Titik Temu

Titik Temu

Senin, 4 September 2017 09:05   269

KETIKA memberikan pengarahan pada rapat bidang akademik, Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Thamrin Usman, DEA mengatakan bahwa dalam kehidupan ini yang diperlukan adalah mencari titik temu.

Frans Johansson (2007) dalam bukunya “The Medici Effect” mengatakan hal yang sama bahwa rahasisa sukses berinovasi secara revolusioner adalah melalui titik temu (convergence). 

Inovasi secara revolusioner berawal dari suatu tempat terbaik dimana berbagai budaya, ranah dan disiplin ilmu bergerak bersama-sama menuju satu titik. Semuanya berhubungan, membuat konsep-konsep yang sudah ada berbenturan dan bergabung, akhirnya membentuk sekumpulan gagasan baru dan inovatif. Bidang-bidang yang berbeda saling bertemu, belajar bersama-sama menempa dunia baru, dan meruntuhkan pembatas-pembatas antara berbagai disiplin dan budaya, ia namakan “Titik Temu” atau konvergensi yang diyakini sebagai awal dari Renaisans yang pengaruhnya dirasakan hingga sekarang ini.

Geoge Soros dalam bukuya “Open Society” mengatakan bahwa titik temu adalah suatu tempat untuk semua orang yang bertujuan mengubah bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang didasarkan pada pengakuan bahwa tidak seorangpun bisa memonopoli kebenaran. 

Profesor Leon Cooper mempelopori riset ilmu otak di Universitas Brown menekankan pentingnya menyatukan atau menemukan titik temu antar berbagai disiplin ilmu untuk memahami pikiran manusia sebagaimana George Soros telah berhasil mempertemukan gagasan bidang keuangan dan filsafat utuk menciptakan sebuah strategi filantropi yang inovatif.

Jauh sebelumnya dalam keadaan serba terbatas, setidaknya tercatat lima ratus ilmuan Muslim telah menemukan titik temu, mereka terbukti melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan mendahului zamannya, demikian Abu Al- Qasim An-Naisaburi (2017) dalam kitabnya “Uqola Al- Majanin”. Mereka berusaha keras melawan suatu keyakinan dan pemahaman salah yakni ilmu pengetahuan adalah dikotomis yang menyebabkan krisis dn kemunduran ilmu pengetahuan.

Frans Johansson (2007) dalam bagian lain menyatakan berbagai penemuan baru, penemuan yang mengubah dunia, akan datang dari pertemuan berbagai bidang ilmu dan bukan dari dalam satu bidang ilmu itu sendiri. Ketika banyak orang dari ilmu yang berbeda berkumpul, ide-ide baru dapat muncul dari gabungan dari sudut-sudut pandang mereka, sehingga semakin diyakini bahwa kebermanfatan ilmu pengetahuan bersifat multi dan inter disipliner. 

Fenomena titik temu atau konvergensi science tersebut, semestinya menyadarkan kita, terutama mereka yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan, seperti perguruan tinggi, lembaga ilmu pengetahuan dan riset bahwa dunia sekarang semakin saling berhubungan, di mana konsep-konsep yang tampaknya tidak berhubungan ternyata berhubungan erat sehingga sikap atau perilaku egocentrik keilmuan wajib dibuang jauh-jauh.  

Frans Johansson (2007) kembali menegaskan bahwa, “Ilmu disiplin tunggal telah mati, sudah lenyap. Kebanyakan kemajuan besar melibatkan berbagai disiplin atau meminjam otak orang lain. Dalam pertemuan ilmiah berskala besar, kita semakin jarang melihat makalah dengan penulis tunggal, melainkan ditulis oleh nara sumber yang berasal dari disiplin ilmu pengetahuan yang berbeda. 

Di perguruan tinggi dewasa ini, semakin banyak jurusan, program studi yang menggunakan tanda sambung dibanding sebelumnya, misalnya matematika-fisika, biologi-kimia, geologi-kimia, geo-fisika, sosial-budaya, ekonomi-psikologi, manajemen-informatika, bio-engeneering, neuro-linguistik, neuro-psikologi, teknik-lingkungan, dan jangan heran lagi jika ditemui para ahli biologi bekerjasama dengan ahli ekonomi menganalisis pasar modal dan  ahli budaya bekerjasama dengan ahli otomotif untuk memunculkan gagasan baru tentang perilaku pasar. 

Fenomena titik temu science sesungguhnya telah berlangsung lama, faktanya adalah sebagai berikut.

Maxwell Maltz (2004) seorang doktor bidang kedokteran, namun kemudian lebih dikenal sebagai pakar psikologi citra diri yakni “The New Psycho-Cybernetics”. Ia berhasil menggabungkan domain/disiplin fisik dan psikologi ke dalam sebuah paradigma science. Ia menyatakan  bahwa, “Jika anda tidak berhasil mencapai segalanya yang anda inginkan dalam kehidupan ini, itu mungkin karena sasaran-sasaran anda tidak dikomunikasikan dengan efektif kepada, atau ditolak oleh citra diri anda, dan alat kontrol daya (servo mechanism) anda kurang dimanfaatkan dan tidak terinspirasikan”.

Anthony Robbins seorang profesional, penasehat presiden AS Bill Clinton, Lady Diana, dan Andre Agassi telah mengabdi untuk kemajuan kemanusiaan dalam bio-sains, percepatan pemahaman, neuro-linguistik, dan perkembangan anak menggabungkan berbagai keahlian, pikiran, dan disiplin ilmu pada Institut Penelitian Robbins yang didirikan dan dipimpinnya dan  berhasil merubah ketakutan menjadi kekuatan, kegagalan menjadi kesuksesan sejati, menyembuhkan orang sukses yang tak bahagia, dan orang gila dapat hidup normal kembali secara utuh. 

Noam Chomsky seorang pakar anatomi yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar linguistik, pemerhati sosial dan politik yang kritis. Ia selalu menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam kajian kritisnya, sebuah pernyatakan kritisnya, “pemerintah, para politisi, sistem ekonomi, dan media kita mengabaikan kepentingan mayoritas, namun melayani kepentingan orang kaya atau pihak-pihak tertentu”.

Larry Dossey (1997) salah seorang yang telah berhasil membuktikan secara ilmiah, dilandasi kriteria sains yang baik dan pengujian doa di laboratorium secara ketat, membuktikan bahwa doa memiliki kekuatan dalam penyembuhan berbagai penyakit sebagaimana dijelaskan dalam bukunya berjudul “Healing Words”. 

Steve Andreas & Charles Faulkner (1988) dalam bukunya “LNP The New Technology of Achievement” menciptakan paradigma baru perubahan perilaku dan organisasi melalui pembelajaran yang memadukan ilmu linguistik, neuropsikologi secara terprogram.

Kembali penulis kutip, Paul Ormerod (1998) dalam bukunya “The Death of Economict” menyatakan, “Seluruh dunia dilanda krisis ekonomi, jumlah pengangguran meningkat, defisit ganda menimpa, dan sebagainya. Para ekonom berkumpul berdiskusi, namun gagal menjawabnya, dan ilmu ekonomi telah gagal meramalkannya. Ilmu ekonomi ortodok, menggunakan matematika yang semakin rumit dan kurang melihat permasalahan ekonomi dari berbagai prespektif ilmu pengetahuan disinyalir menjadi penyebabnya”.

Mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam satu proyek penelitian (riset interdisipliner) menjadi sesuatu hal yang penting. Dan Julian Brannen (1997) dan banyak pakar penelitian lainnya telah menulis buku bertema “Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research” dan mengatakan bahwa menggabungkan pendekatan “Kuanlitatif” dan “Kualitatif” adalah penting dan menarik dalam penelitian.

(Penulis, Dosen FKIP UNTAN dan Ketua PW KB PII Kalbar)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019