Tolak Trans Gafatar

Tolak Trans Gafatar

  Rabu, 10 February 2016 08:43
TOLAK GAFATAR: Massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Dayak Kalbar melakukan unjuk rasa di Bundaran Digulis Jalan Ahmad Yani, Selasa (9/2). Mereka menolak kedatangan kembali pengikut Gafatar kembali ke Kalbar. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Dayak Kalbar melakukan unjuk rasa menolak kedatangan kembali pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kalimantan Barat dalam bentuk apapun, termasuk transmigrasi.

Aspirasi itu disampaikan di Bundaran Universitas Tanjungpura Pontianak, Gedung DPRD dan Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (9/2) siang.Dengan menggunakan alat peraga seperti poster bertuliskan tuntutan, puluhan massa ini melakukan orasi di Bundara Tugu Digulis sebelum menuju ke Gedung DPRD dan kantor Gubernur Kalbar dengan kawalan ketat aparat kepolisian.Dalam orasinya Paulus Ade Sukamyadi, koordinator aksi mengatakan, aksi yang lakukan ini merupakan bentuk penolakan sekaligus pernyataan sikap menolak kembalinya pengikut Gafatar dalam bentuk apa pun, termasuk melalui program transmigrasi. "Kami atas nama pemuda menolak kembalinya Gafatar dalam bentuk apapun," katanya.

Menurut Paulus, Gerakan Fajar Nusantara adalah gerakan yang menganut paham menyimpang dengan ideologi Pancasila. "Kami tidak menolak orangnya, tapi kami menolak paham yang mereka anut, karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila," tegasnya."Kami tidak butuh penambahan orang melalui program apapun, tapi kami butuh pembangunan infrastruktur, jalan, kesehatan dan pendidikan. Bukan transmigrasi yang justru merugikan kami," sambungnya.

Paulus juga meminta agar Menteri Sosial dan Menteri Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk dicopot jika masih memaksakan kembalinya pengikut Gafatar ke Kalbar dalam bentuk transmigrasi. "Jika itu masih dipaksakan, kami tidak bertanggungjawab kalau terjadi sesuatu atas mereka (Gafatar)," katanya.Menurutnya, keputusan mengikutsertakan pengikut Gafatar dalam program transmigrasi sangat terburu-buru dianggap melukai masyarakat Kalbar. Karena masyarakat Kalbar baik di pedesaan maupun perkotaan juga sedang dihadapkan dengan berbagai kesulitan seperti terbatasnya infrastruktur, seperti energi listrik, sumber air bersih, irigasi, pemukiman, akses jalan dari desa menuju kota atau sebaiknya. "Belum lagi dengan banyaknya kasus korupsi yang menyengsarakan rakyat banyak," pungkasnya. 

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan bahwa aliran Gafatar sesat. Setelah mengeluarkan lima poin putusan, akhirnya MUI juga mengeluarkan delapan poin yang menyatakan bahwa Gafatar beraliran sesat. Hal itu dikatakan Ketua Komisi Fatwa MUI Kalimantan Barat, Wajidi Sayadi, Selasa (26/1).Berdasarkan penelitian dan pengkajian dengan melihat data dan sumber pengakuan anggota Gafatar ada delapan poin yang menyatakan bahwa Gafatar menyesatkan.

Pertama; Rukun Iman hanya 5, bukan 6, ke dua hari kiamat di percaya bukan hari akhir zaman, ke tiga salat dan puasa tidak wajib, ke empat masih ada wahyu sesudah Al Quran, ke lima Nabi Muhammad SAW bukan nabi terakhir dan penutup, tetapi dimungkinkan ada nabi baru yang akan lahir, ke enam mempercayai Ahmad Musadeq sebagai rasul, ke tujuh mereka menganut teologi Abraham yang menyatukan Yahudi, Kristen dan Islam dan ke delapan Allah bersemayam dalam diri rasul Nabi Muhammad SAW, Allah sudah manunggal menyatu dengan Muhammad. “Setelah di kaji, kami (MUI) menyatakan bahwa paham ini sesat. Kita sudah fatwakan beberapa hari lalu dengan mengeluarkan lima putusan,” terangnya.

Sementara tim gabungan TNI/Polri terus melakukan penyisiran di bekas-bekas pemukiman yang ditinggalkan pengikut Gafatar. Di Kabupaten Ketapang misalnya, polisi menemukan belasan kantong yang berisi buku pedoman, kartu keanggotaan dan atribut Gafatar.Barang-barang tersebut ditemukan di dalam tanah setelah mencurigai adanya bekas galian tanah di sekitar kamp.Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Arianto mengatakan, barang milik pengikut Gafatar tersebut diduga sengaja dikubur oleh pemiliknya sebelum dievakuasi.

Kapolda Kalimantan Barat Brigjen Pol Arief Sulistyanto mengungkapkan, saat ini satu tim dari Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri turun ke Kalbar untuk menindaklanjuti temuan-temuan terkait organisasi Gafatar.Menurut Arief, untuk mengusut kasus ini, pihaknya harus melakukan klasifikasi, siapa yang mencetus ide, siapa yang menyebarkan dan siapa yang hanya pengikut. "Jadi tidak bisa disama ratakan semuanya. Proses ini sedang ditangani oleh Mabes Polri," ujarnya usai memimpin gelar pasukan Ops Liong Kapuas, kemarin.

Dikatakan Arief, semua temuan-temuan yang didapat dilapangan telah diserahkan ke Bareskrim Mabes Polri untuk dikaji. Tim yang telah berada sekitar seminggu di Kalbar tersebut, menindaklajuti temuan-temuan dari Jakarta, tempat dimana Gafatar dideklarasikan.“Polda Kalbar dan Polda-Polda lainnya sifatnya mendukung penyelidikan yang dilakukan oleh tim Bareskrim Mabes Polri,” katanya. (arf)

Berita Terkait