Tumbuhkan Kepercayaan Diri Korban Bullying

Tumbuhkan Kepercayaan Diri Korban Bullying

  Selasa, 19 September 2017 10:00

Berita Terkait

PENGALAMAN adalah guru terbaik. Ungkapan ini sangat tepat disematkan pada Syekh Arpi Ageng. Pernah menjadi korban bullying, tak membuatnya terpuruk atau melakukan hal serupa pada orang lain. Melainkan lebih tergerak untuk membantu teman-teman yang bernasib serupa dengannya. Karena ia juga mengetahui  apa yang dibutuhkan teman-temannya yang merasakan bullying.

Aksi pendampingan mulai dilakukan cowok yang akrab disapa Ageng ini sejak pertengahan tahun 2012. Meski saat ini dirinya menempuh pendidikan di Amikom Yogyakarta, tak menyurutkan langkahnya untuk tetap melakukan pendampingan. Ageng tetap semangat untuk memberikan pendampingan lewat group chat yang dibentuknya.

 Lewat pendampingan, Ageng merasakan banyak perubahan sikap teman-temannya yang sedikit demi sedikit mulai terbuka. Bahkan, hampir seluruhnya sudah percaya diri untuk bersosialisasi dengan orang lain. “Senang banget mereka sudah diterima oleh lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Ageng juga nggak sendiri dalam memberikan fasilitas. Alumnus MAN 2 Ketapang ini juga dibantu oleh teman-teman komunitas, seperti forum anak dan pramuka, serta beberapa aktivitas yang peduli dengan masalah ini. Rentang usia yang dibina berkisar 6 hingga 19 tahun. Alasannya sih, dikarenakan rentang usia ini masih lebih mudah untuk dibentuk. Terlebih umur yang tak terlalu jauh, membuat pendampingan terasa layaknya sahabat maupun teman.

Pendampingan ini juga dilakukan secara terjadwal dengan masa libur. Serunya, proses pendampingan sendiri dilakukan dalam bentuk teman bermain, teman belajar, peyalur dan pencari donatur, serta konektor korban dengan keluarga serta masyarakat. Sedangkan untuk tempatnya sendiri lebih sering dilakukan di rumah korban, panti asuhan serta jalanan. “Saya juga kerap mengangkat isu broken home ke forum-forum resmi seperti pembuatan suara anak Kalbar, seminar, sosialisasi, serta di Forum Anak Nasional,” tuturnya.

Sejauh melakukan pendampingan, Ageng merasa senang saat melihat para korban bisa diterima dan mau berinteraksi dengan lingkungannya kembali. Terlebih, ketika mereka berhasil meraih prestasi. Sedangkan dukanya lebih pada saat banyak orang yang menolak mendanai kegiatan ini. Terkadag, Ageng juga harus pulang malam dalam kondisi hujan dikarenakan lokasi pendampingan yang cukup jauh. 

Pengalaman paling menarik dan nggak terlupakan saat melakukan pendampingan yang pernah dialami Ageng, saat dirinya berhasil mendampingi korban hingga bisa berinteraksi normal. Namun, pendampingan yang telah berhasil itu sedikit menyimpan kesedihan, dimana beberapa anak nggak mau pisah. “Tangis haru menghampiri antara korban dan pendamping. Momen-momen ini lah yang tak terlupakan bagi saya,” curhatnya.

Hanya saja, dalam suatu waktu Ageng nggak berhasil dalam melakukan pendampingan. Jika dihitung, dari 10 orang korban, 8 orang berhasil didampingi oleh cowok yang juga aktif di Forum Anak Daerah Kalbar ini. (ghe)

 

Berita Terkait