Tiga Organ Tubuh untuk Berpikir

Tiga Organ Tubuh untuk Berpikir

Minggu, 7 Agustus 2016 10:53   1

SEKITAR satu setengah bulan lalu, salah seorang pembaca kolom ini berkujung ke ruang kerja saya (LS) memberitahukan bahwa ada temuan yang mengungkapkan bahwa manusia dapat berpikir menggunakan jantungnya. Dua minggu kemudian (minggu pertama Juli, 2016), pembaca ini kembali menemui saya dan menanyakan apakah sudah ditemukan penelitian-penelitian yang cukup dapat diandalkan yang dapat menjelaskan temuan ini. Terima kasih disampaikan kepada pembaca ini. Mohon maaf, setelah satu bulan kemudian baru direspons. 

Dalam konteks masyarakat kita (Indonesia), sering didengar istilah ‘akal budi’. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai ‘akal budi’ sebagai ‘pikiran sehat’. ‘Akal’ diartikan sebagai daya pikir (untuk memahami sesuatu) dan ‘budi’ diartikan sebagai alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti ini menunjukkan bahwa pikiran sehat tidak semata-mata hasil kerja ‘otak’ tetapi juga organ lain dari tubuh kita.

Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar nasehat kepada orang yang sedang menderita sakit maag, ‘jangan banyak pikiran’. Tampaknya, ada hubungan antara ‘sakit maag (lambung)’ dan ‘banyak pikiran’. Apakah fungsi lain dari organ lambung adalah untuk berpikir?

Dalam kesempatan yang lain, kita juga mendengar bahwa orang yang sering berdebar-debar itu karena stress, banyak pikiran yang susah diselesaikan. Berdebar-debar merupakan sensasi ketika jantung kita terasa berdegup sangat kencang. Denyut jantung dalam keadaan normal adalah sekitar 60-100 kali per menit. Tampaknya ada juga hubungan antara pikiran dan jantung. Apakah fungsi lain organ jantung adalah juga untuk berpikir?

Dr. Anil K. Rajvanshi dari Nimbkar Agricultural Research Institute (NARI),  Phaltan, Maharashtra- India, (2011) menulis tentang ‘berpikir’ dengan judul ‘The three minds of the body - Brain, heart and gut’ –tiga organ berpikir tubuh –otak, jantung dan lambung. Menurutnya, jumlah neuron di organ otak paling banyak, yaitu sekitar 100 milyar, diikuti organ lambung sebanyak 100 juta, dan jantung yang hanya 40.000 neuron. 

Neuron atau sel syaraf otak merupakan satuan kerja yang utama dari sistem syaraf. Neuron berfungsi menghantarkan sinyal listrik, yang terjadi karena ada rangsangan dari luar sel, ke sel syaraf berikutnya. Berdasarkan fungsinya, neuron dibedakan menjadi: neuron sensorik, neuron motorik, dan neuron perantara. Neuron sensorik berfungsi mengantarkan sinyal rangsangan dari reseptor ke pusat syaraf, otak dan sumsum belakang. Sebaliknya, neuron motorik berfungsi mengantarkan sinyal, yang berupa tanggapan terhadap rangsangan yang diterima sebelumnya, dari pusat syaraf ke otot atau kelenjar. Sel saraf perantara disebut juga sel saraf asosiasi berfungsi menghubungkan sel saraf motorik dengan sel saraf sensorik atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat (Wikipedia). 

Apa yang terjadi di dalam otak ketika seseorang sedang berpikir? Ada banyak penjelasan yang kadang-kadang diselingi debat-debat akademis, yang berusaha mencari penjelasan yang paling baik. Asosiet Profesor Henrik Jorntell (2015) dari Universitas Lund, Swedia, bersama koleganya di bidang neuroscience melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan yang mengawali paragraf ini, ‘Apa yang terjadi di dalam otak ketika seseorang sedang berpikir?’. Ia menemukan bahwa mekanisme ‘sparse coding’ di dalam otak, yang telah diakui kebenarannya sejak 1980 ini, salah. Karena, ketika mekanisme ‘sparse coding’ ini diimplementasikan akan membuat seseorang tidak dapat membuat generalisasi. Generalisasi merupakan salah satu inti dari proses berpikir.

Peter Poldiak dan Dr. Dominik Enders dari Universitas St Andrews, Inggris, 2008 menjelaskan dengan rinci dan lengkap tentang ‘sparse coding’ ini (Scholarpedia). Setiap neuron di dalam otak mampu  melakukan sendiri aktivitas elektris. Informasi di dalam otak diwujudkan dalam rupa aktivitas elektris bersama oleh ribuan neuron sehingga terbentuk ‘kode neural’, sebuah pola aktivitas neuron yang mewakili suatu informasi tertentu. Di dalam sistem syaraf, ‘kode neural’ ini mewakili sebuah rangsangan dari luar yang ditangkap oleh organ indera atau tanggapan otak (setelah berpikir) terhadap sesuatu. Tidak semua neuron di dalam otak itu aktif yang siap menghantarkan sinyal, sebagian justru sebaliknya, tidak aktif.  ‘Spare coding’ merujuk pada keadaan yang menunjukkan hanya ada sejumlah kecil neuron aktif di antara banyak neuron yang tidak aktif. Sparse code inilah yang disangkal oleh neuroscientis dari Universitas Lund itu, Asosiet Profesor Henrik Jörntell dan koleganya.  

Karena lambung memiliki 100 juta neuron  dan jantung  memiliki 40.000 neuron aktif maka dimungkinkan lambung dan jantung juga berpikir. Keberadaan 100 juta neuron di lambung itu setara dengan jumleh neuron di dalam otak seekor kucing. Hubungan antara lambung dan otak tidak hanya secara kimiawi tetapi juga berupa sinyal-sinyal elektris neuron seperti yang terjadi di dalam otak. Selama memproses makanan yang masuk, lambung secara terus-menerus mengirimkan sinyal-sinyal elektris neuron ke otak tetang makanan yang sedang diproses. Sinyal-sinyal ini menguasai 80% dari seluruh kerja sistem komunikasi syaraf pencernaan. Tanggapan otak dikirim balik ke lambung dalam proporsi 20%-nya. Lambung memberitahu otak bahwa tentang rasa lapar, kenyang, tidak cocok dengan asupan yang diterima dsb. Dan, otak menanggapinya. Jadi, kita juga berpikir lewat lambung.  Marilia Carabottia, Annunziata Sciroccoa, Maria Antonietta Masellib, dan Carola Severia dari universitas Sapienza, Italia, (2015), menyebutnya sebagai poros otak-lambung (The gut-brain axis).

Bagaimana dengan jantung? Benarkah kita juga dapat berpikir dengan jantung? Pada organ jantung terdapat sekitar 2 milyar sel syaraf dan 40.000 neuron. Jantung, seperti juga lambung, mengirimkan sinyal-sinyal elektris neuron ke otak. Ada komunikasi antara jantung dan otak baik menggunakan sinyal-sinyal elektris maupun secara kimiawi. Penelitian terbaru, sinyal-sinyal jantung itu tidak hanya diterima dan dipahami oleh otak tetapi juga dipatuhi. Dengan demikian, jantung juga membantu kerja otak, untuk berpikir. 

Selain memancarkan sinyal-sinyal elektris, kelenjar endokrin jantung juga menghasilkan ‘peptides’ yang membantu mengeluarkan hormon ‘oxytocin’. Hormon ini dikenal dari akibat yang ditimbulkan yaitu prilaku prososial. Hormon ini berkaitan dengan perasaan manusia: suka, sedih, gembira, bahagian dan sebagainya (Anil K Rajvanshi, 2011).

Muhammad Hassan, Sami Ur Rahman, dari Amin Ur Rahman dari Department of Computer Science, Universitas Malakand, Chakdara, (2015), meriviu multi-fungsi jantung selain fungsi utamanya yaitu: memompa aliran darah di dalam tubuh. Jantung melakukan ‘komunikasi’ dengan semua organ tubuh. Kecerdasan, intuisi, elektromagnetisme, koherensi organ, interaksi dan juga memori di bawah kendali Jantung. Riviu ini juga mencakup fungsi jantung pada dipresi, stress, dan rasa ingin tahu. 

Tidak salah jika para leluhur kita memberi nasehat agar kita semua menggunakan akal-budi sebelum bertindak. Semoga!**

Leo Sutrisno