Tren “Huuu..” Tak Terkendali

Tren “Huuu..” Tak Terkendali

  Minggu, 3 April 2016 10:23
Lorenzo dan Marc Marquez

Berita Terkait

SANTIAGO-- Ketika semua orang menuntut sportifitas kepada para atlet, termasuk pembalap MotoGP, tuntutan yang sama harus kandas ketika berhadapan dengan fans. Atmosfer yang tercipta dari perseteruan antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di Sepang tahun lalu masih terus berdampak sampai saat ini. 

Di balapan pembuka Qatar, para penonton yang bisa jadi kebanyakan fans berat Rossi lagi-lagi menyoraki Marquez dan Jorge Lorenzo saat keduanya perkenalan di grid. Teriakan “huuu…” juga berlanjut saat keduanya berdiri di podium menerima trofi.

“Tradisi” ini sudah dimulai sejak di GP Sepang. Itu adalah buntut dari tuduhan Rossi kepada Marquez yang dianggapnya membantu Lorenzo saat balapan dan menghambat laju motornya di GP Australia. Tuduhan tersebut benar-benar memantik kemarahan fans Rossi di seantero dunia.

Di Sepang, begitu nama Marquez dan Lorenzo dipanggil di grid suara “huuu…” menggema dari grandstand. Begitu juga saat di podium. Terus berlanjut sampai di balapan penutup di Valencia.

Ketika memenangi balapan di Qatar selebrasi pertama yang dilakukan Lorenzo begitu melintasi garis finis adalah berdiri di atas motor lalu melakukan gerakan tangan seperti menarik resleting pada mulutnya. Lorenzo memang enggan menjelaskan apa arti selebrasi tersebut, namun banyak pihak yakin itu bermaksud membungkam suara miring dari para penggemar Rossi.

Lorenzo menganggap tidak ada yang salah dengan perilakunya dalam beberapa bulan terakhir, sehingga harus mendapatkan respon negative dari penonton MotoGP. ’’Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan dalam beberapa bulan ini. Kami hanya berkonsentrasi untuk menjadi sangat cepat,’’ ujanya di Argentina Kamis (31/3) waktu setempat seperti dikutip Crash.

Marquez sendiri mengaku tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Namun dia sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi situasi itu dan beradaptasi. ’’Bagiku, ini seperti hal yang tidak aku sukai dalam sepak bola. Jadi tentu aku tidak nyaman apalagi jika itu ditujukan kepadaku,’’ terangnya. ’’Tapi pada akhirnya ini adalah sesuatu dimana aku harus terbiasa. Aku tidak bodoh. Jadi aku musti beradaptasi,’’ lanjutnya. 

Rossi sendiri memilih menjauh dari isu tersebut. Beberapa kali wartawan mengejarnya untuk meminta komentar terkait situasi tersebut dia menolak menjawab. ’’Aku tidak tahu soal itu. Tapi aku rasa di Qatar tidak banyak fansku di sana,’’ tukasnya singkat. Rossi mengatakan, situasi tersebut di luar kendalinya. Karena itu dia juga tidak tahu bagaiamana menghentikan tren itu.

Baik Lorenzo dan Marquez mengaku akan tetap bertindak profesional bahkan jika harus terus menghadapinya sepanjang musim. Muncul kabar bahwa keduanya memilih tinggal di dalam hotel dan enggan keluar jika tidak ada urusan di sirkuit karena alasan keamanan. Lorenzo membantahnya. ’’Tidak, tidak! Aku tidak takut dan jika aku tidak keluar dari hotel itu karena aku harus berlatih atau relax menjelang balapan,’’ bantahnya. 

Marquez pun demikian. Ancaman dari para penggemar Rossi tak membuat mentalnya surut. ’’Aku takut karena kemarin saat naik pesawat, satu mesinnya mati,’’ katanya sambil tersenyum. ’’Tapi di sini aku tidak takut,’’ tegasnya. 

Argentina adalah satu dari tiga pertarungan besar antara Marquez dan Rossi tahun lalu. Keduanya terlibat duel bahu dengan bahu di lap-lap terakhir yang menentukan. Ketika duel panas berlangsung Rossi yang baru keluar tikungan menyenggol bagian depan motor Marquez. Insiden tersebut mengakibatkan pembalap 23 tahun tersebut terjerembab menghajar aspal dan gagal menyelesaikan balapan.

Marquez menyebut insiden tersebut sebagai insiden dalam balapan. Meski banyak fans Rossi yang menganggap bahwa sejak di Argentina itu dendam Marquez mulai tumbuh. Kondisi tersebut diperparah ketika di GP Belanda keduanya kembali berdual dan di tikungan terakhir bersenggolan sehingga Rossi harus melintasi gravel sebelum finis sebagai pemenang. (cak)

Berita Terkait