Titisan Raja Abang Kini Pimpin Uncak Kapuas

Titisan Raja Abang Kini Pimpin Uncak Kapuas

  Jumat, 21 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

BERDASARKAN catatan sejarah, Sumardi menyebutkan, Kerajaan Nanga Bunut dipimpin tiga periode raja, yakni Raden Setia Abang Berita bergelar Kyai Adi Pati Jaya, Raden Suma Abang Mandoh dan Kyai Mangku Abang Ubal.

Kerajaan Nanga Bunut ini berada dibawah yakni Panembahan Adi (tahun 1815-1855), Panembahan Mangkunegara (1855-1858), Panembahan Mangkunegara II (1858-1876), Panembahan Mangkunegara III (1876-1884), Panembahan Adi Pakunegara (1884-1909) terakhir di bawah kuasa Kolonial Belanda (1909).

Selain bukti situs peninggalan sejarah itu, hingga saat ini garis keturunan Abang Berita dengan gelar Kyai Adi Pati Jaya masih ada. Bahkan dua garis keturunan dari Kyai Adi Pati Jaya ini sukses menjadi kepala daerah di Kabupaten Kapuas Hulu, dan salah satunya masih memimpin.

Keduanya yakni Drs H Abang Tambul Husin (dua periode, tahun 2000-2005 dan tahun 2005-2011) dan Abang Muhammad Nasir SH (dua periode yakni tahun 2011-2015 dan periode kedua tahun 2016-2021-kini sedang berjalan). Keduanya ini kakak beradik.

Berangkat dari keterpilihan memimpin Kapuas Hulu selama dua periode berturut-turut oleh abang beradik yang masih merupakan titisan Raja Nanga Bunut, Abang Berita bergelar Kyai Adi Pati Jaya inilah, tak berlebihan lanjut Sumardi, jika khazanah trah Kerajaan Nanga Bunut dapat kembali dihidupkan dan dilestarikan. Karena banyak adat budaya dan tradisi dari khazanah kerajaan ini dapat diangkat dan dilestarikan.

Yang pasti, terang pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini, situs dan peninggalan sejarah dapat terjaga terpelihara dan dilestarikan keberadaannya. “Ini tentunya menjadi modal sebagai upaya menggali potensi pariwisata di Kapuas Hulu. Tinggal sekarang bagaimana agar Kerajaan Nanga Bunut dapat diangkat, terbentuk dan diakui kembali. Mengingat fakta sejarah di Kapuas Hulu ini pernah ada berdiri suatu kerajaan. Apalagi garis keturunannya masih ada dan terbukti darah memimpin rakyat juga menitis dari garis keturunan sang raja ini,” beber Advokat yang berkantor pada Kantor Advokat dan Legal Consultant ASR di Jalan Danau Sentarum ini.

Maka menurutnya, bukanlah hal yang mustahil, dengan dihidupkannya kembali Kerajaan Nanga Bunut berikut khazanahnya, akan menambah satu dari sekian banyak potensi pariwisata Kapuas Hulu bahkan Kalbar dan nasional.

“Tentunya akan ada beberapa even yang dapat ditawarkan untuk menarik dan menggali potensi wisata di Kapuas Hulu. Yang terpenting lagi garis komunal tradisi dan budaya Kerajaan Nanga Bunut tak terputus. Dan bahkan mungkin akan membawa dampak peningkatan perekonomian warga, khususnya di Bunut Hilir.”

Dia melanjutkan di beberapa kabupaten di Kalbar ini yang dulunya pernah berdiri kerajaan, kembali dihidupkan dan dilestarikan. Salah satu contoh di Tayan, Kabupaten Sanggau. Trah kerajaan ini kembali dihidupkan oleh anak keturunannya. Apalagi, lanjut Sumardi, ini demi mengangkat kembali khazanah Kerajaan Nusantara.

Maka, lanjutnya, tidaklah salah, jika Kerajaan Nanga Bunut Kembali dihidupkan dan menjadi bagian dari komunitas Kerajaan Nusantara. “Adat dan tradisi yang baik itu harus tetap dilestarikan untuk mengingatkan anak cucu kita nantinya. Dan mungkin menjadi modal memajukan wilayah,” tutupnya. (pay/berbagai sumber)

Berita Terkait