Tokoh Dayak di Balik Integrasi Timtim sebagai Provinsi ke-27

Tokoh Dayak di Balik Integrasi Timtim sebagai Provinsi ke-27

  Rabu, 18 May 2016 09:30
PELUNCURAN BUKU: Dismas Aju (kanan) penulis buku biografi berjudul Palaunsoeka, Tokoh Kalimantan Barat di Balik Integrasi Timor Timur didampingi Yohanes Eugenio Ranggau Barani, salah satu putra FC Palaunsoeka, dan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, DR Clarry Sada. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sosok dan figur FC Palaunsoeka nyaris tidak diketahui oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Namun siapa sangka, laki-laki kelahiran Putussibau 1923 itu tercatat sebagai salah seorang tokoh yang memiliki peran penting di balik integrasi Timor Timur.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

SIANG itu, Selasa (17/5), di salah satu hotel di Kota Pontianak diselenggarakan  konferensi pers peluncuran buku berjudul: Palaunsoeka, Tokoh Kalimantan Barat di Balik Integrasi Timor Timur yang ditulis oleh Dismas Aju. 

Buku yang berisi tentang biografi dan karir politik Palaunsoeka ini rencananya akan dibedah pada Kamis, 19 Mei 2016 mendatang tepat pada hari kelahiran FC Palaunsoeka. 

Dalam bukunya setebal 233 halaman itu, Aju yang juga merupakan seorang jurnalis ini mengupas habis tentang latar belakang sang tokoh. 

Menurut Aju, dalam karir politiknya, Palaunsoeka nyaris tidak diketahui banyak oleh masyarakat di daerah ini. Maklum, salah seorang pendiri Partai Persatuan Dayak (PPD) ini sempat bergelut di bidang dunia intelijen sebagai staf ahli analis pergerakan komunis Eropa Timur pada Badan Intelijen Negara (BIN), 1975 – 1982. 

Keterlibatan Palaunsoeka di dalam BIN adalah dalam rangka memuluskan proses integrasi Timor Timur menjadi provinsi ke-27 Republik Indonesia. FC. Palaunsoeka juga tercatat sebagai Ketua Partai Katolik Provinsi Kalbar setelah PPD dibubarkan.

Karir politik FC Palaunsoeka sangat dinamis. Meskipun telah terpilih kembali menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1987, namun beliau di-recall karena menentang Surat Keputusan Nomor 059 Tahun 1986 DPP PDI tentang masa tugas anggota Fraksi PDI di DPR maksimal dua periode.  

Ketika itu Partai Katolik berfusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan FC Palaunsoeka pun bergabung menjadi Ketua DPD PDI Provinsi Kalbar pada periode 1973 – 1989.  

Sebelum menapaki karir politiknya, lanjut Aju, Palaunsoeka adalah seorang guru di Putussibau. Kemudian ia diangkat sebagai Pegawai Kantor Dewan Kalbar di Pontianak, kemudian menjadi Controle Mantri di Kepala Daerah Kalbar, dan selanjutnya menjadi Mantri Polisi Muda di Kepala Kantor Daerah dan Mantri Polisi non-aktif, 1 Mei 1954 – 1 Mei 1956.

Status kepegawaian ini ia tinggalkan karena berkiprah sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sehingga lebih banyak tinggal di ibukota, Jakarta. "Satu hal yang menarik tentang Bapak Palaunsoeka adalah sikap konsistensinya dalam memperjuangkan nasib masyarakat dayak. Terinspirasi oleh Surat Bapak Oevaang Oeray," kata Aju.

Banyak yang tidak tahu akan sepak terjangnya di dunia politik. Salah satunya adalah perjuangannya dalam rangka memperjuangkan J. Oevaang Oeray menjadi Gubernur/KDH Kalbar. 

Palaunsoeka diketahui telah berkirim surat kepada Tjilik Riwut yang ketika itu menjabat sebagai Anggota DPR RI Wakil Kalimantan di Banjarmasin. Suratnya berisikan permintaan untuk mendukung pencalonan Bapak J. Oevaang Oeray menjadi Gubernur Kalbar. Karena pada saat itu ada calon lain yang telah mendapatkan dukungan presiden. 

Hubungan baik antara Palaunsoeka dengan J. Oevaang Oeray terganggu sebagai akibat daripada pembubaran  PPD karena tidak memenuhi ketentuan administrasi penetapan Presiden No. 7 Tahun 1959.  Kedua tokoh dayak ini memiliki pandangan yang berbeda, yaitu J. Oevaang Oeray  ke partai Indonesia (Partindo) dan Palaunsoeka bergabung ke Partai Katolik. Penetapan partai sebagai instrumen perjuangan kedua tokoh dayak didasari berbagai faktor yang terkait dengan asas dan paham partai.

Pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto usai peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) berdampak pada pemberhentian J.C. Oevaang Oeray sebagai Gubernur Kalbar karena dianggap sebagai pendukung setia Presiden Soekarno atau Soekarnois. 

Kriminalisasi terhadap J. Oevaang Oeray dapat dieliminir oleh Palaunsoeka karena hubungan baik Palaunsoeka dengan petinggi TNI dan Polri. Akhirnya J. Oevaang Oeray dibebaskan atau tidak diproses secara hukum. 

Turut hadir di dalam konferensi pers ini, Yohanes Eugenio Ranggau Barani, salah seorang putra F. C. Palaunsoeka. Dengan adanya buku biografi ini selaku ahli waris, ia berharap menjadi pelurus sejarah. Menurutnya saat ini banyak sejarah yang dikaburkan dan disimpangkan. "Kami berharap ini menjadi salah satu pelurus sejarah yang ada. Di buku ini, kami berbicara secara riil tentang sejarah masa lalu dan kondisi masyarakat," kata Yohanes. 

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, DR Clarry Sada, mengatakan, dari buku biografi Palaunsoeka, banyak hal-hal yang selama ini belum diketahui masyarakat luas.

Di antaranya, tanggal 18 Nopember 1959, Palaunsoeka pernah mengirim surat kepada Gubernur Kalteng, Tjilik Riwut, agar mendukung Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray untuk diangkat kembali menjadi Gubernur Kalbar. J. C. Oevaang Oeray memang menjadi Gubernur Kalbar selama enam tahun, 1960–1966. 

“Tahun 1976, ketika masih menjadi anggota DPR dan merangkap menjadi staf ahli BIN, Palaunsoeka pernah menolak tawaran Presiden Soeharto menjadi Duta Besar Indonesia di Meksiko, sehingga pilihan kemudian jatuh kepada Benedictus Mang Reng Say,” kata Clarry Sada. (***)

Berita Terkait