Toman, Patin, Gurame dan Kaloi Kabur dari Tambak

Toman, Patin, Gurame dan Kaloi Kabur dari Tambak

  Senin, 28 March 2016 10:03
BANJIR: Ibu-Ibu nelayan sungai dan danau membawa hasil tangkapannya untuk di jual. Sungai dan danau banjir, ikan lepas dari tambak. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Bencana banjir yang masih melanda sejumlah kecamatan di sepanjang sungai Kapuas dan danau di daerah Kabupaten Kapuas Hulu menjadi perhatian serius Dinas Perikanan Kapuas Hulu. Betapa tidak. Akibat banjir, budidaya ikan jadi percuma. Mustaan, Kapuas Hulu

BANJIR meluas. Air sungai dan danau meluap. Nelayan ikan air tawar di Kapuas Hulu pun kebingungan. Ikan-ikan siap panen dan menjelang dewas kabur, bersamaan dengan tingginya debit air sungai Kapuas. Akibat banjir berkepanjangan tangkapan nelayan tradisional pun menurun drastis dalam satu bulan ini.

Selain berdampak langsung pada hasil tangkapan nelayan, tingginya debit air sungai Kapuas juga bisa mengancam kelangsungan budi daya ikan melalui tambak. Itu dibenarkan Wajidi Ali STP, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Kapuas Hulu.

“Jika tidak diantisipasi, banjir ini dapat mengancam produksi ikan diwilayah Kapuas Hulu yang tengah dibudiaya masyarakat nelayan,” terang dia akhir pekan lalu.

Yang dimaksudkan Wajidi bisa mengancam kelansungan budi daya ikan adalah tingginya debit air sungai bisa menghanyutkan atau merusak tambak serta berkurangnya pakan ikan, terutama jenis ikan toman. Kendati demikian, belum ada nelayan ataupun petugas Kecamatan yang dilanda banjir melaporkan masalah tersebut.Hanya saja antisipasi sejak dini sangat diperlukan agar tak kecolongan.

“Dalam berbagai pertemuan, saya selalu minta masyarakat untuk tentukan langkah antisipasi banjir yang sedang terjadi. Walaupun sampai hari ini belum ada melapor,” tuturnya. Seperti diketahui, tahun ini daerah Kapuas Hulu yang dilanda banjir antaranya Kecamatan Silat Hilir, Semitau, Suhaid, Selimbau, Jongkong dan Kecamatan Batang Lupar, itu merupakan daerah terparah terdampak banjir.

Dikatakan dia, Kapuas Hulu masih menjadi daerah penyuplai ikan air tawar terbesar di Kalbar. Oleh karena itu populasi ikan yang ada sekarang perlu dipertahankan, bahkan ditambah jumlahnya. Saat ini yang tengah digalakan untuk budidayakan oleh masyarakat nelayanan adalah ikan patin, gurami atau kaloi. “Ikan toman tetap masih primadona, karena membudidayakannya tidak sulit,” jelasnya. Ikan toman tetap dimintai untuk pasar lokal seperti kota Putussibau, kota Sintang dan beberapa kota lainnya di Kalbar, termasuk kota Pontianak.

“Toman tetap diminati masyarakat. Informasinya bisa untuk obat, seperti ikan gabus,” jelasnya. Dia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menangkap ikan dengan cara-cara melawan hukum. Seperti nuba, nyetrum dan meracun ikan sungai dan danau. Wajidi menjelaskan, Pemda, melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 8 Tahun 2012 telah mengatur alat tangkap ikan yang direkomendasikan. Mengingat, jika dibandingkan tahun 2014 lalu, tahun 2015 populasi ikan mengalami penurunan. “Menggunakan bahan kimia dan setrum, dilarang. Sekarang ini masyarakat masih menggunakan alat tangkap sederhana, belum ada yang canggih,” tandasnya. (*)

Berita Terkait