Tiga Tahun Dipelihara, Benazir Dilepasliarkan

Tiga Tahun Dipelihara, Benazir Dilepasliarkan

  Jumat, 13 November 2015 08:24
DILEPASLIARKAN: Tim dari BKSD menjemput orangutan Benazir, guna dilatih kemudian dilepasliarkan ke habitatnya. SUGENG/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sintang, Kamis (12/11) kemarin mendatangi rumah Gusti Arman alias Pak Teh untuk menjemput orangutan yang dinamai Benazir. Orangutan itu sudah dipeliharanya sejak tiga tahun lalu. Orangutan itu akan berada dalam pengawasan BKSDA Sintang sebelum dilepasliarkan. SUGENG, SANGGAU

TERLIHAT Pak Teh sendiri bersedih. Dimaklumi, tiga tahun merawatnya menjadikan Benazir lainnya ‘’keluarga’’ dan menjadi hiburan tersendiri buat keluarganya. Namun, Pak Teh sadar kalau tentunya Benazir kelak akan lebih senang tatkala bertemu dengan mahluk sejenisnya usai dilepasliarkan. Pihak BKSD sendiri tentu lebih paham bagaimana mengenai nasib Benazir kelak saat dilepasliarkan.Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Sintang, Hadiatul Sidik menuturkan masih banyak masyarakat masih memelihara binatang atau satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang. Dikatakannya, setelah ‘mengamuk’ biasanya baru pemilik sadar jika satwa tersebut tidak aman untuk dipelihara.

“Masih ada masyarakat yang menyerahkannya secara sukarela,” ujarnya.Orangutan, kata dia, dapat membahayakan pemiliknya karena dapat menularkan penyakit terutama penyakit Hepatitis C.“Iya memang rentan, apalagi misalnya anggota keluarga ada yang sistem kekebalan tubuhnya tidak kuat,” katanya.Dia mengapresiasi kepada masyarakat yang mau menyerahkan secara hewan yang dilindungi itu secara sukarela. Sebelumnya khusus di Kabupaten Sanggau beberapa warga juga sudah menyerahkan, seperti buaya dan orang utan.

Orang utan tersebut, lanjut dia, akan langsung dibawa ke Yayasan Komunitas Budaya Sintang untuk dikarantina. Lama waktu karantina orang utan sekitar 5 bulan. “Karantinanya sekira 5 bulan. Dipastikan dulu benar-benar sehat, setelah itu ‘disekolahkan’ di Desa Tambak, Kecamatan Tempunak,” jelasnya.Ditempat dengan luas 52 hektare itu sudah ada 14 ekor orang utan yang disekolahkan, sedangkan yang dikarantina ada 16 ekor, termasuk orang utan milik Pak Teh. “Disekolahkan ini maksudnnya agar orang utan bisa beradaptasi kembali dengan alam, memanjat mencari makan sendiri dan lain sebagainya,” ujarnya.

Jadi, menurutnya tidak sertamerta dibawa ke hutan dan dilepas begitu saja. Setelah dipelihara cukup lama, tentu orangutan ini akan kesulitan dengan lingkungan baru. Bahkan mungkin akan lupa. ‘’Karenanya, dengan pelatihan tersebut orangutan akan dibiarkan seolah-seolah berada di hutan. Awalnya, semua memang dibantu. Hingga akhirnya kalau benar benar siap, baru dilepas,’’ katanya lagi.Akan halnya Pak Teh sendiri tampak sedih saat menyerahkan orangutan kesayangannya itu. Diakuinya, selama ini Benazir sudah menjadi salah satu teman bermain bagi keluarganya. Kedekatannya dengan orangutan itu yang membuatnya sedih saat menyerahkan ke BKSDA yang datang ke rumahnya.“Ya tentu saja sedih. Tapi selain dilindungi, kita berharap di lingkungan habitatnya nanti dia akan lebih baik. Beranakpinak hingga menjadi lebih banyak lagi,” harapnya. (*)

Berita Terkait