Tolak ke Suriah, Istri Ditalak

Tolak ke Suriah, Istri Ditalak

  Selasa, 15 March 2016 09:00
GRAFIS:BUDIKECIK/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Warga Singkawang Diduga Hendak Gabung Isis

SINGKAWANG - Kabar adanya lima warga Singkawang yang diamankan Densus 88 Mabes Polri karena diduga kuat akan bergabung ke ISIS membuat pihak keluarga kaget. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 mengamankan lima warga Singkawang di Bandar Udara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (13/3). Mereka diduga hendak terbang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Lima warga tersebut adalah RKM (Suami), SAU (istri), AZR dan AZ (anak) dan seorang rekannya, Mur. 

Pontianak Post menelusuri mencari tahu sosok Mur, satu di antara warga Singkawang yang ikut diamankan Densus 88 Anti Teror. Mur beralamat di Jalan Yos Sudarso, RT 6 RW 2 No 46 Kelurahan Kuala, Singkawang Barat. Mur diketahui berprofesi sebagai guru dengan status pegawai negeri sipil. 

Mrd, mantan istri Mur, saat ditemui Pontianak Post mengaku kaget mendengar kabar terkait mantan suami itu. “Saya kaget dengar kabar ini. Bahkan saat itu saya ditelpon oleh teman saya untuk menonton salah satu televisi nasional terkait mantan suami saya,” ungkapnya.

Wanita berjilbab berusia 29 tahun ini pun bahkan pernah didatangi aparat kepolisian terkait sepak terjang suaminya. 

Mrd menikah dengan Mur pada November 2013 silam. Namun sejak Maret 2015 lalu dia resmi bercerai dengan sang suami. Sewaktu masa pengenalan hingga berumah tangga, Mrd mengatakan tidak ada yang aneh dengan mantan suaminya itu. “Dia seperti pria kebanyakan,” ujarnya. 

Perubahan sikap suaminya mulai terasa setelah enam bulan pernikahan. “Mantan suami saya sangat tertarik sekali dengan persoalan umat Islam terutama pemberitaan ISIS di media televisi,” katanya. 

Bahkan mantan suaminya yang merupakan PNS guru kala itu sempat menyampaikan kekesalan, kepedulian serta keprihatinannya dengan persoalan umat Islam di Timur Tengah.

“Ia peduli sekali, bahkan menyatakan kasihan kepada umat Islam. Siapa lagi yang akan membela mereka,” katanya menirukan ucapan mantan suaminya.

Sejak itulah Mrd melihat pola pikir mantan suaminya sudah berubah. Salah satu contoh, kata Mrd, mantan suaminya melarang untuk menghadiri undangan pernikahan. “Ia melarang untuk datang ke undangan pernikahan. Ya semacam sudah mulai radikallah. Lalu sangat pro terhadap berita Islami. Kalau ada kaitan dengan persoalan ISIS yang tidak sepaham dengannya mantan suami saya marah,” katanya.

Hal lain, kata dia, perubahan diri sang suami rajin ikut pengajian dan sering turun dari rumah mulai pukul 20.00 malam dan pulang ke rumah larut malam. Bahkan, kata dia, buku-buku yang dibacanya dari hasil meminjam dengan temannya karangan Abu Bakar Basyir. Namun apakah itu yang mempengaruhinya, Mrd mengaku tidak tahu. Ia hanya melihat apa yang dilakukan mantan suaminya selagi masih berstatus suami-istri. 

Terkait persoalan mantan suaminya akan bergabung dengan ISIS ia tidak tahu hanya mendengar dari berita di televisi. Hanya saja ia membenarkan bahwa sang mantan suami terus saja mengajaknya untuk ke Suriah dengan alasan untuk berjihad. 

“Ia sering mengajak saya ke Suriah. Alasan suami saya waktu itu untuk berjihad demi nasib umat Muslim di sana. Jujur saya menolak ajakannya dan saya mengatakan harusnya fokus menguruskan keluarga di sini,” katanya.

Komunikasi terakhir dengan sang mantan suami, terjadi pada tahun 2015. Itu pun saat mengurus perceraian. Suaminyalah yang menjatuhkan talak kepadanya sehingga pernikahan yang dibina selama 1,3 tahun kandas. 

“Mungkin alasan karena saya tidak mau diajak ke Suriah,” kata wanita berkacamata ini. Sejak itulah ia tidak mengetahui lagi keberadaan mantan suaminya.

Mrd bercerita, mantan suaminya merupakan warga asal Ngabang Kabupaten Landak. Sewaktu menikah Mur mengajar di salah satu SMK Negeri di Kota Singkawang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Singkawang, Nadjib mengaku prihatin mendengar kabar ini. Apalagi, kata dia, yang bersangkutan adalah seorang guru. Menurut Nadjib, mulai setahun lalu Mur mulai jarang mengajar. Kepala sekolah tempat Mur mengajar bahkan pernah melaporkan mengenai ketidakhadiran Mur dalam mengajar. “Dari situlah kami panggil untuk memberi pembinaan dan sampailah ke persoalan pribadi rumah tangganya. Berkali kali kami lakukan pembinaan,” ungkapnya.

Bahkan sejak mengutarakan niatnya untuk hijrah, kata Nadjib, pihaknya juga sudah memberikan nasihat. Namun sang guru masih tetap teguh pada pendiriannya. Kini, kata Nadjib, pihak dinas sudah mengusulkan pemberhentian Mur sebagai guru. “Sudah kami usulkan pemberhentian dan sejak 2015 sudah tidak menerima gaji,” katanya.

Untuk itu, kata dia, kasus salah satu mantan guru ini merupakan peringatan khususnya di lingkup dunia pendidikan. “Semua harus waspada, baik guru, maupun orangtua siswa,” katanya. 
Apalagi, kata dia, yang terlibat ini seorang guru setidaknya ada ekses yang terjadi minimal saat bersosialisasi di sekolah khususnya para siswa.

Untuk itu Dinas Pendidikan Kota Singkawang sudah rutin terjun ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman pemahaman baik kepada guru dan murid terkait paham paham radikal terutama yang mengarah ke aksi terorisme maupun paham paham ajaran sesat dengan menggandeng semua pihak.  

“Untuk itu semua pihak dan mereka yang berperan di dunia pendidikan harus waspada,” imbaunya.

Ke depannya menjadi pengalaman terutama perekrutan guru. “Tentunya selain sarja dan kualitas mutur personil, persoalan dedikasi, intergitas dan nasionalisme terhadap NKRI harus menjadi prioritas,” ungkapnya. 

RKM Kerja Bengkel

Selain Mur, Pontianak Post juga menelurusi alamat rumah RKM, salah satu warga yang ditahan Densus 88. RKM tinggal di RT 8 RW 4 Kelurahan Sungai Bulan, Kecamatan Singkawang Utara. Saat bertandang ke alamat ini, Pontianak Post bertemu dengan Imron (28), adik RKM di sebuah bengkel sepeda motor miliknya. Saat ditanya perihal yang dialami kakaknya, ia mengatakan tidak tahu. “Tidak tahu saya apa yang terjadi,” katanya. 

Imron mengatakan, sejak Lebaran tahun 2014, kakak dan keluarganya sudah pindah ke Bekasi, Jawa Barat. Alasan kepergian sang kakak untuk membuka usaha bengkel motor. “Dia mau buka bengkel di sana,” katanya.

Pria berambut pendek ini mengatakan, sejak itu kakaknya jarang pulang. Kalaupun pulang, itu pun hanya sekali saja. “Ada datang sebelum tahun baru 2015 lalu kemudian kembali ke Bekasi lagi,” katanya.

Komunikasi terakhir, kata Imron, terjadi sekitar sebulan lalu via telepon. Itu pun hanya bertanya kepada dirinya cara-cara memperbaiki atau memodifikasi motor. “Tidak ada pembicaraan lain. Kami hanya bicara soal cara memperbaiki sepeda motor,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa bengkel motor di Sungai Bulan tersebut bukanlah milik kakaknya melainkan dirinya yang dibangun sejak 2006 silam. “Ini bengkel saya, bukan punya kakak saya,” ujarnya.

Dari penelurusan diketahui RKM merupakan alumnus salah satu SMA Negeri ternama di Kota Singkawang. Dia melanjutkan kuliah di Univesitas Terbuka, Jurusan Pemerintahan. Namun RKM tidak menyelesaikan studinya. 

Imron mengatakan, sejak 4 tahun lalu, sang kakak memang sering ikut pengajian di berbagai tempat di Singkawang. Namun Imron mengaku jarang membahas soal agama apalagi soal ISIS dengan kakaknya itu.

Sementara itu, Aditya, warga Singkawang yang kini menetap di Pontianak mengaku terkejut setelah mendengar nama salah satu yang turut diamankan Densus 88 Anti Teror di Bandara Soekarno-Hatta. “Kalau benar, RKM itu saya kenal. Dia adik angkatan saya sekolah waktu SMA di Singkawang,” ujar Aditya.

Menurut Aditya, selama selama menempuh pendidikan sekolah menengah atas, pernah bergabung di beberapa organisasi, salah satunya organisasi siswa pecinta alam tercacat sebagai anggota Sispala angkatan XI. “Dia pernah bergabung di Sispala angkatan XI,” kata Aditya. 

Selama menjadi anggota, lanjut Adiya, RKM dikenal sebagai karakter pendiam dan penurut. Bahkan, ia juga jarang bicara soal ideologi keagamaan. “Rasanya tidak mungkin jika dia bergabung dengan ISIS. Karena sewaktu sekolah dan di dalam organisasi, dia tergolong pendiam, penurut dan jarang bicara saoal ideology keagamaan,” lanjutnya. 

Setelah lulus, diakui Aditya, jarang berkomunikasi, walau sesama alumni. “Setelah lulus saya jarang komunikasi. Padahal biasanya masing-masing alumni terus menjalin hubungan baik. Tapi dia seperti menghilang,” bebernya.

Pontianak Post mencoba dengan mencari akun media sosial miliknya. Dari pencarian itu ditemukan akun Facebook dengan nama Rosnazizi Rozi Abu Zhofir yang diyakini merupakan akun FB milik RKM. 

Di akun FB itu, pemilik akun sering menguggah foto perjalanan bersama keluarga dan tautan tentang ideologi keagaman. Seperti yang tertera dalam kronologi facebook tanggal 23 Desember 2015. Dia  mengunggah tautan tentang Meninggalkan Negeri Kufur dan Hijrah ke Daulah Islamiyah. “Masih bertahan di negeri bukan Islam?,” tulisnya. (har/arf)

 

Berita Terkait