Transkrip Sosial 2018

Transkrip Sosial 2018

  Rabu, 27 December 2017 09:53   374

OLEH: MARLUWI 

HIDUP itu selalu bergerak dalam degupan waktu. Pagi, siang, sore dan malam sebagai saksi-saksi nyata mengitari hari-hari kita. Siapa pun dia, lengkapnya kita semua, selalu menjadi saksi kehadiran pagi, siang, sore dan malam.  

Itulah waktu, suatu ‘ruang’ di mana kita terus-menerus berpacu, berkelahi, berkejaran dengannya. Bahkan kita ikut terlibat di dalamnya menjadi bagian dari waktu. Dalam detak waktu itulah sejarah manusia akan lahir, hidup dan tumbuh. 

Hanya saja ke arah mana sejarah akan di bawa oleh manusia? Jawabannya ada pada masing-masing manusia. Al-Qur’an tunjukkan ke kita: Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (QS. 103: 1-3). 

Teks Qur’an di atas sebagai alarm, serta untuk menjadi pengingat kepada siapa saja, manusia. Karena hanya pada manusialah surat (ayatnya) Tuhan tersebut ditujukan. Di mana manusia dibebani, diamanahi, dimandati, diberi tanggung jawab dan seterusnya. 

Peralihan waktu, masa atau apa pun namanya. Seyogianya kita “belanjakan” kepada hal-hal positif, bermanfaat. Dengan itulah hidup kita punya makna, bernilai, berbobot. 

Saya sendiri berharap demikian, dalam konteks keindonesiaan saat ini. Pergantian tahun, pergantian kepemimpinan atau apa pun itu. Indonesia tetap harus selalu menjadi Indonesia dan menjaga kebhinekaannya, kemajemukannya dan seterusnya. 

Selalu merawat dan semaikan kearifan, kebijaksanaan kepada sesama. Tetap “menyanyikan” kedamaian, kemakmuran, keadilan dan pemerataan ekonomi sedekat-dekatnya kepada rakyat semesta Indonesia. Hukum selalu menjadi panglima tertinggi di dalam keindonesiaan kita, yang mengatur dan melindungi segenap tumpah darah rakyat Indonesia.

Tahun 2018 mendatang, tentu bukan ‘substil’ untuk kita mimpikan harapan-harapan tersebut di atas. Pewujudnyataannya tentu bukan suatu kemustahilan, namun sebaliknya, kita semua punya tanggung jawab. Tahun 2018 seyogianya menjadi ikonisasi keberadaban serta membumikan hal-hal di atas ke dalam denyut seluruh tumpah darah rakyat Indonesia. 

Pengalaman serta laku-laku “cacat” yang pernah kita torehkan sebelumnya, tanggung jawab kita untuk men-delete, dan menguburnya dalam-dalam. Hari-hari yang akan kita lalui nanti ke depan; hidup ini harus menjadi lebih baik, berkualitas secara sosial dan moral. 

Tanam Cinta  

Tahun 2017 yang akan segera berakhir ini, mungkin kita perlu sama-sama melakukan refleksi. Terutama dalam kaitan/hubungan manusia dengan sesamanya. Ibarat sebuah bangunan, saya kutip Ignas kleden (2004: 196): “Di mana seorang tinggal tidaklah sekadar lokasi tetapi adalah juga identitas. Entah rumah itu dirancang oleh arsitek kondang yang mahal atau hasil susunan beberapa karton bekas, tempat itu tetaplah sebuah rumah, sebuah usaha, dan hasil membangun. Dengan perkataan yang lebih kontemporer, rumah adalah sebuah konstruksi.” 

Indonesia sebagai “rumah” bersama kita, “rumah” ini perlu kita suburkan energi humanisme, moralisme dan nilai-nilai etis sosial lainnya. Tak perlu “menanam” benci, hasut, adu domba dan praktik-praktik degradatif yang memecah belah kita semua. 

“Rumah” besar Indonesia harus kita suburkan dengan kecintaan; cinta kepada sesama, cinta tanah air. Hemat saya, kedua hal ini merupakan modal besar dan moral yang tak boleh tergerus sedikit pun. 

Tahun 2018 saya dan kita semua tentu berharap Indonesia menjadi lebih baik, pemimpinnya terukur dan terarah dalam membawa dan membangun Indonesia, membawa rakyatnya menjadi lebih baik. Ekonominya semakin baik, pengangguran teruraikan, kemiskinan perlahan-lahan terpecahkan, pemerataan pendidikan, kemudahan akses kesehatan kepada seluruh tumpah darah rakyat Indonesia. 

Demikian halnya, wibawa supremasi hukum dengan sungguh-sungguh dipelihara. Keadilan dalam tegakkan hukum menjadi “mercusuar” utama dan terus-menerus ditegakkan, dipertahankan. Dalam konteks inilah tahun 2018, hemat saya, harus dicita-citakan dan diwujudkan sungguh-sungguh semua di atas tersebut. 

Kita semua akan sangat bahagia jika “rumah” kita ini, Indonesia, berada dalam kondisi atau situasi sosial yang baik. Pemimpinnya menjalankan roda pemerintahan dengan jujur dan amanah, rakyatnya aktif berpartisipasi dan mendukung seluruh kebijakan positif yang dilakukan pemerintah.

Ibarat sebuah transkrip nilai saat kita kuliah di S1, S2 atau di jenjang S3. Kita tentu ingin punya transkrip nilai yang baik, dan bagus. Meski tak harus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4.00, tapi sekurang-kurangnya kita punya IPK tak terlalu rendah. Minimal untuk menjadi kebanggaan diri kita sendiri, kebanggaan orangtua, atau keluarga serta sanak famili tercinta. 

Mudah-mudahan Indonesia di tahun 2018 menjadi lebih baik; tentram, aman, damai, sejahtera, dan Indonesia rahmatal lil alamin....      

*Penulis alumnus Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA)