Ubah Garasi jadi Selter

Ubah Garasi jadi Selter

  Kamis, 11 February 2016 09:04
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

PONTIANAK - Karena melebihi kapasitas, sejumlah pekerja migran yang ditampung di Dinas Sosial Kalimantan Barat ditempatkan di garasi mobil.Sekitar pukul 01.30, ratusan pekerja migran tiba di Pontianak melalui PPLB Entikong, Kabupaten Sanggau. Setibanya di Pontianak, pekerja migran ini ditampung sementara di Dinas Sosial Kalimantan Barat. Namun, karena melebihi kapasitas, maka petugas Dinas Sosial pun kemudian menyulap garasi menjadi tempat penampungan.

Pantauan Pontianak Post, garasi berukuran sekitar empat kali sepuluh meter tersebut dikelilingi terpal berwarna hujau. Alas lantai juga dilapisi terpal, kemudian dilapis kembali menggunakan karpet. Sehingga layak untuk ditempati sementara.Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kalbar, Yuline Marhaeni mengatakan, sudah mempersiapkan tempat penampungan bagi mereka. Sudah ada dua shelter yang digunakan untuk pria dan wanita. "Tapi karena kapasitasnya terbatas, kami tampung sementara di garasi. Tempat sudah disiapkan," ungkap Yuline.

Yuline menambahkan, seluruh biaya tersebut menggunakan dana anggaran dari Kementerian Sosial. Biaya tersebut meliputi konsumsi dan pemulangan ke daerah masing-masing. "Biaya semua ditanggung Kemensos sampai pemulangan. Kami juga menunggu jadwal kapal untuk pemulangan di luar Kalbar. Kalau belum ada jadwal, ya tak mungkin kan kita usir mereka, jadi ditampung dulu di sini," ujar dia.

Para pekerja migran yang dipulangkan tersebut sebagian besar berasal dari luar Kalbar, seperti dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Sedangkan dari daerah Kalbar, ada yang langsung dipulangkan ke daerah asal usai dilakukan pendataan, diantaranya warga yang berasal dari Bengkayang.Selter penampungan untuk tenaga kerja Indonesia yang dideportasi dari Malaysia di Dinas Sosial Provinsi Kalbar tak memadai. Instansi tersebut hanya memiliki dua rumah yang masing-masing memiliki dua kamar.

“Jika yang dideportasi lebih dari 100 orang, tak cukup daya tampungnya,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalbar, Junaidi seusai pertemuan di Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (10/2).Junaidi mengatakan pada akhir 2015 dideportasi sekitar 240 TKI dari Malaysia. Selasa (9/2), dideportasi sebanyak 104 TKI lagi. Dari 104 orang tersebut, sebanyak 37 orang warga Kalbar dan 68 orang berasal dari Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Tenaga kerja yang berasal dari Kalbar sudah ada yang pulang bersama keluarganya. Tetapi ada juga yang dipulangkan oleh Pemprov Kalbar menggunakan APBD.

“Mereka yang berasal dari Jawa Timur dan NTB akan dipulangkan ke daerah asalnya menggunakan dana dari APBN. Rencananya Jumat (12/2) kapal baru ada,” kata Junaidi.Sebelum dipulangkan, TKI tersebut ditampung di selter milik Dinsos Kalbar. Tetapi karena jumlahnya banyak, sarana yang ada tak memadai. Mereka terpaksa berdesakan di selter tersebut.Junaidi meminta Kementerian Sosial memperhatikan kondisi tersebut dan dapat membangunkan selter yang representatif. Paling tidak memiliki 100 kamar. Hal ini mengingat Kalbar menjadi daerah transit bagi TKI yang dideportasi.

“Paling tidak mereka itu diinapkan dulu di selter dua sampai empat hari karena menunggu jadwal kapal,” ungkap Junaidi.Menurut Junaidi, pihaknya sudah beberapa kali meminta bantuan Kementerian Sosial untuk membangun selter. “Tetapi hingga saat ini belum ada realisasinya,” tutur Junaidi.Sementara itu, Pemerintah Malaysia kembali memulangkan 111 pekerja migran bermasalah. Para pekerja tersebut dipulangkan melalui melalui PPLB Entikong, Selasa (9/2) sekitar pukul 00.00.Kepala BP3TKI Pontianak Aminudin mengatakan, pemulangan pekerja migran bermasalah tersebut berasal dari Depot Imigrasi Semuja, Sarawak sebanyak 99 orang dan pemulangan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui KJRI Kuching sebanyak 12 orang.

Dia menuturkan, setelah proses serah terima, para pekerja langsung didata oleh petugas BP3TKI Pontianak dan Polda Kalimantan Barat, dan diketahui dari ratusan pekerja yang dipulangkan itu 68 orang berasal dari luar Kalbar dan 34 orang berasal dari Kalbar. “Dari data yang ada, 111 itu, 102 orang diantaranya laki-laki dan sembilan orang perempuan,” kata Aminudin, Rabu (10/2).Dia menjelaskan, setelah dilakukan pendataan di PPLB Entikong, 104 orang pekerja dibawa ke Dinas Sosial Provinsi Kalbar untuk selanjutnya dipulangkan ke daerah asal, sementara ada tujuh pekerja yang tinggal karena warga Entikong Kabupaten Sanggau dan akan dijemput pihak keluarga.

Menurut dia, pekerja tersebut dideportasi karena tidak memiliki paspor, cap paspor mati, tidak memiliki visa, izin kerja dan izin kerja mati, namun ada juga terlibat kriminal yakni kasus narkoba. Mereka juga sudah menjalani hukuman penjara satu sampai enam bulan di Malaysia.BP3TKI, lanjut dia, selama ini sudah bekerjasama dengan dengan Satgas TKI Bermasalah Kalbar selalu siap dalam menghadapi pemulangan TKI Bermasalah dari Malaysia atau pun Brunei Darussalam. Bahkan bersama Polda khususnya Subdit Renakta untuk bersama-sama menangani proses pemulangan itu karena dalam proses pemulangan pekerja bermasalah ditemukan indikasi adanya tindak pidana perdagangan orang sehingga nanti kasus-kasus yang ditemukan bisa ditindaklanjuti.

Aminudin pun berharap pemerintah daerah asal pekerja migran agar lebih sering memberikan sosialisasi bermigrasi aman ke luar negeri kepada masyarakatnya. Sehingga mereka terhindar dari risiko bermasalah di luar negeri. “Dalam upaya melakukan penanganan terhadap TKI bermasalah kami akan melakukan kegiatan pemberdayaan berupa pelatihan kewirausahaan sehingga diharapkan nantinya setelah mereka dilatih bisa menjadi wirausahawan dan tidak lagi berangkat menjadi TKI non prosedural,” terangnya. (arf/uni/adg)

Berita Terkait