Tolak Pulang, Meski Penjara Mengancam

Tolak Pulang, Meski Penjara Mengancam

  Kamis, 31 March 2016 09:03
Berkumpul: Anak-anak terlantar dan Gepeng duduk bersama. Yulias duduk dibelakang anak terlantar yang juga dibina di Pusat Layanan Anak Terpadu. Agus Pujianto/Pontianakpost

Berita Terkait

PAPA masuklah, gendong Pa,” teriakan itu terdengar lantang, saat memasuki pintu Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT), Jalan Ampera, Pontianak Kota, Rabu (30/3).

Suasana PLAT milik Dinsosnaker tertutup rapat. Dipagar dan dijaga satpam dan staf. Yang diizinkan masuk juga bukan sembarang orang. Butuh izin, baru bisa dipersilahkan. Di beranda penampungan, beberapa gepeng tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang rebahan, berselonjor kaki dan ada juga yang tidur.

Suara teriakan itu rupanya keluar dari perempuan yang tengah duduk di tengah ruangan. Namanya Galuh, warga asli Pontianak. Dia terlihat lebih aktif dari rekan-rekannya sesama gepeng. Setiap tamu yang datang disapa dengan panggilan papa. 

Galuh adalah perempuan difabel. Di kedua dengkul kakinya, membekas hitam. Setiap kali panggilan papa itu keluar, tangan Galuh juga mengisyaratkan kissbye, kadang juga meminta gendong. 
“Galuh tak bisa berjalan. Setelah suka memanggil Papa dan teriak,” kata Hiskia Sekuriti sekaligus staf di PLAT. Benar kata Hiskia. Setelah memanggil Papa, teriakan Galuh melengking memenuhi seisi ruangan. Setelah itu, dia bertanya. “Mampu ke belikan kamek Pampers, belikan nasi dan baju?” tanya Galuh lancar.

“Mampu” jawab Hiskia meyakinkan. “Dia itu warga Pontianak, kami sudah menghubungi keluarganya. Tapi sampai sekarang belum juga ada yang datang,” tambahnya.

Selain menjaga keamanan, Hiskia juga memberikan pengarahan kepada seluruh Gepeng yang ditampung di PLAT. Diakui dia, bulan-bulan ini penampungan mendadak ramai, dan berbeda jauh dari bulan dan tahun sebelumnya. 

“Kalau ndak ada keluarga yang bertanggung jawab atas Galuh, ya harus jadi anak negara (panti asuhan),” ungkap Hiskia menerangkan apabila alternatif yang ditempuh dengan mengunjungi alamat keluarga masih juga tidak mendapatkan kesanggupan keluarga. 

Selama di penampungan, Galuh diperhatikan oleh Yulias Kurnia (41). Mulai mandi hingga menolongnya mengenakan pakaian hingga Pampers. “Kasian, saya mandikan, juga makaikan pampers buat dia,” jelasnya. 

Yulias, bukan asli Pontianak melainkan Sumenep, Madura. Dia datang ke Kota Khatulistiwa mencari nafkah dengan cara mengemis. Sudah yang kedua kalinya dia ditangkap dan ditampung di PLAT.

Di Pontianak, Yulias tinggal di sebuah rumah kost di Siantan secara gratis. Kadang, ia tidur di atas dipan terbuat dari bambu. Untuk makan, dia mengaku beli atau juga memasak.

Diakui Yulias yang juga penyandang difabel, mengemis pilihan akhirnya saat melihat kondisi rumah tangga yang serba kekurangan. Demi mencukupi tiga anaknya yang masih kecil, ia rela merantau, meninggalkan kampungnya, mengais, meminta-meminta.

“Anak saya ndak tahu saya ngemis di sini. Saya ndak mau mereka tahu kesulitan saya, sampai ditangkap seperti ini,” kata Yulias.

Dalam benaknya, mengemis bukan perbuatan yang merugikan orang, seperti mencuri. Tapi, kenapa selalu diburu dan ditangkap. “Kami bukan penjahat. Saya mau makan apa kalau ndak kerja. Saya ditangkap, masuk koran, rasanya mau bunuh diri. Apa salah saya?” ungkap Yulias terisak, matanya meneteskan air mata.

Ibu dari tiga anak ini mengaku baru dua bulan mengemis di Pontianak. Sudah dua kali juga dia tertangkap oleh Dinas Sosial. Bulan pertama dia dipulangkan menggunakan kapal dengan biaya dari pemerintah. 

Akan tetapi, setelah sampai di kampungnya, Sumenep, Madura, Yulias terpikir untuk kembali ke Pontianak. “Anak saya yang besar kelas tiga SMP, yang kedua kelas tiga SD dan yang terakhir umurnya baru empat tahun. Kalau saya ndak kerja, mereka mau makan apa, gimana sekolahnya? Makanya saya ke Pontianak lagi, berangkat pakai kapal,” ungkapnya.

Diakui Yuli, begitu sapaan akrabnya, mencari kerja di kampung halamannya sangatlah sulit. Suaminya hanya bekerja sebagai penjahit, upahnya tidaklah seberapa, sedangkan biaya hidup semakin mahal. Mengemis, pilihan pahit yang harus ia jalani, apalagi jauh dari buah hati.

“Kami di kampung, makannya nasi tiwul (makanan dari ubi kayu). Saya ingin keluar cepat dari sini. Kayak penjahat saja rasanya di penjara (penampungan) ini. Cari kerjaan di kampung susah, akhirnya ngutang ke tetangga. Keluarkanlah, biarkan kami cari uang,” kata Yulias kesal.  

Dalam sehari, Yulias mengaku mampu mengumpulkan uang hasil pemberian orang Rp70 ribu. Hasil ini dia tabung. Dalam sebulan dia mampu mengirim uang kepada keluarga sebanyak Rp500 ribu. Jika tidak beruntung, ia sama sekali tidak bisa mengirim uang.

“Masak saya sudah dua kali kayak gini. Kalau ditangkap tiga kali, dipenjara. Ndak mau. Saya belum ada hubungi keluarga, ndak mau. Pokoknya saya minta dikeluarkan. Saya gak salah, saya bukan pencuri, apa salah saya?” kata Yuli kesal. 

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Aswin Djafar mengatakan, tindak lanjut pengemis yang terjaring nantinya akan dilihat terlebih dahulu kasusnya. Apabila baru pertama kali ditangkap, maka hanya akan dilakukan pembinaan dan pendataan, setelah itu akan dipulangkan ke daerah asal. Sementara bagi yang sudah dua kali terjaring, akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian. Dan kami sudah sepakat. Apabila yang sudah dua kali akan kami tindak lanjuti,” tegasnya. 

Di tahun 2016 ini, selama tiga bulan, sudah 37 pengemis yang sudah terjaring. Dari 14 orang, dua diantarnya warga asli Pontianak. Sementara selebihnya warga luar Kalbar. “Tahun ini yang paling banyak. Dan kami akan terus melakukan upaya penyisiran,” tegasnya.

Menurutnya, untuk mengurangi Pontianak dari pengemis, perlu peran RT sebagai ujung tombak pemerintahan. Dengan demikian, pendatang yang baru tiba di Pontianak bisa diminilasir. Paling tidak bisa mengetahui asal usul, juga diperiksa identitasnya. “Sebagai upaya preventif, RT punya peran penting. Supaya bisa mengurangi pengemis, juga masalah pekat di Pontianak,” ungkapnya.

Sesuai dengan arahan wali kota yang meminta dinas sosial tegas dan di Pontianak harus bebas Gepeng. Disebutkan pula, Gepeng sudah terogranisir dengan baik. Hal ini akan diserahkan kepada penyidik dari Polresta. 

“Bulan Mei ini, Wali Kota juga akan membuat peraturan. Barang siapa warga yang ketahuan memberikan uang kepada Gepeng, akan dikenakan sanksi. Saya sarankan, apabila ingin bersedekah, lebih baik ke tempat yang direkomendasikan” tegasnya.

Sementara untuk yang baru kali pertama terjaring, dalam waktu dekat akan segera dipulangkan ke daerah asal, tinggal menunggu jadwal keberangkatan kapal. Akan tetapi, sebelum dipulangkan, akan dibuat surat pernyataan, agar tidak kembali ke Pontianak. “Kalau sudah dua kali, tidak akan ada ampun. ” pungkasnya. (*)

 

Berita Terkait