Titik Pertemuan antara Langit

Titik Pertemuan antara Langit

  Minggu, 31 July 2016 11:07

Berita Terkait

Balaan Tumaan mengeksplorasi musik tradisional di Kalimantan Barat hingga ke mancanegara. Karya grup band indie ini didominasi oleh kearifan lokal Dayak dan Melayu. Mereka pun mencari titik temu dua kebudayaan itu, kemudian menjadi ide dalam bermusik. Tak hanya di Kalbar, Balaan Tumaan juga menarik perhatian saat tampil di luar negeri.

Oleh: Marsita Riandini & Deziyanti P Muliani

Balaan Tumaan merupakan salah satu bahasa Dayak Kayaan dari Mendalaam, Kapuas Hulu. Nama ini dipilih karena bisa mewakili tujuan mereka dalam mengembangkan seni, musik tradisi daerah. Balaan adalah tepi, perbatasan, sementara Tumaan berarti pertemuan. Balaan Tumaan dapat  diartikan sebagai titik pertemuan antara langit.

“Berdasarkan mitologi Dayak Kayaan, bumi berbentuk seperti mangkuk terbalik dengan langit sebagai selimut . Istilah “Balaan Tumaan” memiliki arti sebagai titik pertemuan atau batas antara bumi dan pertemuan langit di setiap akhir pandangan,” jelas Nursalim Yadi Anugerah, Music Director Balaan Tumaan.

Bagi Balaan Tumaan, tradisi merupakan spirit yang terus bergerak. Mencari tradisi dayak ataupun melayu dalam sebuah karya seni merupakan purifikasi yang selalu dan terus terbentuk oleh hal-hal definitif. Ia ada sebagai cita-cita atau keyakinan yang akan terus menegaskan diri.

“Karya kami memang didominasi oleh kearifan lokal Dayak dan Melayu. Kami mencoba untuk mencari titik temu antara kedua kebudayaan ini yang kemudian melahirkan ide-ide bagi kami dalam bermusik,” jelasnya.

Sebagai ensemble musik, Balaan Tuman menyatukan beragam jenis alat musik. Para personilnya tak hanya musisi tetapi juga komponis. Ini sebagai salah satu cara mereka untuk memperkenalkan kembali seni budaya daerah kepada banyak orang. Caranya dengan melakukan riset, diskusi, dan bereksperimen. “Tak hanya sekadar tahu jenis seni dan musiknya saja, tetapi juga mengetahui filosofi dari karya tersebut,” ungkap Yadi.

Pada 2014, Yadi mengetahui adanya arsip tahun 1997 di Paris yang mencatat tentang lagu tidur untuk anak, yakni Pudu’ Anak atau lagu tentang menidurkan anak dari Mendalam, Kapuas Hulu. Ia pun tertarik untuk mengolah musiknya dengan lagu pop. Ketika dimainkan di depan beberapa orang masyarakat Mendalam, mereka merasa pernah mendengar lagu ini. “Semacam mengobati kerinduan mereka,” terangnya.

Dari situlah, ia pun mulai menggali tentang makna dibalik lagu tidur itu.

“Saat menyanyikannya di depan masyarakat, salah satu ibu-ibu yang berusia 50 tahun  pun bercerita tentang masa dia kecil, bagaimana lagu itu dinyanyikan. Disinilah kami mengobservasi kekayaan seni musik kita dengan menggali pengalaman masyarakat,” cerita Yadi.

Yadi tak menyalahkan jika generasi muda saat ini melupakan musik daerah. Sebab, kata dia, memang yang akrab di mata dan telinga mereka adalah lagu-lagu modern saat ini. “Untuk menarik perhatian mereka, maka kita harus tahu bagaimana cara penyajiannya agar diterima oleh mereka. Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami, sehingga harapannya secara tidak langsung bisa menyadarkan kembali naluri bertradisi,” ulasnya. 

Saking cintanya dengan seni dan tradisi daerah, para personil Balaan Tumaan ingin menggandeng banyak pihak terkait untuk mendirikan Laboratorium Penciptaan. Disitu akan menjadi wadah bagi banyak pelaku seni untuk mengeksplor, meramu, dan menciptakan karya terbaik mereka. “Selama ini dalam mencari, mengelola, dan menciptakan hal baru itu kami selalu berdasarkan riset. Kami juga ingin menerapkan metode-metode baru untuk membuka jalan dalam mengembangkan musik-musik daerah,” tutur Yadi.

Jika nanti laboratorium penciptaan tersebut terealisasi, diharapkan bisa mengajak seniman lokal, maupun seniman luar untuk bertukar ide, membagi wawasan  dalam bermusik. “Tak jarang kami mengeluarkan dari kocek sendiri, tetapi kami puas bisa menampilkan seni musik daerah kepada masyarakat, dan meluas ke daerah lain, meskipun keterbatasan kami,” kata Yadi sembari mengatakan bahwa menjaga kekayaan tradisi itu tak perlu melihat dia suku apa, dan dari mana pun. Tetapi siapa pun bisa melakukannya.

Personil Balaan Tumaan lainnya, Reza Zulianda menambahkan belakangan ini Balaan Tuman sering tampil dengan membawakan alunan karya dari suku Dayak. Selain itu juga terus melakukan riset untuk karya seni Melayu.

“Kami tidak sembarangan dalam mengambil dan mengangkat budaya ini. Sebelum kami jadikan karya, kami akan melakukan riset terlebih dahulu,” ujar Reza.

Selama dua tahun, Balaan Tumaan mencoba meningkatkan karya untuk dipentaskan. “Sebelumnya karya Pak Diecky, yaitu karya Kamar Surga sudah pernah kami tampilkan. Kedepan mungkin kami akan ada pementasan lagi,” katanya. **

 

Berita Terkait