Tidak Ditemukan Produk Berbahaya Dijual Pedagang

Tidak Ditemukan Produk Berbahaya Dijual Pedagang

  Jumat, 1 July 2016 09:30
SIDAK: Tim gabungan dari beberapa instansi melakukan inspeksi mendadak (sidak) di beberapa pasar tradisional di Pontianak salah satunya di Pasar Puring, Kamis (30/6). Sidak ini dilakukan guna memastikan daging sapi dan ayam layak dijual serta dikonsumsi, karena menjelang hari lebaran penjualan daging sapi dan ayam meningkat dari hari biasa. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Menjelang Idulfitri, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Provinsi Kalimantan Barat menggelar inspeksi mendadak di pasar tradisional, Kamis (30/6).

Sidak yang dibantu kepolisian dan Satpol PP itu dimulai dari Pasar Puring Siantan, Pontianak Utara. Di sini petugas menemukan sosis asal Malaysia. Dari lokasi itu, petugas kembali melanjutkan pemeriksaan di dalam pasar. 

Setelah dipastikan tidak ada temuan, sidak dilanjutkan ke Pasar Kemuning, Kota Baru, Pontianak. Di sini petugas menemukan ayam yang kondisinya kurang baik lantaran tidak langsung dikeluarkan isi perutnya setelah dipotong. 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf memastikan tidak ada produk berbahaya yang dijual pedagang. Kendati demikian Manaf menuturkan pihaknya tetap mengambil beberapa sample daging yang dijual pedagang untuk dilakukan uji laboratorium. 

“Kami ambil sampel untuk dilakukan uji di kantor. Tetapi dari tes cepat yang kami lakukan tidak ditemukan apa-apa,” kata Manaf usai sidak di Pasar Kemuning. 

Menurut Manaf, temuan dari sidak itu hanya ayam yang kondisi kurang baik. Kondisi itu disebabkan ayam yang dipotong tidak langsung dikeluarkan isi perutnya. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan berbahaya saat dikonsumsi masyarakat. 

“Itu bukan ayam tiren, tapi prosesnya yang keliru. Setelah dipotong dibiarkan begitu lama tanpa dikeluarkan isinya. Daging bisa tercemar kuman karena di usus itu banyak kuman. Jika dibiarkan bisa berbahaya. Pertama enzimnya bereaksi dan kuman akan bergerak. Meskipun kumannya mati saat dimasak tapi toksinnya tetap ada. Itulah yang bisa menyebabkan keracunan massal,” paparnya. 

Dia  mengharapkan pedagang juga ikut menjelaskan ke masyarakat mana daging yang layak di konsums dan yang tidak. Dari razia itupun, Manaf memastikan tingkat kesadaran masyarakat di pasar tradisional sudah semakin membaik. 

Kondisi seperti itu, jelas dia, menggambarkan apa yang dilakukan pemerintah sudah menunjukkan hasil yang baik. Dia pun berharap Pemerintah Kota melaui  dinas terkait bisa melanjutkan pembinaan kepada pedagang. 

Dari sidak itupun, Manaf memastikan harga daging ayam dan sapi masih stabil. Tidak ada perubahan harga yang signifika, terkecuali untuk telur ayam. Tingginya harga telur dikarenakan kebutuhan masyarakat yang begitu tinggi. Ditambah lagi pasokan terganggu  lantaran cuaca buruk beberapa waktu lalu.

“Kenaikan ini wajar, karena masyarakat berlomba-lomba membeli telur,” ujar dia. 

Karena itu untuk mengantisipasinya pemerintah provinsi mendatangkan telur dari Kalimantan Selatan. Manaf menyebutkan jumlah telur yang didatangkan sekitar 60 ton. Jumlah persebarannya pun sudah ke beberapa kabupaten/kota.

“Dengan masuknya telur ini berpengaruh pada harga pasar. Jika tidak, harganya bisa mencapai Rp2.000,” pungkasnya. (mse) 

Berita Terkait