Trenyuh Ketika Anak Bilang, Capek Berobat

Trenyuh Ketika Anak Bilang, Capek Berobat

  Minggu, 13 December 2015 06:56
Yenni Liana

Berita Terkait

MEMILIKI anak yang masih balita tentu menyenangkan bagi banyak orang tua. Masa tersebut anak sedang lucu-lucunya. Celotehan, tangisan, bahkan kegembiraan anak usia balita menjadi hiburan tersendiri bagi orang tuanya. Lelah sang ayah akan hilang seketika kala melihat buah hati menyambut penuh ceria. Hal ini pula yang dirasakan oleh Yenni Liana (37 th) bersama sang suami. Anak pertamanya Faiz Muhammad Aufa, menjadi penyemangat dalam hidup mereka.

Namun ujian hidup harus mereka jalani. Usia 4 tahun 9 bulan, saat Faiz masih duduk di Pendidikan Usia Dini (PAUD) ia merasakan kondisi tubuhnya tidak seperti biasa. Kakinya nyeri dan lemas. Ia merasakan kesulitan saat berjalan. “Kalau disuruh berdiri, tidak mampu. Hal ini dirasakan tiap malam,” jelas Yenni. Kondisi tersebut membuat dia dan suami menjadi kalut. Khawatir sang anak terkena penyakit yang serius. Dibawalah Faiz ke dokter. “Awalnya dokter bilang ada virus di kaki.  Saat itu anak saya sudah menunjukkan gejala panas yang tinggi. Dikasih obat penurun panas, turun sebentar naik lagi,” ucapnya.

Ikhtiarnya bersama sang suami tak henti disitu saja. Mereka membawa anak pertamanya itu ke dokter lain. Disitulah ia seperti merasakan sengatan yang menyakitkan ketika dokter mengatakan anaknya kemungkinan mengalami gejala leukimia. “Saya terkejut, bahkan menangis sejadi-jadinya. Tak percaya anak saya bisa sakit kanker. Bahkan sempat menyalahkan diri sendiri. Saya tambah hancur ketika membaca internet tentang penyakit ini, tapi saya akhirnya pasrah,” jelasnya.

Tak ingin larut dalam kepedihan, Yenni segera membawa anaknya berobat ke Rumah Sakit Khusus Kanker Dharmais, Jakarta. “Saat itu saya menggunakan Jamkesmas. Dokter memang menyarankan agar cepat dibawa, khawatir kondisinya semakin parah,” jelasnya.  Saat dibawa ke RS Dharmais, anaknya pun menjalani proses pemeriksaan. Ternyata benar ada sel kanker dalam tubuhnya. Anaknya pun di minta untuk rawat inap. “Saat rawat inap dia menjalani proses pengobatan. Sempat transfusi darah juga. Trombositnya saat itu sempat 2000. Saat kemoterapi awal dia tidak bisa jalan, akhirnya saya gendong. Tidak bisa baring. Tapi kami terus mengikuti protokoler kemoterapi selama dua tahun hingga akhirnya kondisi Faiz lebih membaik,” paparnya.

Namun, ujian hidup kembali ia rasakan. Tiba-tiba setelah melewati masa protokoler kemoterapi selama 2 tahun itu, penyakitnya muncul kembali. Anaknya kini harus melewati proses pengobatan. Jika tadinya pengobatan standar, kali ini lebih tinggi. “Anak saya harus mengulang protokoler kemoterapi dari awal lagi. Dia sempat tidak mau, capek katanya. Kadang saya juga harus pandai-pandai membujuk Faiz agar mau berobat. Biasanya saya menjanjikan setiap satu suntikan satu mainan,” papar dia yang mengatakan saat ini usia anaknya sudah 8 tahun 6 bulan.

Menjalani proses pengobatan anaknya ini, Yenni dan suami bukan tak menemui berbagai halangan. Selain harus saling menguatkan mental dengan suaminya, dukungan keluarga dan teman-temannya juga sangat membantunya.

Lebih banyak mengurus sang buah hati, mereka berdua harus kehilangan pekerjaannya. “Saya dulu bekerja, suami juga harus berhenti. Sebab kami sama-sama fokus mengurus anak. Kami berdua khawatir terjadi apa-apa. Untunglah banyak bantuan dana dari teman, bos tempat saya bekerja dulu, dan lainnya. Sampai sekarang pun teman kuliah saya masih suka membantu,” ucapnya penuh syukur.

Yenni juga sempat merasakan satu fase yang sangat memilukan. Saat anaknya tidak bisa melihat cahaya sebab ada gangguan di syaraf matanya. “Dia tak bisa duduk, berdiri. Saya sudah pasrah apapun yang terjadi. Badannya pun kurus, tidak mau makan. Suka mual dan emosinya tidak terkendali. Tapi Alhamdulillah Allah masih memberikan umur panjang buatnya. Saya berharap dia bisa sembuh dan main layaknya anak seusia dia,” katanya menahan haru.

Faiz juga memiliki seorang adik yang kini berusia 3 tahun. Saat Yenni harus membawa anaknya pertamanya berobat, anak keduanya terpaksa tinggal dengan keluarganya. “Saat itu usianya masih 40 hari. Sampai sekarang pun dia sering ditinggal. Kadang di rumah neneknya, kadang di rumah ipar saya. Dia suka tanya saya dan suami kemana. Kadang saya sedih juga harus meninggalkan dia,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait