Tuan Rumah KTT OKI, Indonesia Perjuangkan Akses ke Al Aqsa

Tuan Rumah KTT OKI, Indonesia Perjuangkan Akses ke Al Aqsa

  Kamis, 4 February 2016 09:31
UTUSAN NEGARA SAHABAT: Duta Besar Latvia Baiba Braze menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Joko Widodo di Jakarta kemarin (3/2). raka denny/jawa pos

Berita Terkait

JAKARTA – Indonesia terus memantapkan eksistensi di kancah global. Dalam satu hari kemarin (3/2), pemerintah menjalankan dua agenda penting. Agenda pertama ialah menerima surat kepercayaan 13 duta besar negara sahabat. Agenda kedua berupa rapat kabinet persiapan sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat TinggiOrganisasi Konferensi Islam (KTT OKI) Maret mendatang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, politik bebas aktif yang dianut membuat Indonesia bisa bergerak lincah. Posisi politik tersebut juga membuat Indonesia bebas menjalin kerja sama strategis dengan banyak negara. ”Ini sangat penting untuk eksistensi kita di dunia internasional,” ujarnya di Istana Negara kemarin.

Sementara itu, Indonesia yang dipercaya sebagai tuan rumah dadakan KTT OKI mulai bersiap. Presiden Jokowi mengatakan, sebenarnya OKI sudah menunjuk Maroko sebagai tuan rumah penyelenggaraan KTT luar biasa. Agenda KTT kali ini ialah membahas perbatasan-perbatasan wilayah negara muslim di wilayah di Masjidilaqsa. Namun, Maroko menyatakan tidak sanggup.
”Indonesia ditunjuk sebagai pengganti dan kita siap,” katanya saat rapat kabinet terbatas kemarin.

Retno Marsudi menambahkan, kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah KTT pada 6–7 Maret 2016 di Jakarta tersebut merupakan bentuk komitmen dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Dengan memfasilitasi pertemuan yang dihadiri 56 kepala negara/pemerintahan itu, Indonesia juga ingin menunjukkan komitmen untuk berperan dalam stabilitas dan perdamaian Timur Tengah. ”Jadi, ini agenda penting,” tuturnya.

Menurut Retno, isu akses masyarakat muslim ke Al Aqsa atau Al Quds juga sangat penting. Selain itu, Indonesia berupaya agar negosiasi yang melibatkan Israel dan Palestina dimulai lagi karena telah terhenti sejak Mei 2015. (owi/c9/kim)

 

Berita Terkait