Tim Evakuasi Sisir Alur Sungai , Dua Jenazah Ditemukan

Tim Evakuasi Sisir Alur Sungai , Dua Jenazah Ditemukan

  Selasa, 15 December 2015 07:16
KELUARGA KORBAN. Foto Shando Safela/Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK - Operasi pencarian korban kecelakaan speedboat Indo Kapuas Expres di perairan Olak-Olak Pinang Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya, terus dilakukan. Diperkirakan ada sepuluh orang penumpang yang hilang dalam insiden itu. Dua dari sepuluh korban hilang berhasil ditemukan, Senin (14/12).

Kedua korban bernama Sengseng dan Maiden. Sengseng merupakan balita usia 5 tahun, anak dari Chet Ket Phin alias Aling (27) warga Padang Tikar, Kecamatan Batuampar, sedangkan Maiden (45), warga Tanjung Harapan Kecamatan Batuampar. “Jasad Seseng ditemukan sekitar 500 meter sedangkan jasad Maiden ditemukan 1 kilometer dari lokasi kecelakaan speedboat,” kata Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Arianto, kemarin.

Menurut Arianto, kedua jasad korban ini ditemukan dengan waktu yang berbeda, jasad Sengseng ditemukan pukul 17.00 wib, sementara jasad Maiden ditemukan pada pukul 20.00 wib, atau tiga jam kemudian setelah penemuan jasad Sengseng, Dikatakan Arianto, saat ini, kedua jenazah korban dibawa ke Puskesmas Rasau Jaya untuk diperiksa tim DVI Polda Kalbar.

Dengan ditemukan dua korban tersebut, jumlah korban meninggal menjadi enam orang, terdiri dari dua balita dan empat orang dewasa.Operasi pencarian korban oleh tim evakuasi gabungan ini rencananya akan digelar hingga tujuh hari kedepan dengan menurunkan puluhan personel, baik dari Basarnas, Dit Polair Polda Kalbar, TNI AD, TNI AL, Dishub maupun masyarakat setempat. "Hari ini (kemarin), sekitar pukul 05.30 kami (tim evakuasi gabungan) melakukan pencarian korban," kata Kepala Basarnas Pontianak, Slamet Riyadi, kemarin.

Menurut Slamet Riyadi, operasi pencarian korban dilakukan dengan cara melakukan penyisiran di sekitaran lokasi terjadinya kecelakaan hingga hingga alur sungai. Menurutnya, di lokasi kecelakaan arus sungai sangat deras, sehingga ada kemungkinan korban terseret arus. Namun demikian, pihaknya bersama tim evakuasi terus melakukan pencarian. "Teknisnya dengan melakukan penyisiran menggunakan speedboat di sekitaran lokasi kecelakaan hingga radius beberapa meter. Seperti yang kita tahu, arus sungai begitu deras, sehingga dikhawatirkan korban terseret arus," katanya.

Dikatakannya, perairan yang menjadi lokasi kecelakaan speedboat berkedalaman antara 20-30 meter, sehingga tidak memungkinkan dilakukan dengan cara menyelam. "Kedalamannya rata-rata antara 20-30 meter. Tapi namanya sungai ada lumpur, sehingga sulit untuk dilakukan penyelaman mengingat visibility atau jarak pandang yang tidak mungkin," terangnya.

Ia mengatakan, sepuluh orang korban kecelakaan yang dinyatakan hilang ini terdiri dari enam orang anak-anak dan empat orang dewasa. "Mudah-mudahan tidak sampai tujuh hari mereka (korban) bisa ditemukan," harapnya.      Kesepuluh korban yang belum diketemukan diantaranya, Aling  (27 tahun), Fati (5 tahun), Kapi/Api (9 tahun), Tama (60 tahun), Nela Sari Ayu (21 tahun), Tia (10 tahun), Ipin (6 tahun) dan Dimas.

Secara terpisah, seorang perempuan bersama anaknya mendatangi posko pencarian korban kecelakaan speedboat di pelabuhan Rasau Jaya. Perempuan parobaya bersama anaknya ini mengaku mencari keponakannya yang hingga kini masih belum diketemukan. "Saya mencari keponakan saya. Namanya Aling dan anaknya," kata si perempuan itu sambil menunjuk daftar nama korban hilang.

Sementara untuk korban selamat yang sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Rasau Jaya telah dipulangkan. "Alhamdulillah korban kecelakaan speedboat yang sempat ditangani di sini sudah diperbolehkan pulang. Hanya empat orang yang kami rujuk karena ada indikasi riwayat penyakit jantung," kata Wulyono, Kepala Puskesmas Rasau Jaya ditemui Pontianak Post, kemarin.

Dikatakan Wulyono, korban kecelakaan speedboat yang sempat dirawat di Puskesmas Rasau Jaya rata-rata mengalami gangguan pada saluran pernafasan akibat kemasukan air. Setelah dilakukan penanganan dengan cara mengeluarkan air dari saluran pernafasan, mereka diperbolehkan pulang.

"Yang tercatat ada 28 orang selamat, 4 orang meninggal dunia. Korban yang selamat, mereka mengalami gangguan pernafasan akibat kemasukan air pada saluran pernafasannya. Setelah kami tangani dengan mengeluarkan air pada saluran pernafasan mereka, mereka diperbolehkan pulang. Rata-rata ada setengah liter," bebernya.

Wulyono mengaku, tidak ada kendala dalam penanganan korban kecelakaan speedboat yang terjadi pada Minggu (13/12) pagi kemarin. Hanya saja, pihaknya sempat kewalahan menangani kerumunan keluarga korban dan masyarakat yang datang untuk melihat. "Alhamdulillah tidak ada kendala. Hanya saja kami sempat kecewa dengan kerumunan orang-orang dari luar. Dengan kondisi seperti itu seharunya aparat tegas. Biarkan kami melakukan tugas kami dengan baik," keluhnya. (arf)

Berita Terkait