Ubah Kesumba jadi Listrik

Ubah Kesumba jadi Listrik

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

*Raih Doktor di Usia 32 Tahun

*Paten Ditawar Perusahaan Prancis

Masyarakat menganggap kesumba (Bixa orellena) sebagai tumbuhan liar yang tak bermanfaat. Namun di tangan  Winda Rahmalia, biji buah kesumba ternyata bisa diubah menjadi tenaga listrik. Tidak main-main, temuannya ini siap untuk dikomersialisasi.

---

Bagi Winda Rahmalia kesumba adalah ‘mainan’ terbaiknya. Sejak kecil dia sudah akrab dengan tumbuhan yang juga disebut rambutan hutan ini. “Waktu kecil, di dekat rumah banyak tumbuh pohon kesumba liar. Nah kulitnya yang berwarna merah ini sering kami jadikan kutek saat bermain,” kata wanita 32 tahun ini kepada Pontianak Post.

Rasa penasaran Winda terhadap kesumba berlanjut ketika dia menjadi mahasiswa Program Studi Kima di FMIPA Universitas Tanjungpura. Di sana dia mengenal lebih jauh tanaman ini, yang ternyata memiliki zat warna yang mengandung bixin. Bixin ini ternyata adalah zat yang mampu menampung energi matahari dengan baik. “Bixin ini bisa diubah menjadi sel surya,” sebut dia.

Menyesaikan kuliah dengan tepat waktu dan nilai sangat memuaskan, ibu satu anak ini lantas mendapat beasiswa dari DIKTI untuk berkuliah di Univesitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ketertarikannya yang begitu dalam terhadap kesumba ini membuatnya mengambil tesis soal mengubah biji buah kesumba menjadi energi listrik. Dia juga bergabung dalam tim peneliti yang mendapat dana hibah Rp1 miliar dari DIKTI, juga soal kesumba.

Perempuan yang kemudian menjadi dosen Kimia di Untan ini kembali mendapat beasiswa dari DIKTI pada tahun 2013. Tidak main-main, perguruan tinggi tujuannya adalah Institut National Polytexcirque de Toulouse (INPT), Prancis. “Saya senang sekali waktu itu, karena Prancis sangat terkenal kualitas pendidikannya. Saya lalu kursus Bahasa Prancis di Jakarta selama beberapa bulan, supaya tidak malu-maluin di sana. Karena di sana kelas dan laporannya harus berbahasa Prancis,” jelas dia.

Di Prancis, Winda tak hanya berkuliah saja. Setahun yang lalu, anak pertamanya lahir di Kota Toulouse. Sembari berkutat di laboratorium dengan penelitiannya, perempuan kelahiran Pontianak ini juga merawat dan mengasuh anaknya. Hebatnya, dia mampu menyelesaikan disertasinya tepat waktu.

Mudah ditebak, disertasi yang diambilnya juga tentang kesumba dan sel surya. Kali ini penelitiannya makin berkembang. Tidak hanya menggunakan biji kesumba, Winda juga menggunakan bahan lokal Kalbar lainnya, yaitu tanah lempung. Bayangkan, setengah kilogram biji kesumba yang dijadikan ekstrak, mampu menghasilkan ratusan ribu sel surya. Sel ini disusun dalam panel yang dapat menghasilkan listrik, dan bisa menghidupkan sebuah lampu 5 watt selama 10 hari.  “Ternyata tanah lempung ini mampu meningkatkan kemampuan biji buah kesumba menyerap sel matahari,” sebutnya.

Dia mempertanggungjawabkan disertasinya di Universitas Toulouse di hadapan 7 profesor penguji pada Juli 2016. Ujian ini sekaligus untuk meraih gelar doktoral dari universitas ternama di Perancis tersebut. Guru Besar Untan, Prof Dr Thamrin Usman DEA yang menjadi satu-satunya pembimbing dan penguji non-Perancis dalam sidang itu. Penelitiannya mendapat nilai terpuji.

Apa yang diteliti Winda ternyata menarik perhatian perusahaan energi surya ternama di Prancis. Perusahaan tersebut berniat mengkomersialisasi penelitian Winda. “Mereka menganggap penelitian saya visible untuk diterapkan di industri. Sudah ada perjanjian. Kami akan menandatangani kontrak setelah paten ini selesai. Sekarang proses patennya sedang diproses di Prancis,” sebutnya.

Kini, orang yang menetap di Jalan Tabrani Ahmad ini, Gang Serumpu II, Pontianak ini sibuk dengan aktivitas mengajarnya. Selain itu, dia juga menjadi pengurus Kedai Perancis, sebuah lembaga pusat Bahasa Prancis di Untan. 

Sementara itu, secara terpisah, Rektor Untan, Prof Dr Thamrin Usman DEA mengatakan Winda adalah salah satu dosen dengan gelar doktor termuda di Kalbar. Orang yang juga pakar kimia ini mengaku sudah melihat bakat Winda sejak menjadi mahasiswanya (strata satu). “Winda memang sudah terlihat kecerdasannya saat masih kuliah di FMIPA dulu Dia sekarang berhasil melakukan modifikasi komposisi bahan utama solar cell yang berasal dari bahan alam Kalbar, dan meraih gelar doktor di usia sangat muda,” katanya.

Thamrin Usman sendiri merupakan alumni INPT, dan ditunjuk mewakili pihak Indonesia untuk menjadi juri dalam sidang disertasinya Winda. Dia akan bersama 7 profesor Perancis dalam ujian itu. Dari pengamatannya, produk ini sangat aplikatif. “Kita bisa memproduksi sendiri produk energi listrik yang berasal dari sinar matahari ini sehingga cost per unit produk ini akan mampu bersaing dengan produk yang sudah ada. Selain Winda satu lagi dosen kimia FMIPA Untan yang sedang riset untuk listrik dari sinar matahari adalah Nelly Wahyuni,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini masyarakat dunia tengah berlomba-lomba mengembangkan energi alternatif sebagai solusi kelangkaan energi fosil di masa mendatang. Kalbar sendiri, kata orang yang menjabat Rektor Untan ini, sangat banyak potensi yang bisa digarap.  “Di Kalbar, melimpah sehingga berpotensi untuk pengembangan energi listrik tenaga surya. Namun, hal tersebut belum optimal dilakukan,” kata profesor yang juga menemukan biodiesel dari limbah kelapa sawit ini.

Untan sendiri, kata dia, terus mendorong para penelitinya untuk menciptakan dan mengembangkan penemuan di bidang energi. “Energi adalah salah satu isu utama dalam forum-forum internasional. Kita tidak mau hanya jadi penonton. Untan juga harus punya kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan Indonesia, khususnya Kalimantan Barat,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait