Tucano Ngebor Tanah Tiga Meter, Mesin Masih Hidup 10 Menit saat Pesawat Jatuh

Tucano Ngebor Tanah Tiga Meter, Mesin Masih Hidup 10 Menit saat Pesawat Jatuh

  Jumat, 12 February 2016 08:46
Foto Darmono/Radar Malang

Berita Terkait

MALANG -  Bisa dibayangkan, betapa kerasnya hunjaman pesawat Super Tucano TT 3108 ke tanah di permukiman warga Jalan LA Sucipto, pada Rabu pukul 10.09 (10/2). Karena pesawat seberat 1.550 kilogram itu sampai bisa ”ngebor” tanah sedalam hampir tiga meter. Bekas lubang menganga usai pesawat dievakuasi sempat terlihat pagi kemarin.

Karena jatuh secara vertikal, maka seluruh bodi pesawat nyaris tidak ada yang tersisa. Saat dievakuasi selama tujuh jam sejak, bodi pesawat yang dipiloti Mayor (Pnb) Ivy Safatillah itu remuk redam.  Tidak ada bagian yang utuh. Sehingga seluruh bagian pesawat ringsek. Saat dievakuasi body pesawat nyaris tidak ada yang terlihat utuh.

Pesawat diperkirakan jatuh menghujam secara vertikal. Saat jatuh tersebut mesin pesawat dalam kondisi masih hidup. Sehingga baling-baling terus berputar dan mengebor tanah selama sekitar sepuluh menit. “Jadi mesin tidak mati waktu jatuh sehingga masuk menembus tanah seperti mengebor,” jelas Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna saat konferensi pers.

Akibatnya kemudian body pesawat tertancap ke dalam tanah. Diperkirakan hingga sampai di kedalaman mencapai sekitar tiga meter. Sehingga yang terlihat dari permukaan tanah hanya bagian belakang pesawat saja saat itu.

Ketika jatuh ke dalam tanah ini pesawat membuat getaran yang sangat dahsyat. Sehingga tembok rumah di sekitarnya runtuh. Dan bodi pesawat pun akhirnya semakin tidak terlihat.

Benar saja efeknya kemudian evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cepat. Tubuh pesawat mulai terlihat setelah tujuh jam dievakuasi. Itu bersamaan dengan ditemukannya jasad Serma Syaiful Arief Rahman selaku co-pilot atau juru mesin udara.

Evakuasi baru bisa dimulai setelah ada traktor yang masuk ke lokasi pada sore hari (10/2). Secara perlahan kemudian reruntuhan disingkirkan sedikit demi sedikit. Dilakukan dengan penuh hati-hati karena di dalam bodi pesawat masih ada bahan peledak.

Ketika itu ada 11 catridge dan dua tabung roket pelontar yang ditemukan masih aktif. Ini oleh petugas lanjut dievakuasi ke Lanud Abdulrahman Saleh. Lalu sekitar pukul 21.30 ditemukan bagian tubuh lain dari Serma Syaiful lainnya yang terpisah.

Sekitar pukul 23.00 evakuasi kemudian dihentikan. Karena kondisi saat itu sudah cukup gelap dan tanpa ada banyak penerangan. Oleh Danlanud Abdulrahman Saleh Marsekal Pertama TNI Djoko Senoputro evakuasi diperintahkan lanjut keesokan paginya.

Lalu sekitar pukul 08.00 kemarin (11/2) evakuasi kembali dilanjutkan. Kali ini hanya sisa puing-puing pesawat saja dan mencari Flight Data Recorder (FDR) yang belum ditemukan. TNI AU dibantu TNI AD, Brimob, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang.

Saat proses evakuasi dilakukan jalan di LA Sucipto, Kecamatan Blimbing kembali ditutup. Police line dibentangkan mulai dari radius kejauhan 50 meter dari lokasi jatuhnya pesawat. Arus kendaraan juga dialihkan saat itu.

Body pesawat terakhir yang cukup besar ini dikeluarkan dengan susah payah. Bodi pesawat yang sudah ringsek sampai ditarik menggunakan sling tali yang ditarik mobil. Bodi pesawat yang hancur ini lalu dinaikkan ke atas truk untuk dibawa ke Lanud Abd Saleh.

Lalu sekitar pukul 09.15 FDR atau yang biasa dikenal dengan Black Box ditemukan. Itu menancap di dalam tanah hingga sedalam sekitar tiga meter lebih. Data yang berisi rekaman terakhir pilot ini kemudian dibawa ke Lanud Abd Saleh juga.

”Benar FDR sudah di lanud sekarang. Isinya masih akan kami pelajari. Hasilnya nanti menunggu,” jelas Kapentak Abd Saleh Mayor Sus Hamdi Londong.

Yang membuat miris adalah ditemukannya kembali potongan dari jenazah Serma Syaiful untuk yang ketiga kalinya. Padahal sekitar pukul 11.00 jenazahnya dijadwalkan untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan, Untung Suropati, Jalan Veteran, Kecamatan Klojen.

Potongan dari tubuh lainnya tersebut ditemukan tercecer terpisah sekitar pukul 08.00. Oleh petugas potongan tubuh itu dimasukkan ke dalam plastik berwarna kuning. Dan tidak lama kemudian datang mobil ambulans dari rumah sakit TNI AU.

Syaiful tewas dengan bagian tubuh yang terpotong-potong ini sebab memilih bertahan di dalam pesawat. Diperkirakan karena dia kemungkinan hendak mempertahankan kendali pesawat yang ditinggal melompat oleh pilot Mayor (Pnb) Ivy  Safatillah. Meskipun sama juga ternyata nyawa Ivy juga tidak dapat diselamatkan karena parasut yang dia kenakan ternyata terlepas.

Dengan posisi duduk yang tidak jauh dari moncong pesawat tentu tubuh Syaiful mengalami tekanan cukup dahsyat. Apalagi baling-baling di depan saat itu juga terus berputar. Sehingga sangat wajar jika beberapa bagian tubuh dari Syaiful kemudian terpisah-pisah.

Evakuasi baru selesai sekitar pukul 12.00. Ketika itu jalan di LA Sucipto kembali dibuka untuk umum. Walaupun saat itu masih banyak anggota dari TNI maupun polisi yang masih berjaga di lokasi.

Usai evakuasi bodi pesawat tuntas, giliran rumah milik Mujianto, tempat jatuhnya pesawat diratakan dengan tanah. Rumahnya tersebut rencananya hendak dijadikan monumen tempat pesawat jatuh. ”Tapi kami masih menunggu kesepakatan dahulu (bikin monumen),” jelas Dandim 0833/Kota Malang Letkol Arm Aprianko Suseno.Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Super Tucano menghantam tiga rumah warga. Yang paling parah adalah rumah milik Mujianto, 54. Peristiwa nahas tersebut sampai memakan empat korban jiwa. (zuk/abm)

 

Berita Terkait