Tingkatkan Kapasitas Penulisan Berita HIV/AIDS sebagai Advokasi

Tingkatkan Kapasitas Penulisan Berita HIV/AIDS sebagai Advokasi

  Minggu, 19 June 2016 10:37
FOTO BERSAMA: Peserta, pemateri, dan panitia Lokakarya Peningkatan Kapasitas Penulisan Berita HIV dan AIDS yang digelar KPAN berfoto bersama usai kegiatan, Rabu (15/6). KPAN FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

​Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) sukses menggelar Lokakarya Peningkatan Kapasitas Penulisan Berita HIV dan AIDS bagi wartawan lokal. Diharapkan karya yang dihasilkan para jurnalis mampu mengadvokasi isu terkait HIV dan AIDS. 

IDIL AQSA AKBARY, Jakarta

BERLANGSUNG selama tiga hari, mulai Senin (13/6), pelatihan dan pembekalan seputar HIV/AIDS tersebut diberikan kepada sekitar 30 jurnalis dari 15 provinsi se-Indonesia. Bertempat di Hotel Pomelotel, Kuningan, Jakarta, KPAN mengundang masing-masing dua jurnalis dari tiap provinsi. Di antaranya dari Aceh, Maluku, NTT, Maluku Utara, NTB, Jawa Timur, Yogyakarta, Kalimatan Timur, Riau, Banten, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat. 

Sekretaris KPAN Kemal Siregar menyatakan, kegiatan ini sengaja dilaksanakan untuk menciptakan komunikasi yang erat antara KPAN dengan media massa, serta KPA di daerah. Dengan tujuan memudahkan dalam mengangkat isu seputar HIV/AIDS sebagai bentuk advokasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Harapannya para jurnalis lokal dapat mengolah isu tentang HIV/AIDS menjadi sebuah informasi yang baik untuk masyarakat. Sesuai dengan fungsi media untuk mengedukasi masyarakat. Karena isu mengenai HIV/AIDS sering mengundang kontroversi. “Bagaimana media massa membuat masyarakat dapat berempati bukan justru memberikan stigma negatif kepada mereka yang mengidap HIV,” ujarnya.

Mengingat sejauh ini menurutnya informasi yang beredar di masyarakat tentang HIV/AIDS masih kental dengan kesan-kesan negatif. Sehingga masih banyak terjadi diskriminasi terhadap ODHA. “Masyarakat bukannya memberikan dukungan untuk survive, namun justru mendiskriminasikannya,” sesalnya.

Ia berharap nantinya wartawan bisa lebih paham dan dapat mengolah pemberitaan tentang HIV/AIDS secara benar. Dengan begitu tentu media massa dapat menciptakan public awareness, mendorong semua pihak memberikan komitmen dalam mendukung dan mencegah penularan HIV/AIDS. 

Dikatakan dia, selama ini KPAN telah melaksanakan program strategi komunikasi sosial. Seperti advokasi dengan sasaran pemangku kebijakan, ada pula upaya sosialisasi kepada masyarakat umum, dan yang terpenting adalah mengawal mereka yang menjadi populasi kunci penyebaran HIV/AIDS. 

Media massa dinilai dapat mendorong perubahan sosial yang baik. Sekaligus memberikan masukan jika ada kelemahan dalam mengawal proses advokasi terhadap ODHA. “Mulai dari lemahnya kebijakan sampai pelayanan kesehatan bagi ODHA perlu dikawal media," katanya.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Maya Trisiswati sebagai Asisten Deputi Koordinasi Program KPAN selaku narasumber. Maya yang juga berstatus sebagai dokter dan juga konselor bagi pasien HIV itu memberikan pemaparan seputar informasi dasar HIV dan AIDS. 

Sedangkan materi khusus jurnalisme disampaikan Ketua LSM Info Kespro Syaiful W Harahap yang juga anggota PWI. Selama tiga hari, materinya berupa pengenalan jurnalisme empati, yaitu peliputan dengan pendekatan yang humanis, menulis berita dengan bertumpu pada fakta medis dan merancang liputan mendalam tentang HIV/AIDS, serta kunjungan ke lapangan. 

Para peserta juga dikenalkan dengan istilah-istilah yang benar dalam penulisan berita terkait HIV/AIDS. Seperti pemahaman tentang sexual orientation, gender identity, expression and body (SOGIEB), juga male involvement. (*)

Berita Terkait