Tujuh WNI Ikut Serang Marawi

Tujuh WNI Ikut Serang Marawi

  Kamis, 1 June 2017 08:00
MENCEKAM: Sejumlah warga Marawi, Filipina berlari menuju sebuah truk evakuasi, Rabu (31/5). Wilayah ini dilanda pertempuran antara tentara pemerintah dengan kelompok Militan Maute yang berafiliasi ke ISIS. Sejumlah WNI diduga bergabung dengan kelompok Maute. AFP

Berita Terkait

Satu Orang Dikabarkan Tewas di Marawi

JAKARTA – Philippine National Police (PNP) bersama Polri menempatkan tujuh WNI dalam daftar pencarian orang (DPO). Seluruhnya diduga terlibat dalam aksi teror di Kota Marawi, Mindanao, Filipina. Bersama kelompok Maute yang sudah berbaiat kepada ISIS, mereka melawan gempuran militer setempat. Sampai kemarin (31/5), konflik yang membuat Marawi berubah menjadi medan tempur masih berlanjut.

Informasi WNI terlibat dalam konflik tersebut sempat simpang siur. Keterangan dari PNP dan Polri menegaskan hal itu. ”Otoritas kepolisian Filipina (PNP) merilis ada tujuh WNI yang patut diduga terlibat  dalam penyerangan terhadap Kota Marawi di Filipina Selatan,” terang Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Martinus Sitompul kemarin. Tujuh WNI itu berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

Menurut Martinus tujuh WNI itu bertolak dari Indonesia dan masuk Filipina secara resmi. Mereka memiliki paspor. ”Sudah bisa dikonfirmasi bahwa mereka berangkat karena ada catatan dari pihak kepolisian,” ungkap  dia. Berdasar data dari PNP dan Polri, foto empat dari tujuh WNI itu sudah disebar. Sedangkan tiga lainnya belum lantaran kepolisian Filipina maupun Indonesia belum mengantongi foto mereka. 

Secara lebih rinci, Martin membeberkan identitas empat WNI terduga teroris yang sudah dirilis PNP. Yakni Al Ikhwan Yushel, Yayat Hidayat Tarli, Anggara Suprayogi, dan Yoki Pratama Windyarto. Mereka berangkat dari Indonesia ke Filipina pada medio Maret – April. ”Yayat Hidayat Tarli berangkat ke Filipina 15 April 2017 bersama Anggara Suprayogi,” kata mantan kabid humas Polda Metro Jaya itu. 

Sebelumnya, Yoki Pratama Windyarto terbang ke Filipina 4 Maret 2017. Selang tiga pekan, Al Ikhwan Yushel menyusul pergi ke negeri di bawah kendali Rodrigo Duterte itu. Sedangkan tiga WNI terduga teroris lainya meliputi Moch. Jaelani Firdaus, Muhamad Gufron, dan Muhammad Ilham Syahputra. Nama terakhir diinformasikan tewas dalam pertempuran dengan militer Filipina. ”Yang satu orang patut diduga telah meninggal dunia,” ucap Martin.

Meski sudah mengantongi data tujuh WNI teduga teroris tersebut, Polri belum bisa memastikan keberadaan mereka. Masih ada di Filipina atau malah sudah keluar dari sana. ”Itu yang masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut,” imbuh Martin. Sambil memastikan hal itu, Polri meneruskan informasi dari PNP ke seluruh jajaran kepolisian tanah air. Mulai tingkat polda, polres, sampai polsek yang tersebar di berbagai wilayah.

Martin memastikan, tujuh WNI itu berbeda dengan 16 plus 1 WNI yang sudah dirilis lebih dulu oleh Kementerian Luar Negeri. ”Itu orang yang berbeda, itu orang yang berbeda,” tegas dia. Berdasar informasi yang dia terima, 16 plus 1 WNI itu sudah berada di Kota Davao dan akan dipulangkan ke Jakarta. Di antara konflik yang masih panas, pemerintah berusaha secepat mungkin memulangkan mereka.

Menko Polhukam Wiranto pun memastikan bahwa belasan WNI itu tidak terkait sama sekali dengan Kelompok Maute. Mereka juga tidak terlibat dalam aksi teror di Marawi. ”Yang berangkat ke sana, yang tercatat kan Jamaah Tablihg  (JT),” kata dia. JT, kata dia, merupakan organisasi yang concern berdakwah. Mereka terperangkap dalam pusara konflik di Marawi dalam agenda dakwah yang sudah direncanakan. 

Sampai saat ini upaya memulangkan mereka ke Indonesia terus dilakukan. Wiranto mengakui, tidak mudah membawa WNI yang terjebak dalam konflik di Marawi. Perlu waktu serta koordinasi intens dengan otoritas setempat agar mereka bisa segera kembali ke tanah air. ”Kami berusaha menyelesaikan itu dan berusaha mengeluarkan mereka dari sana,” ujarnya. Namun, ketika ditanya soal tujuh WNI yang diduga terlibat dalam aksi teror, dia ogah menjawab. 

Sementara itu, Menlu Retno Marsudi menyatakan, belum mendapatkan informasi mengenai penetapan tujuh WNI sebagai bagian kelompok teroris di Marawi. ’’Selama saya belum mendapatkan konfirmasi, saya belum bisa menyampaikan informasi, takutnya salah,’’ ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan kemarin.Yang jelas, dia memastikan kemlu terus berkomunikasi dengan otoritas Filipina maupun perwakilan Indonesia di Davao. ’’Jadi, semua dalam pantauan ketat kita,’’ lanjutnya. 

Informasi apapun yang muncul berkaitan dengan WNI di Filipina dipastikan segera diupdate oleh kemlu. Di sisi lain, pemerintah juga sedang menyiapkan evakuasi bagi 16 WNI yang saat ini terjebak di Marawi. Tim kemlu sudah bersiap di Davao dan Iligan bila sewaktu-waktu evakuasi dilakukan. ’’Mudah-mudahan besok (hari ini, red). Semua tergantung situasi di lapangan hari ini (kemarin),’’ terang diplomat 54 tahun itu.

Otoritas militer dan kepolisian Filipina telah menyetujui langkah evakuasi terhadap WNI di kawasan tersebut, yang terbagi ke dalam dua tempat. AFP Armed Forces bakal memberikan save conduct pass kepada tim evakuasi, dan mengerahkan pasukan untuk berjaga di sepanjang rute evakuasi.

Menlu menjelaskan, ada dua rute yang disiapkan untuk evakuasi. Salah satunya melalui kota Marantao. Yang jelas, muara dari dua jalur itu ada di kota Iligan. Dari iligan, para WNI akan dibawa ke bandara di kota Cagayan de Oro. ’’Insya Allah kalau situasi tidak memburuk, besok (hari ini, red) mungkin akan mulai dilakukan evakuasi,’’ tuturnya.

Pada rute pertama, ada empat orang yang memandu WNI. Sementara, di jalur kedua, ada tiga orang pemandu. Akses dan pengamanan oleh aparat setempat sudah didapatkan oleh pihak Kedutaan besar Indonesia, sehingga tinggal menunggu kepastian apakah WNI sudah memungkinkan untuk dievakuasi.

Retno menambahkan, pihaknya masih menanti konfirmasi dari otoritas Filipina  mengenai kabar satu WNI yang diisukan meninggal di Marawi. Yang sudah jelas identitasnya dan masih hidup ada 16 orang, sehingga untuk sementara merekalah yang akan dievakuasi. Kemlu juga belum berani memastikan jumlah seluruhnya 17, dan memilih menyebut 16 orang plus 1.

Pengamat terorisme Al Chaidar tidak kaget mendapat informasi tujuh WNI diduga terlibat dalam aksi teror di Marawi. Sebab, sejak 2014 sampai 2017 banyak WNI bertolak ke Filipina untuk berlatih bersama Kelompok Maute. ”Mereka memang terlibat sebagai teroris,” kata dia. 

Filipina menjadi tempat berlatih dengan fasilitas Kelompok Maute. Asal para teroris tersebut dari berbagai jaringan dan kelompok. Salah satunya Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Muhammad Ilham Syahputra yang dilaporkan sudah tewas dalam pertempuran dengan militer Filipina, kata Al Chaidar, adalah salah seorang anggota MIT. ”Anak buah Santoso,” jelasnya. Namun demikian, dia belum tahu pasti jumlah WNI yang berangkat ke Filipina untuk berlatih bersama Kelompok Maute. Yang pasti, mereka sudah dalam kondisi siap perang. Karena itu, dia tidak heran apabila mereka terlibat dalam aksi teror di Marawi. 

Berkaitan dengan potensi gerakan dari Filipina Selatan ke Indonesia, Al Chaidar mengungkapkan bahwa Kelompok Maute maupun ISIS tidak akan sembarangan bergerak. Sebab, mereka butuh persiapan matang. Termasuk di antaranya sumber daya dan infrastruktur. ”Dalam lima tahun mungkin masih di Mindanao,” kata dia. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lengah. Mereka tetap harus waspada.

Al Chaidar mendukung langkah pemerintah dengan mengerahkan TNI dan Polri ke wilayah perbatasan Indonesia – Filipina. ”Saya kira memang harus,” imbuhnya. Terpisah, Menhan Ryamizard Ryacudu menyebutkan, pemerintah Indonesia sudah lama mewaspadai gerakan ISIS di Filipina Selatan. Mereka tidak tinggal diam dengan gerakan tersebut. Apalagi pasca konflik di Marawi pecah.

Pejabat yang akrab dipanggil Ryamizard itu menyatakan, antisipasi dilakukan dengan menyiagakan pasukan di darat, laut, dan udara. Bukan hanya di wilayah Sulawesi Utara, Kalimantan Utara pun demikian. ”Itu sudah diantisipasi,” ujarnya. Senada, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh. ”Sejak pagi hari setelah kejadian di Marawi pangdam langsung melaporkan langkah-langkah yang dilakukan,” tegasnya. (byu/syn)

Berita Terkait