Tiga Bocah di Malang setelah Lepas dari Penyekapan sang Ibu

Tiga Bocah di Malang setelah Lepas dari Penyekapan sang Ibu

  Jumat, 5 January 2018 10:00
MASIH TRAUMA: KN, ZS, DNZ di kamar di rumah ayahnya di Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, kemarin (3/1). Ashaq Lupito/Jawa Pos Radar Malang

Berita Terkait

Alhamdulillah, Mereka Sudah Bisa Tersenyum dan Bercanda

Kondisi ketiga bocah korban penyekapan membaik, tapi masih butuh waktu untuk menghapus trauma. Selama disekap, mereka rutin diajari sang ibu mengaji. 

AGUNG PRIYO-ARIS SYAIFULLAH, Malang 

TIGA bocah itu memilih tetap meringkuk di tempat tidur. Sapaan dan rayuan para penjenguk tak membuat mereka memalingkan wajah. ”Ini ibu bawa es krim. Ayo bangun, dimakan es krimnya,” ujar Ririn Restaningrum, bidan Desa Sudimoro, Kabupaten Malang, yang datang mengunjungi mereka. 

Tapi, KN, 13; ZS, 11; dan DNZ, 6; tiga bocah tersebut, bergeming. Malah berusaha menutupi wajah dengan tangan mereka. 

Emi Lispartina, Kasi Kesos dan Kepemudaan Kecamatan Bululawang, yang datang bersama Ririn ke kediaman Romli, ayah ketiga bocah, memaklumi reaksi mereka. ”Jangan diganggu dulu ya, kasihan mereka,” tutur Emi kepada Malang Post (Jawa Pos Group). 

Tiga saudara kandung itu memang baru lepas dari horor besar. Selama sekitar setahun, mereka disekap ibu kandung mereka sendiri, Alikah. Selasa (2/1) siang lalu tim gabungan dari Polsek, Koramil, dan Kecamatan Bululawang harus mendobrak rumah yang dihuni Alikah dan tiga anaknya tersebut. Rumah itu sangat tertutup. 

Seperti dilaporkan, lubang-lubang ventilasi disumpal kain dan terpal serta kardus. Sedangkan jendela dipalang dengan kayu dan pintu rumah dirantai. 

Tidak ada sedikit pun cahaya matahari yang bisa masuk ke rumah. Di rumah gelap dan pengap itulah KN, ZS, dan DNZ harus menjalani hari-hari mereka setahun terakhir. Tanpa bisa bersosialisasi dengan siapa pun. 

”Saat rapat koordinasi persiapan tahun baru, Kecamatan Bululawang dan muspika mendapat laporan bidan Sudimoro bahwa ada tiga anak di bawah umur yang disekap ibu kandungnya sendiri selama satu tahun,” kata Kapolsek Bululawang Kompol Supari yang diwakili Kanitreskrim Iptu Ronny Margas kepada Malang Post.

Romli, 52, mantan suami Alikah dan ayah tiga anak tersebut yang juga berdomisili di Sudimoro, adalah yang pertama mengadukan kasus itu kepada bidan desa. Setelah Pemerintah Kecamatan Bululawang berkoordinasi dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) serta Dinsos (Dinas Sosial) dan Dinkes (Dinas Kesehatan) Kabupaten Malang, eksekusi pun dilakukan. Dimulai sekitar pukul 11.00.

Menurut Romli, anak pertamanya selulus MI (madrasah ibtidaiyah) sudah tidak boleh melanjutkan pendidikan. Sedangkan anak kedua, baru kelas V SD, sudah dilarang sekolah lagi. Adapun anak ketiga belum disekolahkan. 

Ririn menyambung, kondisi ketiganya secara fisik sudah sehat. Namun, trauma dan kondisi psikis tiga bersaudara itu masih terganggu. Dibutuhkan waktu untuk memulihkannya. ”Mereka kami serahkan kepada ayahnya setelah kami periksa dan tidak ada masalah dengan kesehatannya,” ucap dia.

Di rumah yang memiliki halaman cukup luas tersebut, KN, ZS, serta DNZ tinggal bersama ayah dan neneknya. Banyak saudara mereka yang seumuran mengajaknya bermain sehingga bisa membantu mengembalikan kondisi psikisnya. ”Alhamdulillah, mereka sudah bisa tersenyum dan bercanda,” kata Romli.

Saat pertama diselamatkan, kondisi tiga bocah itu sangat mengenaskan. Mereka mengalami gangguan kesehatan seperti gatal-gatal. Tubuh mereka juga kurus dan mengalami malanutrisi. 

Sedangkan Alikah yang dimintai keterangan petugas menjawab dengan melantur dan tidak jelas. Karena diduga kuat mengalami gangguan jiwa, perempuan 47 tahun itu pun dilarikan ke RSJ Lawang dengan pengawalan kepolisian dan ambulans Puskesmas Sudimoro. Polisi juga menyita barang bukti seperti kayu palang, gunting, rantai pintu rumah, terpal, serta gembok. 

Romli menceritakan, dirinya resmi bercerai dengan Alikah sekitar empat tahun lalu. Perceraian itu terjadi karena tidak ada kecocokan lagi. Alikah sering marah tanpa sebab. Seusai perceraian, ketiga anaknya tinggal bersama sang ibu. 

Meski demikian, Romli tetap sering menemui ketiga anaknya di rumah Alikah di Jalan Wachid Hasyim, Desa Sudimoro. Kadang dua sampai tiga minggu sekali atau sebulan sekali. Dia datang untuk membelikan makanan dan sembako buat anak-anaknya. Namun, Romli tidak bisa lama tinggal di rumah untuk bercengkerama dengan anak-anaknya. Sebab, Alikah memintanya segera pulang. 

Keanehan pada diri Alikah mulai dirasakan Romli selang setahun setelah bercerai. Romli pernah dilaporkan Alikah ke Polsek Bululawang dan Polres Malang atas tuduhan percobaan pemerkosaan terhadapnya. ”Saya sempat diperiksa, tapi tidak terbukti karena memang saya tidak melakukannya,” ucap Romli.

Sekitar setahun lalu, keanehan Alikah semakin bertambah. Anak-anaknya tidak boleh keluar rumah dan berinteraksi dengan siapa pun. Mengetahui kejadian itu, Romli mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. 

Mau mengambil ketiga anaknya, Romli takut dengan Alikah. Dia juga tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan anak-anaknya dari dalam rumah. Selama setahun ini dia hanya datang untuk melihat dan memberi makan. ”Ketika menemui anak-anak, saya hanya di ruang tamu. Tidak boleh masuk ke kamar. Anak-anak biasanya yang dipanggil kalau saya datang membawa makanan,” jelasnya.

Jauh sebelum bercerai, menurut Malik, adik kandung Alikah, keluarga juga sudah mencium keanehan pada diri Alikah. Keluarga mulai curiga lantaran apa yang disampaikan selalu tidak masuk akal. Namun, saat itu keluarga masih bisa berkunjung dan berkomunikasi.

Kapolsek Bululawang Kompol Supari membenarkan bahwa Alikah diduga mengalami depresi sejak bercerai dengan Romli. ”Orangnya sangat tertutup. Dia katanya keluar rumah hanya saat belanja dan ketiga anaknya tidak boleh keluar rumah,” katanya.

Menurut Sri Utami, tetangga depan rumah, Alikah hanya kelihatan saat berbelanja ke tukang sayur. Itu pun tidak tiap hari. Dan tukang sayurnya juga selalu dipanggil masuk ke teras. ”Sekali belanja, selalu dalam jumlah banyak untuk beberapa hari. Setelah itu tidak keluar lagi,” terangnya.

Uang yang digunakan belanja dan membeli sembako adalah hasil kerja Alikah sebagai tukang jahit. ”Setahu kami, dia masih menerima jahitan dari langganannya. Tapi, pelanggannya bukan warga sekitar sini,” katanya.

Selama ini tetangga sekitar memang mengetahui Alikah mengalami gangguan kejiwaan. Termasuk ketiga anaknya yang juga tidak diperbolehkan keluar. Hanya, tidak ada tetangga yang berani masuk ke rumah. Berkali-kali dilaporkan ke ketua RT, juga tidak ada respons.

”Pernah ada tetangga ngobrol di depan rumah saya, tapi Alikah malah menggedor-gedor pintu rumahnya sembari berteriak marah-marah. Setelah kejadian itu, warga tidak ada yang berani,” ungkap Aspiah, tetangga lain depan rumah Alikah.

Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh tiga bocah tersebut. Tapi, kondisi mental mereka terguncang. Ketiganya juga diduga mengalami apa yang disebut sebagai sindrom Stockholm. Dicetuskan kali pertama oleh kriminolog Nils Bejerot, sindrom Stockholm adalah kondisi ketika korban penculikan atau penyekapan menjalin hubungan emosional dengan si penculik atau penyekap. Jalinan itu terbangun karena lama dan intensnya waktu yang dihabiskan kedua pihak secara bersama-sama. 

Dalam kasus di Bululawang tersebut, ketiga bocah menangis saat sang ibu diamankan tim gabungan. Alikah sempat dibawa ke poskesdes dulu untuk disuntik penenang. Baru kemudian dirujuk ke RSJ Lawang. ”Hasil pemeriksaan dokter RSJ Lawang, Alikah memang positif mengalami gangguan kejiwaan. Sekarang dia dirawat di sana,” kata Iptu Ronny.

Berdasar penuturan KN, ZS, dan DNZ, ketiganya tidak pernah mengalami siksaan fisik dari sang ibu. Hanya tidak diperbolehkan keluar rumah. Selama kurun waktu tersebut, Alikah justru mengajari anak-anaknya ilmu agama. Setiap hari KN, ZS, dan DNZ diajari mengaji. Setiap malam mereka juga diminta membaca surah Yasin. ”Mereka semua hafal surat Yasin. Bahkan, yang besar sampai hafal satu juz Alquran karena setiap hari mereka diminta membaca dan menghafalkan Alquran,” terang Emi Lispartina.

Romli serta Malik, adik Alikah, juga membenarkan hal itu. ”Ketiganya ketika saya tanya juga mengatakan setiap hari harus mengaji. Alasan ibunya, karena ketika meninggal, yang dibawa adalah ilmu agama,” ujar Romli yang diamini Malik.

Romli maupun keluarga besar Alikah kini sama-sama merasa sangat lega karena horor yang dialami ketiga anaknya telah berakhir. Kelak, setelah semakin baik, mereka juga bisa bersekolah lagi.

Kepala Puskesmas Bululawang drg Bambang Pujaswendro juga meminta semua pihak tidak mengucilkan tiga anak itu. Jadi, ketiganya bisa hidup normal dan bermain dengan teman-teman sebaya. ”Biarkan mereka bermain. Jangan dikucilkan, apalagi diejek-ejek,” tuturnya. (*/abm/c9/ttg)

Berita Terkait