Tiga Kali Pameran di Eropa, di Jakarta Belum Sekalipun

Tiga Kali Pameran di Eropa, di Jakarta Belum Sekalipun

  Minggu, 3 April 2016 10:43
BELUM DIHARGAI: Made Bayak dengan latar belakang karyanya. JPG

 

HATI Bayak terenyak. Niat hati melindungi warga Bali, dia justru mendapat cibiran. Karyanya berisi kritik atas maraknya alih fungsi lahan yang dipamerkan sekitar enam tahun lalu, dipandang sebelah mata. Dinilai tidak akan membawa perubahan.

“Apa sih karya seni begini, apa bisa benar-benar merubah keadaan?,” kata Bayak, menirukan kritik salah seorang pengunjung pamerannya.

Bukannya terjatuh, kritik tersebut justru membuat alumnus Institute Seni Indonesia (ISI) Bali itu tertantang. Bukan dengan membalas perkataan, tapi dengan perbuatan.

Dia mulai mencari cara, agar hobi dan ideologinya benar-benar memberi sumbangsih nyata atas persoalan masyarakat. Sebagai seorang aktivis lingkungan, dia memilah, persoalan apa yang bisa dirubah secara riil melalui seni. Setelah menimbang-nimbang, pilihan itu akhirnya jatuh pada masalah sampah.

Sebagai destinasi wisata dunia, tingkat konsumsi di Bali memang cukup tinggi. Dampaknya, sampah pun menjadi salah satu persoalan serius di Pulau kaya budaya tersebut. Setidaknya, ada 100.000 meter kubik sampah yang memenuhi Pulau Dewata setiap harinya.

Seolah dikode dari alam, pria pecinta musik rock itu kemudian dipertemukan dengan peristiwa buruk terkait sampah. Saat itu, wajahnya hampir tertimpuk sampah yang dibuang pengendara mobil.

“Peristiwa itu semakin meneguhkan keinginan saya,” imbuhnya saat ditemui Jawa Pos, di Kafe Bunute, Ubud, Bali Kamis (1/4). Di kafe tersebut,  dipamerkan beberapa karya pria bernama asli Made Mulyana tersebut. Panggilan Bayak sendiri disebabkan warna merah yang muncul saat dia lahir. Dalam bahasa Bali, merah disebut Barak. Tapi lidah kecilnya hanya mampu menyebut Bayak.

Nah, dari sekian banyak limbah sampah yang pernah diuji cobanya, pria kelahiran 1980 itu lantas memilih sampah plastik. Alasannya sederhana, namun terhitung berkelas. Yakni, karena sampah plastik tidak memiliki nilai jual tinggi. Sehingga, tidak banyak orang yang memanfaatkan.

“Kalau botol, kardus, apalagi besi itu kan dicari pemulung. Plastik ini yang sulit diselesaikan, semangat ini yang coba saya lakukan,” kata pria berkumis dan berambut gondrong khas seniman.

Sejak saat itu juga (tahun 2010 red), uji coba pemanfaatan plastiknya langsung dimulainya. Mulai detik itu, dia mendaulat pembuangan sampah menjadi “pasar” nya mencari bahan baku.

Plastik-plastik dikumpulkan, di elaborasikan dengan imajinasi seninya. Secara mantap, ayah beranak satu itu pun mulai mengganti medium tempatnya mencurahkan imajinasi. Kanvas diganti dengan limbah plastik.

Melukis menggunakan medium plastik bukanlah perkara mudah. Namanya limbah plastik, warnanya bermacam-macam. Lengkap dengan gambar ataupun tulisan produk kemasan yang juga bervariasi. Kondisi itu menuntutnya berfikir terbalik, dari kebiasaan seni lukis pada umumnya.

“Kalau lukis di kanvas, kita bikin sketsa dulu baru diwarnai. Kalau ini, warnanya sudah ada duluan diplastik itu, baru pikir objeknya,” ujar pria yang menyukai Tan Malaka tersebut. Setelah komposisi plastik tersusun rapih, Bayak tinggal memberi sedikit sentuhan cat dengan berbagai teknik yang dikuasainya.

Eksperimennya itu ternyata mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Idenya memanfaatkan sisa plastik yang tidak bernilai dianggap sebagai gagasan brilian. Kritiknya atas persoalan lingkungan, diikuti dengan langkah konkrit sebagai solusinya.

Agar lebih menggema, konsep plasticology pun di kenalkan Bayak ke publik setahun kemudian. Plasticology diambil dari kata Plastik dan Ekologi. Singkat kata, plasticology bisa disebut sebagai ilmu memanfaatkan limbah plastik.

Tak disangka, antusias masyarakat atas konsep plasticology sangat tinggi. Ada banyak orang yang tertarik dan peduli dengan kampanye dari gagasan Bayak tersebut.

Hal itu, yang pada akhirnya membuat Bayak semakin bersemangat menyebarkan gagasannya. Dari kelas ke kelas, dari daerah ke daerah, satu per satu dia datangi. Tujuannya sama, menularkan semangat plasticology.

Hingga kini, sudah ada puluhan kelas, dan workshop plasticology yang dilakukan Bayak. Jika dihitung, sudah ada ribuan orang yang menjadi pesertanya. "Saya sudah berkomitmen, memberi sebagian waktu saya untuk plasticology. Kelas-kelas dilakukan Free, tanpa biaya," tuturnya.

Dari kelas tersebut, Bayak tentu tidak bisa berharap, jika semua gagasan plasticology bisa diikuti semua orang. Namun dia meyakini, satu atau dua orang dari kelas-kelas itu bisa memiliki semangat yang sama.

Di sisi lain, buah karya plasticology Bayak pribadi semakin banyak dikenal. Karya-karyanya mulai mewarnai pameran-pameran seni. Bukan hanya di Bali, tapi di panggung internasional. Dua tahun terakhir, karya plasticology-nya tiga kali dipamerkan di Eropa. Dua kali di Jerman, dan sekali di Italy.

Selama dipamerkan di Eropa, tuturnya, konsep plasticology sanggup membuat masyarakat kulit putih mengerutkan dahi. "Bagaimana mungkin, ide brilian ini lahir dari pulau kecil di Indonesia," kata pria kelahiran Gianyar tersebut menirukan ucapan itu.

Semangat anak seorang petani itu pun semakin meningkat. Mengikuti pameran internasional serupa pun tengah diupayakan Bayak saat ini. Australia dan lagi-lagi Jerman masuk dalam list rencananya. Jika tidak aral melintang, pameran itu bisa dilakukan tahun ini.

Meski sudah beberapa kali menginjakkan karyanya di Eropa. Lucunya, Bayak belum pernah memamerkan karyanya di Jakarta. Oleh karenanya, cepat atau lambat, pria yang juga musisi salah satu band indie di Bali itu bisa melakukannya.

Saat ini, jiwa seni yang dimilikinya mulai merasuki anak tunggalnya, Damar Langit Timur. Di usianya yang masih anak-anak, Damar sudah terbiasa menggambar dan menari. "Saya tidak memaksa anak untuk mengikuti saya. Apa yang menjadi ketertarikannya saya sediakan," tuturnya dengan logat khas Bali.

Disinggung soal nasib plasticology ke depan, Bayak tidak ingin gagasannya tidak berkembang. Dia berharap, plasticology bisa sedikit disisipkan dalam kurikulum pendidikan.

"Tidak mesti berbentuk plasticology. Tapi poinnya bagaimana anak-anak diajarkan problem Solving. Bahwa ini lho, masalah plastik saja bisa dirubah menjadi lebih bermanfaat," pungkasnya. *)