Tingkatkan Kapasitas Petugas Puskesmas

Tingkatkan Kapasitas Petugas Puskesmas

  Jumat, 29 July 2016 11:19
FOTO BERSAMA: Narasumber, panitia, dan peserta pertemuan peningkatan kapasitas petugas dalam tatalaksana ISPA/pneumonia dan influenza se-Kalbar. MADE FRANS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

DINAS Kesehatan Kalimantan Barat menggelar pertemuan peningkatan kapasitas petugas kabupaten / puskesmas dalam tatalaksana infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) / pneumonia dan influenza se-Kalbar di Hotel Kini, 27-29 Juli 2016. Kegiatan dibuka Sekretaris Dinkes Kalbar, Harry Agung Tjahyadi mewakili Kepala Dinkes Kalbar, Andy Jap, kemarin pagi (28/7).

Dalam sambutan tertulisnya, Kadinkes Kalbar menyampaikan, pemberantasan penyakit ISPA di Indonesia dimulai sejak 1984, bersamaan dilancarkannya pemberantasan ISPA tingkat global oleh WHO. Pada 1988, WHO mempublikasikan kembali pola baru tatalaksana penderita ISPA. Selain mengunakan cara diagnosis praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna, juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit pneumonia dan penderita infeksi akut telinga dan tenggorokan.

Berdasarkan survei litbangkes 2011, 20,5 persen kematian balita disebabkan pneumonia. Angka kematian bayi post neonatal 23,3 persen. Sedangkan, angka kesakitan pneumonia (survei morbiditas ISPA 2004) berjumlah 5,12 persen.

“Saat ini, salah satu penyakit ISPA yang perlu dapat perhatian adalah influenza, karena influenza merupakan penyakit yang dapat timbulkan wabah. Berbagai penyakit influenza yang sudah ditemukan sekarang, diantaranya H1N1, H5N1, SARS, serta MERS-COV, dengan sumber penularannya melalui hewan / unggas,” katanya.

Untuk mencegah penularan avian influenza dari unggas ke manusia dan manusia ke manusia diperlukan kecermatan pendeteksian kasus yang mengarah keluhan influenza like illness (ILI). Petugas puskemas merupakan petugas kesehatan yang kemungkinan menemukan kasus ILI pertama kali. Karenanya perlu dipersiapkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan mendiagnosis. “Melaporkan dan melakukan rujukan kasus jika diperlukan, secara cepat, tepat, dan efisien. Mereka gunakan sistem kewaspadaan dini atau early warning system (Ewars),” ujarnya.

Marsalena, ketua panitia kegiatan melaporkan, pertemuan tersebut diikuti 45 peserta. 42 peserta merupakan pengelola program dinkes kabupaten dan petugas puskesmas terpilih se-Kalbar, ditambah tiga peserta dari provinsi, lintas program. “Dalam pertemuan ini kami gunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi,” kata Kasi Pengendalian Penyakit Dinkes Kalbar ini.

Materi kegiatan disampaikan narasumber provinsi dan pusat. Antara lain Christina Widaningrum, Kepala Subdit ISPA Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI; serta pemateri dari RSUD Soedarso dan Dinkes Kalbar. (d1/biz)

Berita Terkait