Tim Gabungan Ciduk Pembakar Lahan

Tim Gabungan Ciduk Pembakar Lahan

  Rabu, 10 Agustus 2016 11:34
DISELIMUTI ASAP: Kabut asap mulai menyelimuti Kota Pontianak, seperti terlihat di Jalan Ahmad Yani,Pontianak,Selasa malam (9/8). Kurangnya intensitas hujan membuat Kabut asap mulai menebal. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Aparat gabungan TNI/Polri mengamankan seorang warga bernama Bujang Ali yang diduga melakukan pembakaran lahan seluas 5 hektare di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Bujang Ali diamankan setelah apel gabungan yang dipimpin Kapten Inf Sumadi, Danramil 1207-05 Sungai Raya. Usai apel, sekitar pukul 08.45,  tim bergerak menuju kediaman Bujang Ali di Dusun Keramat II, Desa Kuala Dua, terkait dengan kebakaran lahan milik yang bersangkutan di Dusun Sidomulyo RT 03 RW 08 Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya. Lokasinya tepat di belakang Bandara Supadio Pontianak.

Bujang Ali kemudian dibawa dan diserahkan ke penyidik Polsek Sungai Raya untuk dimintai keterangan. "Upaya ini dilakukan sebagai cipta kondisi deterrent effect (efek gentar) masyarakat dan penegakan hukum di wilayah sabuk Bandara Supadio," ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, Sustyo Iriyono kemarin.

Bujang Ali merupakan pemilik lahan yang terbakar pada pertengahan Juli 2016 lalu. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 7,5 hektare. Tim gabungan TNI, Polri dan Manggala Agni bersatu padu memadamkan api di lahan tersebut. Namun karena tiupan angin kencang, api di lahan gambut itu kembali menyala.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas akibat kebakaran hutan dan lahan ini, kata Sustyo, pihaknya telah menurunkan tim patroli reguler yang fokuskan di sekitar Bandara Internasional Supadio Pontianak hingga wilayah pinggiran kota (Sungai Raya). Hal ini dimaksudkan untuk antisipasi dan mencegah aktivitas kebakaran lahan oleh masyarakat.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Suhadi menyebutkan, pihak kepolisian saat ini sedang menggelar Operasi Bina Taruna, dimana operasi tersebut dilaksanakan secara serempak di seluruh wilayah Kalimantan Barat. "Sasaran dari operasi ini salah satunya adalah menghentikan kebakaran hutan dan lahan di Kalbar," kata Suhadi.

Selain itu ada beberapa langkah yang sudah dilakukan oleh Polda Kalbar, mulai dari pembentukan pleton patroli desa dengan jumlah 1.633 pleton yang tersebar di 1.973 desa di Kalimantan Barat. Setiap pleton beranggotakan 30 orang yang dibagi tiga regu. Masing-masing regu dipimpin Babinkamtibmas, Babinsa dan Manggala Agni.

"Jika ada hotspot yang terpantau oleh satelit, mereka langsung turun, mengecek ke lapangan. Kalau ada titik api, mereka langsung melakukan pemadaman sehingga tidak merembet kemana-mana," terangnya.

Menurut  Suhadi, jumlah hotspot (titik panas) yang terpantau selama Januari-Agustus tahun 2016 sebanyak 72 titik. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama di tahun 2015, yakni 576 titik.

"Ini berarti apa yang dilakukan pihak kepolisian bersama-sama instansi terkait ada hasilnya. Meskipun saat ini ada titik yang terpantau satelit Terra sebanyak 9 titik. Setelah dilakukan pengecekan, langsung bisa dipadamkan," katanya.

Disinggung soal maraknya aktivitas pembakaran lahan saat ini, kata Suhadi, sesuai Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, ada ketentuan yang menyatakan bahwa masyarakat boleh membakar lahan sebanyak dua hektare.

 "Ini yang masih menjadi polemik. Artinya bila masyarakat diperbolehkan membakar lahan satu KK (kepala keluarga) sebanyak 2 hektare, sementara penduduk di Kalbar ini berapa KK? Nah, kalau mereka membakar secara serempak maka akan terjadi masalah besar," ujarnya.

Terkait dengan penegakan hukum, lanjut Suhadi, sebelum dilakukan penegakan hukum, upaya lain telah dilakukan, di antaranya sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan. (arf)

Berita Terkait