Tingkatkan Nasionalisme, Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Tingkatkan Nasionalisme, Persatuan dan Kesatuan Bangsa

  Kamis, 30 June 2016 10:24   1

Oleh: Yudi Hartadi, S.Sos., M.Pd

Masyarakat Kalimantan Barat pasti tidak akan lupa peristiwa besar dimasa penjajahan Jepang.  Karena selain sama-sama pernah dijajah sebagaimana juga di daerah-daerah lain di Indonesia, Kalimantan Barat merupakan daerah yang mengalami peristiwa besar yaitu peristiwa Mandor dan perlawanan dengan semangat yang dikenal dengan semboyan “dum spiro spero” yang artinya berjuang selagi bernapas.  Tentunya maksudnya adalah selagi jiwa dan raga ini masih bernapas atau hidup tetap benjuang demi kemerdekaan Indonesia.  

Ketika kita membaca buku sejarah di sekolah-sekolah maupun umum, banyak sekali menceritakan peristiwa-peristiwa heroik para pejuang bangsa kita seperti peristiwa Bandung Lautan Api, Peristiwa Surabaya atau juga dikenal dengan peristiwa 10 November yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan, pertempuran lima hari di Semarang, perang puputan di Bali, Medan Area, Palagan Ambarawa dan lain-lain yang sangat penting untuk kita ketahui karena perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa dalam peristiwa-peristiwa tersebut pasti menjadi contoh sikap nasionalisme yang tinggi dan semangat persatuan dan kesatuan sebagai teladan kita bagi generasi penerus.  Namun perlulah kembali disampaikan dan untuk kita ketahui atau ingat betapa daerah kita sendiri yaitu Kalimantan Barat juga mengalami peristiwa besar yang tak terlupakan.  Bahkan peristiwa ini sebenarnya termasuk sejarah besar di negara kita karena merenggut korban yang tidak kalah banyaknya.  Peristiwa yang terjadi pada tanggal 28 Juni 1944 ini dikenal dengan peristiwa Mandor atau Tragedi 28 Juni.  Sekilas mari kita ingat bersama Tragedi 28 Juni ini yang  merupakan peristiwa berdarah akibat kekejaman penjajahan Jepang terhadap rakyat  Indonesia di Kalimantan Barat.  

Berawal dari peristiwa kedatangan Jepang yang memang mulanya disambut gembira oleh bangsa Indonesia karena telah mengusir penjajah sebelumnya yaitu Belanda yang ratusan tahun menjajah Indonesia.  Bagaikan sebuah pohon beringin tua yang tentu akarnya begitu kuatnya telah mencengkram tanah dengan kokohnya.  Maksudnya bahwa Belanda telah menguasai Indonesia selama kurang lebih 350 tahun, tentu melebihi umur kemerdekaan kita sekarang sehingga mereka pada saat itu telah tahu seluk beluk daerah kita sampai ke pelosok sekalipun atau ibarat telah juga mencengkram bumi Indonesia dengan kokohnya.  Tapi Kekuatan dan kehebatan Jepang telah merenggut akar kekuatan dan merobek serta mematahkan daun dan ranting imperialisme yang telah ditanam oleh Belanda di Indonesia.  Kehebatan bangsa Jepang ini membuat bangsa Belanda bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat di Kalijati Subang, Jawa Barat pada tanggal 8 Maret 1942.  Sehingga semenjak itu bangsa Belanda tidak lagi menjajah Indonesia.  Jepang awalnya dianggap penyelamat atau penolong karena mereka selain telah mengusir Belanda juga mereka menganggap dirinya sebagai saudara tua kita, apalagi perdana menteri Koiso yang menjanjikan kemerdekaan terhadap bangsa Indonesia.  Semboyan 3A (Nippon Pemimpin, Pelindung, dan Cahaya Asia), dan organisasi-organisasi bentukan Jepang (PUTERA, PETA, Keibodan, Seinendan, Fujinkai , Dokuritzu junbi Cosakai,  Dokuritzu Junbi Inkai, dan lainnya) sempat membuat kita terlena karena percaya.  Namun sepandai-pandainya bangkai ditutupi, baunya tercium juga.  Begitulah ibarat upaya Jepang untuk menututupi penjajahannya yang seolah-olah untuk kemerdekaan Indonesia yang ternyata akhirnya diketahui juga oleh bangsa Indonesia.  

Tragedi 28 Juni di Kalimantan Barat ini memang terlalu sadis dan kejam, karena tokoh-tokoh masyarakat yang sangat dijunjung tinggi, dihargai, dan menjadi panutan masyarakat ditangkap dan dieksekusi oleh serdadu Jepang di daerah Mandor, Kabupaten Landak.  Peristiwa ini berawal dari terdengarnya isu upaya perlawanan rakyat Indonesia di Kalimantan Barat terhadap Jepang sehingga didahului Jepang dengan terlebih dulu menangkap tokoh-tokoh bangsa kita yang mereka anggap membahayakan posisi mereka di Kalimantan Barat.  Saat ditangkap tidak begitu saja diperlakukan tetapi ada cara khusus mereka yaitu dengan cara kepala tokoh-tokoh kita disungkup (dengan karung atau kain apapun, termasuk menurut informasi ada juga dengan menggunakan bakul pandan), kemudian dibawa dengan mobil sungkup (oto sungkup : bahasa daerah, yaitu mobil truk yang belakangnya ditutup tarval) ke daerah Mandor untuk dieksekusi.  Eksekusi inilah yang dikatakan kejam karena dengan cara dipancung atau dipenggal, dan dimakamkan secara massal.  Menurut catatan resmi sekitar 21.037 nyawa tokoh dan masyarakat kalbar tewas di sana.  Dari puluhan ribu korban di kalimantan Barat ini, diantaranya terdapat sultan dan panembahan-panembahan yaitu Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dari Kerajaan Pontianak, dan Sultan Ibrahim MulyaTsjafiuddin dari Kerajaan Sambas, serta Gusti Abdul Hamid Azis dari Kerajaan landak Ngabang, Muhammad Thaufiek Akamuddin dari Kerajaan Mempawah, dan mereka dibawa masing-masing dengan kerabatnya. Selain itu juga tidak sedikit tokoh-tokoh pergerakan dan juga tenaga kesehatan yang ikut diciduk seperti Gusti Sulung Lelanang, Ya’ Muhammad Sabran, Raden Muslimun Nalaprana, Ismail Osman, dr. Rubini, tokoh ulama, kaum cerdik pandai, bahkan para pemuda (Syafaruddin Usman, 2000:2-3) tanpa memandang latar belakang maupun suku bangsa telah menjadi korban kebiadaban penjajahan Jepang.

Perjuangan rakyat Indonesia di Kalimantan Barat tak terhenti dengan memerahnya tanah mandor dari korban yang berjatuhan.  Segenap rakyat yang tersisa kembali menyusun strategi dan kekuatan dengan mengadakan perundingan di tempat-tempat tersembunyi, termasuk di goa-goa.  Jiwa nasionalisme menggerakkan semangat untuk membebaskan tanah air dari kekejaman dan belenggu penjajahan, rasa persatuan dan kesatuan mewujudkan kebersamaan bahu membahu tanpa pandang suku, ras maupun agama, yang penting rakyat kalbar berjuang untuk dan demi kalbar Indonesia.Setelah berunding maka dengan semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan maka perlawanan tanpa memandang seimbang atau tidaknya persenjataan muncullah para pejuang-pejuang bangsa yang sedikitpun tidak ada rasa takut seperti Pang Suma, Ali Anyang, dan pejuang-pejuang lainnya.  

Para pejuang kita tidak berjuang sendiri-sendiri tetapi bersama-sama dan penuh kebersamaan.  Mereka berkorban nyawa demi kemerdekaan atau kehidupan yang bebas bagi anak cucunya yaitu kita.  Tentu jika kita berkorban tenaga dan waktu, mengalah saat beda pendapat, bersabar saat diacuhkan atau diejek bahkan direndahkan, dan lainnya tidaklah seberapa dibanding pengorbanan mereka untuk kita. Oleh sebab itu ketika kita mengenang atau memperingati peristiwa 28 Juni tersebut tentu hikmah yang kita ambil sebagai generasi penerus bangsa khususnya Kalimantan Barat ini adalah kebersamaan yang harus kita jalin sebagaimana yang telah dijalin oleh pendahulu-pendahulu kita terutama pejuang bangsa.  Tentu dapat kita wujudkan dengan semangat nasionalisme dalam membangun Kalimantan Barat, dalam arti mementingkan kepentingan bangsa Indonesia di kalbar.  Sedangkan dalam menjaga persatuan dan kesatuan sebagaimana juga yang telah dilakukan para pejuang kita adalah selalu menjaga kerukunan, saling hormat menghormati, toleransi, sehingga terjalin tali silaturahim antar masyarakat Indonesia di kalimantan Barat sehingga selamanya damai penuh persaudaraan.  Harga diri bangsa kita dulu tidak mau dicabik-cabik oleh penjajah dan kita jaga serta pertahankan dengan usaha diplomasi hingga agresi melawan penjajah hingga titik darah penghabisan.  Namun harga diri kita dimasa merdeka sekarang adalah dimana kita tidak mau dicabik-cabik oleh provokator-provokatordan perusak-perusak yang berasal dari luar (neokolonialisme alias penjajahan dalam bentuk baru) maupun dalam negeri kita sendiri yang mencoba mengadu domba atau memecah belah kita yang telah rukun hidup bersama dan penuh kebersamaan dalam bhinneka tunggal ika.  Oleh sebab itu setiap kita mengenang sikap-sikap kepahlawanan para pejuang-pejuang kita terutama peristiwa 28 Juni, maka selain dengan mengibarkan bendera merah putih setengah tiang tanda berkabung namun juga harus selalu meningkatkan nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga kita selalu bersatu dalam keberagaman.  

*) Guru Sejarah SMA Negeri 1 Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah