Tingkatkan Kerjasama Lintas Sektor

Tingkatkan Kerjasama Lintas Sektor

  Selasa, 16 Agustus 2016 09:30
PADAMKAN API: Petugas gabungan dari berbagai sektor seperti Manggala Agni, TNI, Polri, Disbunhuttam Kubu Raya dan BPBD Kubu Raya saat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan. MANGGALA AGNI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

KEPALA Manggala Agni Daerah Operasi Pontianak, Taufiqurrahman mengatakan berdasarkan informasi dari BMKG Supadio Pontianak saat ini cuaca di Kalbar sudah mulai ekstrim.

“Sejak Juli hingga pertengahan Agustus cuaca mulai ekstrim, karenanya upaya pencegahan atau antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan terus kami tingkatkan saat ini,” katanya.

Selain melakukan patroli rutin ke setiap desa yang rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan, Manggala Agni Daop Pontianak ini juga terus meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait lain seperti TNI/Polri, BPBD, dan Masyarakat.

“Pada 18 Juli hingga 6 Agustus lalu kami juga melakukan patroli terpadu bersama pihak terkait lainnya, rencanaya usai 17 Agustus kami akan kembali melakukan patroli terpadu,” ucapnya.

Selain di Kalimantan Barat, patroli terpadu sambungnya juga dilakukan di 7 provinsi lainnya yang juga dinilai rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Dengan mulai panasnya cuaca, kata Taufiqurrahman pada 6 Agustus lalu sempat terjadi kebakaran di beberapa kawasan di Kubu Raya seperti di Desa Limbung dengan lahan yang terbakar sekitar 6 hektar, Desa Rasau Jaya II sekitar 4 hektar lahan yang terbakar dan Desa Sungai Asam 5 hektar. “Dengan kesigapan petugas Alhamdulillah saat ini titik hotspot di 3 desa itu sudah bisa dipadamkan,” ucapnya.

Ditanya soal kendala dalam penanggulangan karhutla, kata Taufiq pada dasarnya cukup banyak kendala yang ditemui saat anggotanya akan memadamkan api di lapangan, seperti masih minimnya petugas damkar, minimnya sumber air di lokasi kejadian, jauh dan sulitnya medan yang harus dilalui menuju lokasi karhutla. “Meski masih menemukan sejumlah kendala di lapangan, namun kami terus berupaya maksimal dalam memadamkan api. Mengenai minimnya petugas damkar saat ini kami juga merasa terbantu, karena saat ini sudah banyak pihak yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebarakan hutan dan lahan,” paparnya. 

Meningkatnya koordinasi dan kerjasama dari sejumlah pihak terkait, kata Taufiq, jika dibanding tahun sebelumnya, jumlah titik hotspot pada tahun 2016 kian berkurang. “Berdasarkan data kami miliki sejak Januari hingga Agustus 2015 total jumlah titik api di Kalbar sebanyak 714 titik, namun sejak Januari hingga Agustus tahun 2016 titik hotspot berkurang menjadi 178 titik saja,” jelasnya.

Taufiqurrahman menambahkan tidak hanya melakukan pemadaman kebakaran, pihaknya juga pro aktif melakukan pendekatan persuasif  untuk mengedukasi masyarakat dalam mengantisipasi dan mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. “Dengan ada edukasi yang berkelanjutan yang kami lakukan secara persuasif, saya lihat belakangan tingkat kesadaran masyarakat lebih baik dalam menghindari terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” kata Taufiqurrahman.

Salah satu indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat seperti dengan mengurangi aktivitas pembakaran hutan dan lahan terutama pada musim kemarau. “Kalaupun ada yang terpaksa membakar lahan atau sampah mereka izin dulu ke petugas di lapangan. Ini membuktikan tingkat kesadaran masyarakat mulai meningkat,” terangnya.

Taufiq memaklumi masih ada warga yang membuka lahan dengan cara membakar, karena menurutnya hingga saat ini masyarakat terutama yang bermata pencaharian sebagai petani ini tidak memiliki pilihan lain dalam membuka lahan. “Sebagian besar dari mereka petani tradisional, mereka tak punya alat yang memadai untuk membuka lahan tanpa membakar,” ucapnya.

Karenanya, kata Taufiq hal tersebut bisa menjadi salah satu catatan bagi pemerintah untuk mencari terobosan terbaru dalam menciptakan alat bagi petani untuk membuka lahan tanpa cara membakar. “Kami tetap melakukan penyuluhan bagi masyarakat untuk menghindari aktivitas pembakaran hutan dan lahan apalagi pada musik kemarau, namun sebaiknya pemerintah juga memiliki solusi tepat agar kasus kebakaran hutan dan lahan ini bisa maksimal diantisipasi dan diatasi,” paparnya.

Selain Manggala Agni, saat ini Polda Kalimantan Barat juga sedang menggencarkan sejumlah program dalam rangka mengantisipasi atau menghindari terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Suhadi SW mengatakan, dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan saat ini Polda Kalbar memiliki seumlah program seperti melakukan operasi bina taruna di seluruh jajaran Polda Kalimantan Barat. “Sasaran operasi ini untuk menekan kebakaran hutan dan lahan,” kata Suhadi.

Pencegahan dini dilakukan seperti dengan mengerahkan jajaran dengan membuat imbauan dan membuat maklumat di lokasi strategis. Para babinkamtibmas untuk melakukan door to door memberikan edukasi bagi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Polda Kalbar juga memberlakukan Apel Desa Go Anti Karhutla yang dilakukan serempak di seluruh Kalbar. “Baru-baru ini Kapolda Kalbar juga telah mengintruksikan kesemua Kapolres di Kalbar untuk melakuakn Apel Desa Go Anti Karhutla. Saya harap semua pihak terkait bisa segera melakukannya,” ucap Suhadi. 

Dalam Apel Desa Go Anti Karhutla, Polda Kalimantan Barat memberdayakan 1.132 Babinkamtibmas yang tersebar di 1.977 desa di Kalbar. “Tidak hanya sekedar melakukan apel, namun kami juga memberikan pembinaan bagi masyarakat melalui babinkamtibmas, manggala agni dan sejumlah pihak terkait lainnya di lapangan,” paparnya. 

Nantinya juga akan dibentuk pleton patroli-patroli desa dengan anggota dari manggala agni, polisi dan masyarakat, sebagai anggotanya. “Sementara kepala pletonnya kami pilih dari setiap kepala desa yang ada di setiap daerah,” terangnya.

Hal lain yang dilakukan Polda Kalbar yakni terus melakukan patroli rutin bersama Manggala Agni di sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan. “Selain itu juga melakukan patroli di udara, di setiap daerah yang dinilai nilai kerawanan cukup tinggi terjadi kebakaran kami pasang bendera merah, daerah sedang kami pasang bendera kuning dan daerah yang dinilai aman kami pasang bendera hijau,” bebernya.

Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tahu dan bisa menghindari aktivitas pembakaran lahan pada titik-titik yang dinilai sangat rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Polda Kalbar juga turut merangkul sejumlah perusahaan perkebunan di Kalbar untuk membentuk desa siaga api. Saat ini kata Suhadi, sudah ada tiga perusahaan perkebunan yang membentuk desa siaga api di beberapa wilayah Kalimantan Barat. “Masing-masing perusahaan ini telah membentuk sekitar 10 hingga 13 desa siaga api binaan di Kalbar, kami harap kedepan akan lebih banyak perusahaan yang membentuk desa siaga api ini, karena secara tak langsung juga memberikan kontribusi pemerintah dalam mengantasi kasus kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Suhadi menerangkan, setiap perusahaan yang telah membentuk desa siaga api itu akan memberikan reward bagi setiap desa yang bisa mengantisipasi atau mengindari terjadinya  kebakaran hutan dan lahan. “Informasi yang saya dapat, jika ada desa yang bisa menghindari atau tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya atau zero titik api maka akan diberikan reward sekitar Rp100 juta oleh perusahaan yang bersangkutan,” pungkasnya.

Secara terpisah Dandim 1207/BS Pontianak, Kolonel Jacky Areisetanto menambahkan saat ini peran TNI juga kian meningkat dalam melakukan kerjasama dengan instansi terkait, serta kelompok masyarakat, termasuk juga dengan badan usaha yang ada di wilayah teritorial. “Kami juga memiliki tim patroli terpadu yang beranggotakan Babinsa, Babinkamtibmas, Manggala Agni  ditambah masyarakat peduli api yang dilakukan secara rutin setiap hari ke tempat-tempat potensi api seperti di tanah yang kering, dan sangat kering yang di plot dengan bendera merah, dan pakai GPS yang kemudian di data,” pungkasnya.

Selain itu, pihaknya juga gencar memberikan sosialisasi bagi masyarakat agar tidak membakar lahan saat akan membuka ladang baru. Bahkan kata Jacky, pihaknya juga turut melakukan pendekatan kesetiap perusahaan untuk membuat blocking kanal dan embung serta mengimbau pihak perusahaan membentuk tim siaga api.

“Kami juga selalu memantau perkembangan cuaca melalui satelit BMKG yang setiap hari di update dari pagi hingga sore. Jadi, jika sewaktu-waktu ada hot spot di wilayah Kubu Raya di koordinat sekian, dan seluruh Danramil memiliki Android sehingga bisa langsung terpantau,” pungkasnya.(ash)

Berita Terkait