Toleransi Dijunjung Tinggi, Peluk dan Salam dari Umat Buddha

Toleransi Dijunjung Tinggi, Peluk dan Salam dari Umat Buddha

  Minggu, 9 July 2017 09:00
Gerbang Kampung

Berita Terkait

Berlebaran di Kampung Muslim Nuern Plub Warn

Nuansa itu tak sama. Nuansa Lebaran dengan kesederhanaan dan jauh dari hiruk pikuk gemerlap perayaan hari kemenangan. Nuansa yang berbeda bila dirasakan jika berlebaran di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Tapi, kerbersamaan dan rasa persaudaraan itu masih tetap melekat. Ini nuanasa yang saya rasakan saat berlebaran di Kampung Nuern Plub Warn, Thailand. 

Shando Safela,  Thailand

Kios makan yang menyediakan sup khas Thailand, berderet di sepanjang jalan utama. Stiker dengan gambar bulan dan bintang, menandakan makanan yang dijual halal. Sebuah asumsi buat saya, bahwa banyak kaum muslim di kawasan ini. Meski masih dalam suasana Idulfitri, kehidupan disini tampak biasa saja. 

Kawasan Nuern Plub Warn terletak di jalur highway Bangkok-Pattaya. Jaraknya 150 kilometer di utara ibukota Thailand, Bangkok. Banyaknya warung makan yang menjual makanan halal, menunjukkan ada perkampungan muslim di daerah ini. Sejenak membuat saya berfikir untuk menyusuri daerah ini.

Saya berhenti tepat di sebuah pintu gerbang beraksen Islam, dengan ciri khas dua menara dengan kubah di atasnya. Tak hanya bentuk, warna hijau dan tulisan arab di atasnya membuat saya yakin bahwa ini adalah perkampungan muslim. 

Saya memasuki gerbang dan menyusuri gang kecil di dalamnya. Ornamen kaligrafi menghiasi beberapa rumah di dalam gang ini. Meski dalam suasana Idulfitri, warga tetap menjalankan kegiatan seperti biasanya. Tak ada dekorasi khusus untuk menyambut hari kemenangan umat muslim ini.

Perjalanan menyusuri jalan utama kembali saya lanjutkan. Beberapa ratus meter dari gerbang tadi, saya menemukan sebuah masjid besar. Masjid itu bertuliskan menggunakan aksara Thailand, namun disisi lain saya menemukan dalam bahasa latin yang ditulis dengan "Noo Rule Yakeen", yang lebih biasa kita dengar dengan Nurul Yaqin.

Di dalam masjid terdapat beberapa orang tua yang tengah duduk bersantai. Salah satunya sedikit bisa berbahasa melayu, meski terbata, saya mengerti apa yang diucapkannya.

Masjid Nurul Yaqin dibangun sejak 50 tahun silam. Di awal pembangunan, beberapa umat muslim dari berbagai penjuru seperti India dan Arab turut memberikan sumbangan. 

Sampai pada akhirnya, Masjid ini diambil alih pemerintah Thailand. Oleh pemerintah, masjid ini diperluas dan direnovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Kubah di atas mimbar masih dipelihara dengan baik. Bagian belakang masjid merupakan komplek pemakaman yang merupakan tanah wakaf.

Di sebelah kanan terdapat sekolah muslim seperti pesantren untuk belajar agama Islam. Di sebelah kiri dibangun sekolah super besar, bentuknya membentuk huruf 'U'. Setiap bangunannya dibuat lebih dari empat lantai. Meski dibuka untuk umum, siswa yang belajar di sekolah ini mayoritas muslim.

Saat saya berkunjung ke sekolah ini, para siswa tengah ujian semester, padahal di negara kita masih dalam suasana libur Idulfitri. Idul fitri tetap menjadi hari yang besar bagi mereka. Meski perayaannya tak sebesar di negara kita, mereka tetap saling menghormati. 

Umat Buddha yang menjadi mayoritas, sangat menjunjung tinggi rasa toleransi mereka. Jika ada yang melintas, mereka saling memberi salam, bahkan sesekali memberi pelukan. Rasa toleransi antarumat beragama sangat dijunjung tinggi. Meski populasi muslim hanya sedikit, mereka tetap saling menghormati satu sama lain. (*)

 

Berita Terkait