TPA Sibau Hulu Harus Relokasi

TPA Sibau Hulu Harus Relokasi

  Senin, 19 September 2016 09:30
BAU MENYENGAT: Bau busuk menyengat di lokasi TPA sampah Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara, persis di pinggir jalan negara Lintas Utara.

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Aliyanto, kepala Sub Bagian Penyelesaian Masalah Pertanahan Bagian Pertanahan Setda Kapuas Hulu meminta agar tempat pembuangan akhir (TPA) Sibau Hulu, Kecamatan Putussibau Utara direlokasi. Perelokasian tersebut, menurut dia, harus dilakukan lantaran keberadaan TPA yang persis di tepi jalan negara, sehingga setiap hari dilewati banyak orang, terutama dari luar.

“Begitu masuk Kota Putussibau, terutama tamu dari Malaysia, langsung mencium bau busuk yang bersumberkan dari TPA yang berada persis di tepi jalan negara itu,” ungkap Aliyanto di Putussibau, kemarin. Bau busuk menyengat itu, dikhawatirkan dia, menimbulkan kesan tidak baik bagi Kapuas Hulu. Menurutnya, TPA tersebut juga hanya beberapa menit bisa dijangkau dari ibu kota kabupaten, sehingga Putussibau terkesan kumuh dan jorok.

Siapapun tak bisa menampik saat melintasi ruas jalan di pinggiran TPA tersebut. Bau busuk tercium menyengat, peris di jalan strategis nasional lintas utara itu. Bau busuk itu tentu saja berasal dari tumpukan sampah. Sejumlah warga pun meminta pemerintah setempat segera merelokasi TPA tersebut, karena dinilai sudah sangat tak layak lagi berada di situ.

“Terjadi pencemaran lingkungan yang luar biasa di TPA Sibau Hulu itu. Bau busuk menyengat ketika orang melintasi sekitar TPA,” ungkap Aliyanto. Dia mengatakan, TPA Sibau Hulu mesti segera direlokasi, karena keberadaannya di tepi jalan negara, yang setiap hari dilewati banyak orang, terutama tamu dari luar.

Selain merelokasi TPA Sampah di Sibau Hulu, Aliyanto juga menyarankan agar Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang menempatkan TPS atau amrol, di tempat-tempat yang tidak mengganggu lingkungan. Dimisalkan dia di depan-depan kantor. Selain itu, di bawah amrol, menurut dia, juga mesti dibuat parit agar air mengalir. Dengan demikian, dia yakin limbah dari sampah tidah tergenang, tapi cepat mengalir dan kering serta tak berbau.

Aliyanto juga menyebutkan, perlu menggerakan masyarakat membentuk bank sampah. Hanya saja, menurut dia, harus ada penyaluran sampah, atau pihak ketiga yang siap menampung sampah-sampah yang sudah ditampung oleh masyarakat. Dengan cara seperti itu, dia yakin masyarakat tertarik mengelola sampah sendiri. “Sosialisasi harus gencar dilaksanakan. Tidak hanya Dinas Cipta Karya, tetapi instansi-intansi lainnya,” terang dia.

Selain menempatkan amrol di setiap RT minimal dua bak sampah dan menggerakan bank sampah, menurut dia juga mesti memberikan reward and punishment. Apalagi, dia menyayangkan, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya sangat rendah. “Sampah dibuang ke sungai melalui Jembatan Kapuas. Banyak sangkut, terbuang juga banyak, itu membuat pendangkalan sungai,” bebernya.(aan)

 

Berita Terkait