Tiga Kali Dirujuk, Nurhayati Terbaring Koma di RS Sudarso

Tiga Kali Dirujuk, Nurhayati Terbaring Koma di RS Sudarso

  Minggu, 10 September 2017 08:00
TERBARING KOMA: Nurhayati yang kini terbaring koma di RSUD Sudarso Pontianak. MIRZA A MUIN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Besarnya Biaya Rumah Sakit jadi Beban Pikiran Keluarga

Potret nyata kesehatan negeri. Biaya mahal membuat masyarakat miskin semakin tak berdaya. Kini Nurhayati terbaring koma berjuang sehat pascaoperasi demi buah hati yang baru dilahirkan

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

WAJAH Erna (23), warga Gang Darma Putra 14, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, tertunduk lesu saat ditemui wartawan koran ini, Jumat (8/9) sore. Ia duduk melantai di luar ruang tunggu ICU RSUD Sudarso Pontianak bersama suami, anak, dan beberapa orang keluarga. Mereka menjagai adik kandungnya, Nurhayati (21) yang kondisinya masih koma pascaoperasi beberapa hari lalu.

"Kondisi adik semakin turun Bang. Selain khawatir kesehatan adik, kami sekeluarga juga dibingungkan soal ongkos rumah sakit," keluhnya.

Diceritakan dia, pascamelahirkan dua hari lalu di RS Yarsi, kondisi adiknya menurun. Sempat pulang ke rumah, tapi empat hari kemudian ia muntah-muntah. Ia mengalami sakit di bagian perut. Tak tega melihat kondisinya, keluarga berinisiatif membawa ke rumah sakit untuk mencari penyebab sakitnya sang adik. "Kalau tak salah kejadian dua hari sebelum lebaran haji," katanya.

Setelah dirujuk ke RS Yarsi, hasil pemeriksaan mencurigai ada kelainan pada usus buntu. Tapi setelah di-USG, hasilnya bersih. Meski begitu, tak membuat dia tenang. Ada cairan di bagian perut. Dari penjelasan dokter bedah, harus dilakukan operasi.

"Kami bingung saat itu. Suaminya ditelepon tak datang. Dari pagi sampai sore ditunggu juga tak ada. Saya pun berunding dengan orang tua dengan putusan operasi harus dilakukan," ujarnya.

Pihak rumah sakit memberitahukan bahwa pihak keluarga harus menyediakan Rp5 juta untuk biaya operasi. Mereka pun kelabakan lantaran harus mencari uang yang buat mereka lumayan besar tersebut. Sempat mencari pinjaman dan didapat hanya Rp2 juta. Sisanya akan dicarikan mereka setelah operasi selesai. Celakanya, hari itu operasi tak dilakukan karena mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa suami yang bersangkutan tak mengizinkan istrinya dioperasi. Pihak keluarga menekankan agar operasi dilanjutkan di hari berikutnya. Sayangnya dokter yang menangani Nur tak bisa mengoperasi hari itu, karena sedang bertugas di luar. Atas saran dokter, pasien harus dirujuk ke salah satu rumah sakit swasta terkemuka di Kota Pontianak. Pihak keluarga mengiyakan dan langsung membawa ke sana.

Sesampainya di RS Promedika, Nur langsung diperiksa dokter. Dari penjelasan yang mereka peroleh, kondisi Nur tak bisa dioperasi, karena kekurangan darah. Selain harus mencari kantung darah A, hari pertama pihak keluarga harus menebus obat sebesar Rp600 ribu. Selain itu mereka juga harus menyediakan biaya deposit sebesar Rp7 juta. "Biaya obat tak murah. Selama di RS untuk obat perharinya bisa Rp2 – 3 juta," ungkapnya.

Pihak keluarga semakin bingung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Sedangkan pihak rumah sakit tersebut tak menerima BPJS Kesehatan. Meski demikian biaya rumah sakit tetap diusahakan, dengan meminjam pada sanak saudara. Beberapa lembaga juga turut membantu pembiayaan usai postingannya tentang derita yang dialami Nur, merebak di media sosial. 

Setelah operasi dilakukan, kesehatan Nur semakin menurun. Bahkan dokter menyarankan agar memasang alat. "Untuk pasang alat harus deposit Rp3 juta," keluh dia lagi.

Pihak keluarga semakin bingung. Kondisi adiknya semakin melemah. Uang pun tak ada di tangan. Karena belum membayar deposit, kondisi adiknya pun terkesan dibiarkan. Dari penjelasan dokter kepada mereka, ada infeksi di bagian usus dan naik ke paru-paru. Keadaan yang harus segera ditangani. “Kalau tak salah, total biaya selama di rumah sakit  Rp28 juta, belum dengan obat,” ungkapnya.

Melihat kondisi yang menurun dan tak memiliki biaya, pihak keluarga pun merujuk Nur ke RSUD Sudarso. Langkah itu mereka lakukan lantaran kebingungan dengan biaya yang sedemikian besar. Di sisi lain, jika tak mampu melunasi, maka Nur tak bisa keluar dari rumah sakit tersebut. 

Saat ini didiagnosa penyakitnya, akhirnya ditangani dari awal oleh dokter RSUD Sudarso. Hal tersebut dilakukan karena tak ada penjelasan dari dokter sebelumnnya. Besarnya biaya rumah sakit membuat dia dan pihak keluarga hampir menyerah. Belum lagi kebijakan rumah sakit yang mengharuskan membayar terlebih dahulu, sebelum pasien ditangani. Saat ini dia berdoa buat kesembuhan sang adik, agar segera sadar dari koma, karena anak yang baru dilahirkan menanti kasih sayangnya. "Biaya memang besar. Semoga saja banyak masyarakat membantu kami," ujarnya lirih.(*)

Berita Terkait