Tim Sukses Pesan Uang Palsu, Diduga untuk Serangan Fajar Jelang Pilkada

Tim Sukses Pesan Uang Palsu, Diduga untuk Serangan Fajar Jelang Pilkada

  Selasa, 8 December 2015 10:07
UANG PALSU: Sejumlah uang palsu berhasil diamankan menjelang pilkada serentak, kemarin.

Berita Terkait

JAKARTA – Tabir kejahatan antara mafia pengedar uang palsu dan tim sukses pasangan calon (paslon) pilkada terungkap. Menjelang pilkada kemarin (7/12) Mabes Polri mengungkap empat mafia yang mengedarkan uang palsu (upal) di Jawa Barat dan Banten. Salah satu mafia mendapat pesanan membuat upal dari tim sukses paslon di Kalimantan dan Indonesia Timur.

Sesuai dengan data Bareskrim Polri, kasus upal pertama melibatkan Bambang Irawan yang tinggal di Garut, Jawa Barat. Dari tangan Bambang, disita 315 lembar upal pecahan Rp 50 ribu dan seperangkat komputer serta printer. Kasus lainnya menyeret Sukarman dan Sadul di Karawang, Jawa Barat. Dari dua nama tersebut, polisi menyita 98 lembar uang 100 dolar AS dan 130 lembar pecahan 5.000 real Brasil.
Kasus ketiga melibatkan tersangka bernama Nurdin yang juga tinggal di Karawang. Barang buktinya berupa 13 lembar upal Rp 100 ribu.
Terakhir, mafia uang palsu yang melibatkan empat orang tersangka, yakni Muklis, Yayat Hidayat, Oding, dan Saskam. Ada 1.351 lembar uang yang diduga palsu pecahan Rp 50 ribu yang disita sebagai barang bukti. Pemalsu uang itu dibekuk pada 12 hingga 29 November.
Kanit Uang Palsu Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri AKBP I Nyoman mengatakan, satu di antara empat mafia pengedar itu mendapat pesanan membuat uang palsu dari seseorang yang dideteksi sebagai anggota tim sukses paslon kepala daerah. ”Yang mendapat pesanan dari tim sukses itu Bambang Irawan,” paparnya.
Pesanan dari tim sukses tersebut tidak tanggung-tanggung. Sesuai dengan keterangan tersangka, pesanan upal mencapai belasan miliar rupiah. Harga untuk setiap uang palsu itu 1 banding 2. Misalnya, untuk Rp 2 miliar uang palsu, tim sukses tersebut membayar Rp 1 miliar uang asli. ”Mereka belum sempat transaksi uang palsu, kami sudah tangkap duluan,” ujarnya saat ditemui di kantor Bareskrim kemarin.
Dia menegaskan tidak akan berhenti hanya pada mafia uang palsu. Rencananya dalam waktu dekat Bareskrim berupaya mengejar pemesan uang palsu yang diduga anggota tim sukses tersebut. ”Tentu kami kejar sampai rantai terakhir, pemesan uang palsu juga kami bidik,” ujarnya.
Namun, Bareskrim belum bisa membeberkan tim sukses calon kepala daerah mana yang memesan uang palsu tersebut. Nyoman menjelaskan, beberapa pemesan uang palsu itu adalah tim sukses calon kepala daerah asal Kalimantan dan Indonesia Timur. ”Ini belum bisa diungkap secara terbuka. Kami masih mengembangkannya,” papar dia.
Direktur Dittipideksus Bareskrim Polri Brigjen Bambang Waskito menambahkan, mungkin uang palsu yang dipesan tim sukses tersebut akan digunakan untuk serangan fajar (memberikan uang kepada pemilih). ”Karena itu, masyarakat jangan sampai tergiur dengan serangan fajar,” terangnya.
Modusnya, upal disisipkan tim sukses dalam uang yang digunakan untuk memengaruhi pemilih. Iming-iming uang dalam pilkada serentak terindikasi masih sangat tinggi. Itu bisa terungkap dengan makin meningkatnya permintaan uang palsu menjelang pilkada serentak. ”Kami bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) juga untuk mendeteksinya,” papar dia.
Sesuai dengan data BI, pada 2014 ditemukan 122.091 lembar upal. Yang paling banyak dipalsu adalah uang pecahan Rp 100 ribu, yakni 68 ribu lembar. Lalu, pada 2015 jumlah upal yang ditemukan melonjak drastis, mencapai 280.655 lembar. Jumlah upal pecahan Rp 100 ribu yang paling favorit dipalsukan mencapai 206.107 lembar.
Kepala Divisi Pengelolaan Data dan Penanggulangan Pemalsuan Uang BI Hasiholan Siahaan mengakui, ada peningkatan yang sangat drastis dalam peredaran upal pada 2015. Bila dihitung rasionya, pada 2014, dalam 1 juta lembar uang yang beredar, ada sembilan uang palsu. ”Kalau 2015 ini rasionya naik dari 1 juta lembar yang beredar, ada 19 lembar uang palsu. Ini sangat mengherankan,” tuturnya.
Sebagian besar upal yang beredar itu terdeteksi karena upaya kepolisian yang berhasil mengungkap mafia pembuat dan pengedar uang palsu. ”Karena itu, kami terus bekerja sama dengan penegak hukum, selain melakukan sosialisasi,” ujarnya. (idr/c10/agm)
    

 

Berita Terkait