebut, Wakapolda Sulawesi Tengah Kombespol Leo Bona Lubis mulai memimpin operasi pengejaran Santoso. Lebih dari 600 prajurit Brimob Polri dikerahkan untuk mengejar Santoso. ”Langkah pertama, semua anggota Santoso mulai dikenali,” ujar Leo saat ditemui di Pos Polisi Air dan Udara Tokorondo Sektor Dua, Poso, Jumat (22/7).

Berbagai peralatan komunikasi juga diperbanyak. Bahkan, alat komunikasi dari Inggris yang digunakan pasukan khusus pun dipakai. Sayang, ternyata alat komunikasi itu sama sekali tidak berfungsi di Bukit Biru.

Padahal, dalam kondisi genting seperti itu, komunikasi untuk melakukan koordinasi sangat penting. ”Saya paling khawatir kalau tidak bisa komunikasi. Ya karena cuaca di Bukit Biru itu,” terangnya sembari menunjuk puncak Bukit Biru yang terlihat dari pos tersebut.

Pada Senin dua pekan lalu itu, puncak Bukit Biru memang tampak diselimuti awan tebal walau cuaca tak hujan. Dari kejauhan tampak garis-garis putih yang melintang di badan bukit. ”Nah, garis-garis itu jalan. Jalan itu berkelok, bercabang tak tentu arahnya,” papar dia.

Yang membuat Leo senang, dalam sebuah penyergapan, didapatkan alat global positioning system (GPS) milik Santoso cs. ”GPS yang bisa diamankan itu penting,” ujar polisi yang saat ini menjabat komandan Satgas Operasi Tinombala tersebut.

GPS yang disita itu bisa dibilang turut mengubah keadaan. Sejak awal diketahui, hanya beberapa orang anggota Santoso yang mengenal luar dalam medan. Selebihnya menggunakan GPS untuk bisa bergerak di hutan itu. ”Kalau GPS itu sudah tidak dimiliki, tentu ruang gerak terbatas. Arah tidak diketahui,” ucapnya.

Hasilnya, memang makin banyak anggota Santoso yang tertangkap. Bahkan, anggota Santoso yang dinilai paling berbahaya karena memiliki latar belakang militer, Daeng Koro, bisa dilumpuhkan dan tewas.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudy Sufahriadi menjelaskan, saat itu ada warga yang didatangi seorang lelaki yang membawa senjata. ”Lelaki itu minta makan,” ujarnya.

Setelah diberi makan, lelaki tersebut pergi. Warga itu langsung turun gunung dan memberikan informasi kepada tim. Tim pun mengejar ke lokasi yang diprediksi sebagai lokasi lelaki tadi. ”Kami kejar ke arah larinya, ketemu dan kontak tembak. Setelah itu diidentifikasi, lelaki itu Daeng Koro,” ujar penanggung jawab Operasi Tinombala 2016 tersebut.

Pengejaran Santoso cs dilakukan dengan bongkar pasang strategi. Rudy mengungkapkan, lebih dari lima kali strategi diubah selama lebih dari 1,5 tahun tersebut. Itu dilakukan setelah berkomunikasi dengan pasukan di lapangan. ”Jadi, strategi itu ditentukan setelah mengenali kelemahan tim dan keunggulan Santoso cs,” katanya.

Pernah suatu kali pada akhir 2015, Rudy menanyakan kepada anak buahnya mengapa Santoso tak kunjung tertangkap. Saat itu anak buahnya menjelaskan bahwa Santoso selalu berada di posisi paling buncit saat kontak tembak. ”Ini trik Santoso, berarti beruntung saja tidak tertangkap sejak awal,” ucapnya.

Untuk merespons itu, semua strategi pengejaran tidak lagi dilakukan dengan naik dari jalan utama Bukit Biru. Tapi dari jalur yang tak biasa digunakan orang. ”Kalau dari jalan biasa, selain ketahuan, juga membuat Santoso bisa mempersiapkan posisi terjauh dari kontak tembak,” papar Rudy.

Maka, pasukan dikerahkan melalui jalur-jalur yang terjal dan tidak biasa dipakai orang. Bisa jadi harus memanjat tebing dan naik ke bebatuan. ”Yang penting, tanpa diketahui bisa naik di atas bukit,” ujarnya saat ditemui di Mes Tinombala, Poso.

Hal itulah yang membuat saat kontak tembak berlangsung, bisa jadi posisi Santoso tidak lagi ada di belakang. Sehingga potensi melumpuhkan Santoso bisa lebih besar. ”Saya berupaya terus mempelajari strategi Santoso cs,” ucap Rudy.

Misalnya, selama berada di Bukit Biru, ternyata Santoso itu dalam sehari tiga kali salat: Subuh, Duhur, dan Magrib. Salatnya dijamak terus. ”Salat Jumat malah tidak pernah dilakukannya. Semua pola itu penting untuk melumpuhkan dia,” ujarnya.

Rudy menambahkan, pengejaran di hutan dengan kondisi yang tidak ramah itulah yang membuat Polri meminta bantuan TNI pada akhir 2015. Awal 2016, TNI mulai terlibat dalam operasi pengejaran Santoso.

Kerja sama apik dua kesatuan itulah yang kemudian mengakhiri hidup Santoso. Itu pun dicapai dengan penuh perjuangan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menerangkan, tim Alfa harus menyergap Santoso dengan mengendap-endap. ”Mereka harus diam dan bergerak senyap saat malam selama sebelas hari di hutan,” ujarnya.

Mereka menuju titik lokasi yang selama ini dicurigai sebagai lokasi Santoso cs. Semua itu juga dilakukan pasukan dari TNI, bukan hanya tim Alfa 29. ”Mereka telah menjalankan tugas dengan baik,” tegasnya.

Menurut Rudy, tentu semua prajurit yang berjasa akan mendapatkan penghargaan. Yang utama, semua pasukan yang terlibat dalam Operasi Tinombala juga bakal mendapat perhatian.

Meski Santoso sudah tewas, pengejaran terhadap 18 anggotanya terus dilakukan. Bahkan, tim Alfa masih berada di hutan. ”Mereka tidak ditarik turun. Kita tidak boleh terlena dengan tewasnya Santoso,” tuturnya. (*/c9/ttg)

Berita Terkait