Tuturkan Perjuangan Salim Kancil Melalui ’’Putih’’

Tuturkan Perjuangan Salim Kancil Melalui ’’Putih’’

  Senin, 4 April 2016 09:08
SKETSA: Muhammad Iqbal menunjukkan sketsa gambar untuk lagu ’’Putih” di Surabaya kemarin. ARISKI PRASETYO/ JAWA POS

KOTA itu tampak sentausa benar. Dipayungi gunung yang menyemburkan asap tipis. Rumah-rumah berjajar rapi. Dan, sebuah jalanan yang terlihat lengang. 

Tapi, kemudian kematian datang...

Dengan segera kesentausaan itu bersalin rupa menjadi kedukaan. Sebuah ambulans, tiga pria di dalamnya, dan keranda berisi jenazah. 

’’Dengar pembicaraan tentang pemakaman

Dan takdirku menjelang…’’

Begitulah Muhammad Iqbal membuka komikalisasinya atas Putih karya Efek Rumah Kaca (ERK). Diunggah ke YouTube pada 31 Januari lalu, hingga tadi malam pukul 21.00 WIB, tafsiran mahasiswa ITS Surabaya atas lagu tersebut sudah ditonton 19.744 kali. 

’’Saya enggak nyangka yang nonton sebanyak itu,’’ katanya merendah.

Bahkan, pada era digital seperti sekarang ini, komikalisasi lirik masih termasuk barang langka di Indonesia. Berbeda dengan musikalisasi puisi. Di YouTube, di luar klip video resmi penyanyi atau band, sampai tadi malam hanya ada tiga lagu yang ditafsirkan dalam bentuk komik atau gambar. 

Selain Putih oleh Iqbal yang berdurasi 9 menit 45 detik, ada karya ERK lain, Lelaki Pemalu, yang merupakan hasil sebuah kompetisi video. Satu komikalisasi lainnya atas lagu Letto, Sandaran Hati. Itu pun sangat pendek, cuma 24 detik. 

Iqbal mengaku, komikalisasi Putih itu tercipta dengan tidak sengaja. 

Berawal tahun lalu ketika mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITS itu mengikuti kuliah apresiasi desain. 

Sebagai tugas akhir semester, dosen meminta setiap mahasiswa membuat media desain lewat visual. Namun, karya yang dibuat harus mengandung tanggung jawab sosial. 

Pemuda Banyuwangi kelahiran 25 November 1993 itu pun mencoba menyusun konsep. Karya apa yang akan dibuat. ’’Sebab, bagi saya, tak mudah membuat karya yang menyuarakan kepedulian sosial,’’ katanya. 

Seminggu lewat, Iqbal tetap sulit menemukan ide. Justru bayangan kegagalan yang memenuhi pikiran. Padahal, tenggat pengumpulan tugas kian dekat.

Di puncak kemampetan pikiran, Iqbal pun melarikan diri ke warung kopi tak jauh dari tempat kosnya di kawasan Keputih, Surabaya. Koran Jawa Pos yang tergeletak di meja warung disambarnya. Tanpa ada maksud mencari berita tertentu. 

Pada November 2015 itu, kasus pembunuhan Salim Kancil, aktivis anti-tambang pasir Lumajang, tengah menjadi sorotan hangat. Ide pun langsung mampir di kepala Iqbal. ’’Saya tergerak untuk membuat cerita Salim Kancil,’’ terangnya.

Iqbal sudah mempunyai gambaran akan membuat sebuah video yang menggambarkan perjalanan Salim Kancil. Berbagai referensi dicari. Mulai koran, situs berita, sampai buku. Namun, ternyata tak mudah menemukan jalan cerita kehidupan pria asal Desa Selok Awar-Awar itu. Buntu lagi. 

Tapi, ’’pertolongan’’ akhirnya datang ketika dia tengah leyeh-leyeh di kamar sembari mendengar lagu ’’Putih’’. Lagu dari album ’’Sinestesia’’ rilisan 2015 itu dianggap Iqbal mirip dengan jalan hidup Salim Kancil. 

’’Ada sequence atau babak. Bagian pertama menjelaskan tentang ketiadaan, bagian kedua merupakan kelahiran,’’ terangnya. 

Sedari awal, Iqbal memang ingin menghadirkan karyanya itu sebagai penghormatan kepada mereka yang gugur dalam memperjuangkan keadilan. Serta kelahiran kepada harapan baru. ’’Artinya ini memberi keyakinan. Akan muncul pahlawan-pahlawan baru untuk membela masyarakat,’’ paparnya. 

Iqbal memang penggemar berat ERK. Band indie yang digawangi Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bas), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) itu dikenal memiliki kepedulian sosial dan politik tinggi. Karya mereka, ’’Di Udara’’, misalnya, diinspirasi oleh aktivis hak asasi manusia Munir. Arek Batu tersebut, seperti diketahui, tewas diracun dalam perjalanan udara ke Belanda 12 tahun silam. 

Setelah menemukan lagu yang cocok, proses selanjutnya mencari lirik ’’Putih’’. Ini tak sulit. Bisa dengan mudah ditemukan di internet. Hanya perlu validasi karena banyak versi yang beredar di internet. 

Setelah itu, berlanjut ke proses menghidupkan lirik menjadi gambar. Ini yang paling panjang dan sukar. Sebab, Iqbal ingin seluruh liriknya harus dituangkan ke dalam gambar. 

Akhirnya, dipilihlah kertas HVS. Satu lembar dibagi menjadi delapan kotak. Satu penggal lirik dibuat satu gambar. Misalnya, lirik awal saat kematian datang. 

Untuk sketsa awal gambar, dia menggunakan pensil. Ketika dirasa sudah bagus, baru ditindas spidol. Mahasiswa angkatan 2011 itu menyebut total ada lebih dari 200 gambar yang dibuat untuk menghidupkan lirik ’’Putih’’. ’’Untuk pengerjaan kurang lebih dua minggu,’’ jelasnya.

Ternyata tidak semua bagian lagu bisa diterjemahkan dengan mudah ke dalam gambar visual. Ada bagian yang teramat susah. Yakni, pada menit 04.05 sampai menit ke 06.15. Saat babak awal babak kelahiran. 

Pada bagian tersebut, hanya musik yang terdengar dari ’’Putih’’. Tanpa lirik. Iqbal pun dibuat pusing. ’’Saya gambar apa. Saya bingung,’’ ucapnya.

Namun, akhirnya solusinya didapat: dengan gambar abstrak. Awalnya diisi asap. Asap itu memutar membentuk sebuah titik. Titik memanjang menjadi gambar sebuah wajah orang. Terkadang menangis. Dan yang terakhir berubah menjadi seorang bayi yang terbungkus kain putih.

Iqbal mengatakan, pemilihan gambar asap itu tanpa pertimbangan yang rumit. ’’Karena saya suka gambar asap, hehehe,’’ ucapnya.

Semua penafsiran itu dilakukan tanpa berkonsultasi atau bertanya kepada para personel ERK. Iqbal memang ingin terjemahan dia ke dalam gambar murni berdasar apa yang dia tangkap dari lirik. 

Penggalan lirik ’’membuka jalan menuju Tuhan’’, misalnya, dia gambarkan dengan ambulans yang melintas di jalanan lengang. Dengan view dari atas. Serta ’’dan kematian hanya perpindahan’’ diterjemahkan dengan sesosok bayangan di atas genting rumah. 

Tahapan selanjutnya menggabungkan antara gambar dan lirik. Pada proses tersebut, Iqbal menggunakan software Manga Studio. Kesulitan kembali muncul: memperkirakan berapa detik satu gambar harus muncul. ’’Jadi, ya harus diteliti satu per satu,’’ ucapnya.

Tepat tiga minggu karya itu rampung. Tugas akhir semester tersebut langsung dipamerkan ke dosen dan teman sekelasnya. Hasilnya pun memuaskan. Pemuda yang juga menggemari band Silampukau itu mendapatkan nilai A.

Setelah itu, baru Iqbal mengunggahnya ke YouTube. Tidak ada niat apa-apa selain hanya ingin berbagi. Namun, ternyata unggahan itu berbuah ketenaran. 

Dalam satu minggu pertama, 2.000 orang sudah melihat video tersebut. Karyanya juga sempat di-review salah satu majalah musik terkenal. 

’’Katanya sih Cholil Mahmud juga sudah lihat. Tapi saya juga denger-denger saja, hehehe,’’ ucapnya. 

Iqbal mengakui komikalisasi memang melelahkan. Tapi, bagi dia, itu bagian dari ’’perjuangan’’. Sebab, setidaknya dia ikut menyuarakan kebenaran yang diperjuangkan mereka yang semangatnya terekam dalam ’’Putih’’.

’’Dan tentang kebenaran Juga kejujuran Tak kan mati kekeringan Esok kan bermekaran.” (*/c17/ttg)